Dari Malioboro, Indonesia

Malioboro. Kawasan tempat orang berlalu lalang untuk belanja, jalan-jalan belanja dan jalan. Hidup yang indah dan diimpi-impikan oleh semua orang tentunya. Hanya berjalan-jalan dan berbelanja -apapun-

Tidak perlu memikirkan tingginya angka korupsi, teori-teori konspirasi dalam setiap media  ataupun perut-perut kecil yang mengais-ngais meminta makan. Hanya self amusment yang mejadi pusat perhatian.

“asal gue seneng, lu mau apa, ini hidup-hidup gue bukan urusan loh! Kan yang penting gue ndak merugikan orang lain…”

Kali itu malioboro yang sudah mulai terselimuti langit hitam dengan hiasan kerlip-kerlip bintang kecil masih saja riuh. Suara kendaraan-kendaraan yang antri hanya untuk merasakan aspalan jalan di ban mereka. Suara-suara klakson tak sabar yang saling berkomunikasi dalam nada tinggi. Kadang terdengar juga alunan musik musisi jalanan yang hendak menantang keriuhan namun apa daya hanya kilatan blitz kamera yang mereka dapat.

Bagi sebagian orang yang mengenal malioboro, sudah tidak asing jika melihat wajah malioboro sekarang  yang padat merayap. Paling-paling mereka hanya bergumam,

“Aduh ini udah kaya di Jakarta! MACET!!”

Lalu selesai.

***

1349013536252798883

Penjual sate di malioboro (dok. Arkanhendra)

“Sate dik?”

Suara seorang perempuan dengan nada rendah dari sudut bawah pandangan menarik perhatian. Di sana tampak seorang ibu paruh baya dengan berbaju ala kadarnya duduk sambil memegang sebuah tipas berwarna coklat kehitaman. Sudah sekian wajah melewati hanya untuk melirik lalu pergi.

Sempat terpikir untuk mengikuti arus kebanyakan, melirik sebentar lalu pergi. Paling tidak dengan sedikit senyuman serta gelengan.

“Pinten Bu?”

“10.000 saja dik 10 tusuk.”

“Setunggal mawon njih bu, satu porsi saja.” jawabku setelah si ibu tampak tidak familiar dengan bahasa jawa alus.

Sambil menunggu si ibu menyiapkan hidangan sate petang itu, aku mengambil tempat duduk tepat di sebelah si ibu penjual sate. Lalu kuamati beliau.

Perkiraanku si ibu berumur 50 an awal. Bukan berasal  dari tanah jawa tapi tidak terlalu jauh. Karena corak pakaian yang digunakan masih seirama. Sebuah baju kebaya usang dengan jarik sebagai bawahannya.

“Ibu dari mana?” tanyaku memastikan.

“Madura dik,”

Sebuah jawaban yang menjelaskan logat yang sangat kental dari para penghuni pulau di utara jawa bagian timur.

“Ini dik satenya,”

“Terima kasih bu,”

Bagi sebagian orang, rasa sate si ibu pastilah biasa. Bahkan mungkin ada yang berpikir tidak ada rasanya. Hanya tumpukan daging yang diberi bumbu lalu dibakar di atas api. Meski si ibu yang berasal asli dari madura tidak lantas membuatnya kebanjiran konsumen. Hanya orang-orang yang iseng dan aneh seperti saya -mungkin-

Setelah selesai menyantap sate si ibu yang kemudian saya tahu namanya bernama Ibu Lasbiah, saya mengulurkan selembar uang Rp. 10.000

“Ibu, boleh saya gambar?” tanyaku spontan.

“Buat apa dik?”

“Buat kenang-kenangan saja bu,” jawabku sambil tersenyum.

***

Beberapa berita menyatakan bahwa tingkat kemiskinan di indonesa telah berkurang. Bahkan seorang Christine Lagarde Direktur IMF, menyatakan kagum dengan kondisi perekonomian Indonesia.

“Wow! Bukankah itu berita baik?”

Tentu saja membaik, jika kini banyak mobil-mobil mewah berlalu lalang di jalanan kota. Bahkan sederet motor-motor berkelas pun sering nongkrong di sudut-sudut kota. Makin ramainya mall-mall dengan pengunjung dari semua usia dan daerah. Bahkan di beberapa SPBU antrian yang memanjang tidak hanya di dominasi kendaraan roda dua, tapi juga roda empat yang berpenumpang satu!

Ya, akhirnya Indonesia mencapai jaman kejayaannya. Di tengah kondisi krisis perekonomian luar negeri yang memburuk, kelompok ekonomi menengah keatas di Indonesia semakin meningkat. Sebagai negara pasar Indonesia mampu survive dari kepungan krisis ekonomi global. Tentunya kita harus berbangga hati karena mempunyai presiden yang kini bertahta.

Lalu bagaimana mungkin ada seorang ibu penjual sate yang masih harus membuka dagangannya dari jam 08.00 pagi sampai jam 20.00? Yang harus siap sedia diusir ketika kehadiran mereka dirasa mengganggu, hanya karena mereka ingin mencari rezeki yang halal? Adilkah para pengamat mengatakan Indonesia telah semakin maju ketika masih ada banyak PR yang belum terselesaikan?

Tenang sajalah, “asal gue seneng, lu mau apa, ini hidup-hidup gue, bukan urusan loh! Kan yang penting gue ndak merugikan orang lain…”

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: