Village Landscape

Langit yang biru menawan di atas. Di bawah, warna coklat dan hijau silih berganti dengan sedikit biru jernih menyegarkan menyela. Udara yang tak terkontaminasi memenuhi tenggorakan setiap manusia di dalamnya. Tak perlu membayar atau memberikan upeti sebagai gantinya. Sebuah landscape pedesaan kembali tergambar dengan jelas dan terang. Tak terbayangi dengan awan kelabu atau mendung yang kelam. Suasana yang cerah dari matari yang bersinar lantang di kejauhan. 

Pada perjalanan yang lalu, dengan mengambil rute Baron ke arah Barat menuju Ngobaran, pemandangan seperti ini terlihat mendominasi. Meski hanya sedikit sungai-sungai yang tampak, tapi tidak menggambarkan suasana gersang. Hanya karena tak terlihat bukan berarti tak ada. Mungkin di bawah setiap jalan setapak yang kami lalui mengalir sungai bawah tanah yang jernih. Dengan akar-akar tumbuhan saja yang mampu meraihnya. Seperti takut akan eksploitasi berlebihan, dia bersembunyi.

Jika anda jenuh dengan suasana kota yang penuh dengan hiruk pikuknya. Berjalan di pinggiran sawah yang menguning, menghirup udara perbukitan yang menyejukkan, akan menjadi terapi yang paling murah! Ya, karena mereka tak meminta sepeser pun untuk apa yang telah mereka berikan. Sebuah contoh keikhlasan yang tak bersyarat. Jikapun ada penarikan, pastilah hanya dari segelintir manusia yang dipenuhi keinginan hidup selangit. Keinginan tak berbatas akan dunia yang terbatas.

Perbedaan manusia pedesaan dan perkotaan memang tidak bisa diambil garis pembeda yang tegas. Tak selalu manusia desa bersikap rendah ataupun sebaliknya. Karena manusia dengan segala sikapnya dibentuk oleh lingkungan tempat mereka tinggal. Ada beberapa manusia desa yang bahkan tingkat pamrihnya melebihi manusia kota. Begitu juga sebaliknya, manusia kota yang rendah hati layaknya hidup dalam keserasian alam. Akan tetapi kami cukup bersyukur orang-orang yang kami temui dalam perjalanan lalu adalah sesungguhnya manusia desa yang dibentuk oleh alam yang masih perawan. Memberi tanpa imbalan dan senyum yang jarang terlihat karam.

Arkanhendra

Village landscape (Dok. Arkanhendra)

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: