Tentang Meraba Indonesia dan Indonesia.

Hujan yang terus mendera kota Yogya seperti juga kota lainnya, membuat saya tidak bisa pergi kemana-mana. Tidak bisa beraktifitas dengan nyaman dan tenang. Keadaan cuaca yang seperti ini otomatis membuat saya berkencan mesra dengan beberapa daftar list buku yang saya baca. Salah satunya adalah “Meraba Indonesia” karya Achmad Yusuf dan Farid Ghaban. 

Cover Meraba Indonesia (Dok. Goodreads.com)

Buku ini bukanlah buku baru. Dan -mungkin- tidak seterkenal Laskar Pelangi atau Gurita dari Cikeas. Di lingkungan sekitar saya pun tidak banyak yang mengetahui perihal buku ini. Well, di sini anda bisa salahkan saya karena menanyakan cara membuat kue kepada seorang tukang jagal. Meski mungkin statement tersebut terlalu dini untuk diungkapkan. Mengingat di sampul depan buku tersebut terdapat testimoni dari seorang Andy F, Noya host sebuah acara di salah satu stasiun tv nasional. “Buku ini seperti sambal, pedas tapi bikin ketagihan.” isi testimoni tersebut.

Meraba Indonesia (MI) adalah sebuah cerita atau catatan perjalanan yang dikemas dengan sangat apik hingga saya merasa membaca sebuah novel percintaan yang tragis. Kenapa novel? Karena gaya bahasa yang seakan si penulis bercerita langsung kepada kita. Percintaan? Cinta adalah universal, tidak selamanya sebuah tulisan tentang cinta identik dengan sepasang kekasih yang -secara holywood- bertemu tanpa disengaja. Lalu mengalami konflik yang menguji cinta mereka. Dan berakhir bahagia atau sedih sekalipun. Sedang sisi tragis? Adalah perasaan menyedihkan yang timbul atas tulisan-tulisan yang saya baca.

Bagi beberapa orang yang mengetahui, buku ini mengisahkan perjalanan 2 orang (Achmad Yusuf dan Farid Ghaban) mengelilingi indonesia. Ditemani oleh sebuah motor win 100 yang dimodif, mereka berkunjung ke daerah-daerah di seluruh indonesia. Menjejak ke tempat-tempat yang selama ini jarang terekspose, merekam setiap kejadian dan lalu menuliskannya pada sebuah buku. Seakan menunjukkan besar kecintaan mereka pada Indonesia melalui cara mereka sendiri. Dengan berkeliling nusantara, mereka berusaha mengenal lebih dekat wajah indonesia yang jarang ditampilkan di media nasional tanpa dramatisasi ala sinetron. Yang akhir-akhir ini sibuk menayangkan sekuel-sekuel atau episode-episode dari sebuah panggung sandiwara.

Buku ini jika bagi sebagian orang menjadi buku yang inspiratif dan menarik untuk dibaca, menjadi hal yang sedikit aneh bagi saya. Karena perasaan yang timbul setelah membaca buku ini membuat saya berharap, “Semoga Achmad Yusuf dan Fardi Ghaban sebenarnya membuat sebuah buku fiksi!” Buku yang tidak nyata dan sangat imajinatif. Seperti dongeng Peter Pan dan Bajak laut yang jahat, Cinderella atau Putri Salju. Yang bercerita tentang potret kecantikan daerah-daerah di bagian terluar Indonesia, sampai para “bajak laut” yang ternyata memang ada juga di Indonesia.

Dari buku ini saya merasa Indonesia adalah negara yang dianugrahi kutukan atas kecantikan alam yang memesona. Seperti cinderella dan putri salju. Cinderella yang meski pada akhirnya hidup bahagia harus menanggung derita dari siksaan para saudara tirinya. Putri salju harus rela mati suri karena racun sebelum akhirnya bangkit dari tidurnya atas pertolongan sang pangeran. Atau kisah Helen seorang wanita jelita dari Sparta yang membawa kutukannya atas Troy. Sehingga membuat kota tersebut hancur lebur oleh serangan tentara-tentara Yunani.

Begitu juga Indonesia. Keelokan zamrud khatulistiwa yang mendatangkan nikmat bagi segelintir orang. Dan berimbas kesengsaraan bagi sebagian yang lainnya. Kawasan hutan hujan tropis dengan sekian banyak endemik, namun diambang kepunahan. Begitu juga potensi alam yang tidak berbanding lurus dengan kemakmuran masyarakat lokal.

Di saat setiap orang teralihkan dengan cerita sinetron yang mengharu biru. Debat-debat kusir dengan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti. Ajang pencarian bakat bergengsi yang menawarkan kemakmuran dan kesejahteraan. Persiapan-persiapan para aktor elite menyongsong 2014. Sampai kisah tentang Rok Mini. Kisah-kisah dari daerah seberang sedikit banyak terlupakan.

Saya tidak tahu kunci sukses, tetapi kunci kegagalan adalah mencoba menyenangkan setiap orang. (Bill Cosby)

Indonesia (Dok. lppkb.wordpress.com)

Membuat seluruh rakyat indonesia senang pastinya hal yang sulit. Membuat seluruhnya makmur dan nyaman apalagi. Tapi jika setiap individu berusaha berbagi dengan membantu sesama, meski hanya satu orang saja. Maka hal yang sebelumnya sulit dan berat akan terasa lebih ringan. Karena setiap individu saling membantu individu lainnya. Berkerja bersama-sama dan sama-sama bekerja.

Bukankah kita sepakat akan Bhineka Tunggal Ika?

Arkanhendra

  1. Astaga, bahkan saya sampe lupa kalau belum menyelesaikan membaca “Meraba Indonesia” & menonton videonya, buku ini sudah berselimut debu di salah satu sudut rak🙂

  2. aku pinjem videonya atau datanya saja yaa…. *merayu*😛

  3. aku yo duwe…. #pamer

  4. wkwkwkwk woke!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: