Senja di Lempuyangan

Lempuyangan Yogyakarta.

Langit di atas Yogya sudah mulai memerah. Beberapa penjual makanan sudah mulai memanen dagangannya. Dari pasangan yang sedang dimabuk cinta, keluarga kecil bahagia, atau orang-orang yang hanya ingin melarikan diri dari kesibukan.

Semakin petang, suasana semakin semarak. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Pemandangan di sekitaran stasiun lempuyangan bagi sebagian orang mungkin merupakan hal yang aneh. Duduk-duduk bersama keluarga, teman atau sendiri di pinggir rel kereta api. Sambil memandang kereta yang hilir mudik seperti setlika. Mendengarkan bunyi sirine pertanda kereta yang berlalu lalang.

Secangkir kopi dan sebatang rokok menemaniku sore itu di pinggiran rel. Berbekal perasaan yang kacau dan tubuh yang letih setelah seharian bekerja. Aku duduk di bagian tepi bersandarkan tembok. Sambil menghela nafas yang bercampur asap rokok, kuamati setiap pengunjung taman dadakan di depanku.

“Pa, keletana mana? Kok ndak kelual-kelual?” tanya seorang anak batuta (bawah tujuh tahun) di depanku.

“Adek tunggu aja, nanti juga datang, itu es krimnya dimakan dulu sambil nunggu keretanya datang, ya?” jawab laki-laki di sebelahnya.

Tidak berapa lama, keretapun muncul dari arah seberang stasiun. Melihat bunyi sirine yang nyaring, wajah si anak tadi menjadi cerah.

“Papa, Papa, keletana Pa,!” seru si anak.

“Iya,”

Dan kereta pun datang diiringi suaranya yang khas. Sebentar, kemudian menghilang ke dalam stasiun.

Kereta, ada orang pernah bilang, kereta api adalah salah satu transportasi teraman diantara transportasi lainnya. Meski tidak sedikit pula berita-berita yang mengabarkan kecelakaan-kecelakaan yang dialami si ular besi ini. Sepertinya maut memang tidak pernah pusing memilih tempat dan waktu bagi ajal seseorang.

Kembali sambil menghela nafas yang bercampur asap rokok, kuamati setiap pengunjung taman dadakan di depanku.

Di ujung di sebelah kiriku duduk dengan santai sepasang kekasih yang sedang menikmati “kencan hemat” mereka. Mereka tampak tidak terganggu meski di belakang keduanya terdapat serombongan remaja yang bercengkerama sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata benar, ketika sedang bersama yang terkasih, dunia serasa milik berdua. Apalagi ditambah pemandangan senja yang kemerahan di langit barat. Menguatkan suasana romantis bagi keduanya. Bagi keduanya waktu serasa melambat, selambat matahari yang dengan anggun turun ke batas cakrawala.

13390796101514573267

Public Area near Lempuyangan rail Station (sketch. Arkanhendra)

Tepat ketika sinar kemerahan terakhir lenyap, sepertinya berakhir pula momen kemesraan bagi kedua pasangan itu. Mereka pun beranjak pulang. Sedang si anak yang selalu memanggil-manggil papa dan mamanya sudah tidak tampak batang hidungnya.

Sedang aku masih di tempat yang sama ditemani secangkir kopi, beberapa batang tembakau yang baru saja  kubeli. Menikmati wajah sang malam, yang perlahan-lahan melenyapkan segala kepenatan.

Seize the day, refresh our mind.

Sebuah paket hemat dalam menyegarkan pikiran.

Arkanhendra.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: