Jejak Timang-Sundak III -end-

Semburat sinar merah di batas khatulistiwa terlihat kontras dengan langit diatasnya yang menggelap. Sedang pantulan serupa diperlihatkan oleh sang samudra. Waktu menunjukkan pukul 05.44 PM. Segala hal telah disiapkan untuk menyambut gelap dan dinginnya malam. Meski api unggun belum kunjung menyala, namun lampu badai yang dibawa seorang kawan sudah cukup menjadi pelita kami waktu itu. Sambil tetap berdoa agar kayu-kayu basah telah mulai kering dan dapat sedikit digunakan untuk menghangatkan tubuh.

Rupanya malam itu alam sedang berbaik hati dengan kami. Karena sesaat setelah gerimis turun, langit mulai cerah dengan banyaknya bintang yang menari-nari riang. Sempat terlihat juga beberapa bintang jatuh. Kata orang ketika melihat bintang jatuh dan kita memohon sesuatu maka dengan ijin-Nya permohonan kita akan terkabul. Tidak banyak permohonan bagi kami yang beruntung melihatnya. Kecuali kami dapat menyelesaikan perjalanan kami tanpa kurang satu apapun. Hingga dapat pulang ke rumah dalam keadaan sehat.

***

Keesokan harinya, pagi yang cerah membangunkan kami dengan sinarnya yang hangat. Membuat tubuh kami yang meski masih pegal segera beranjak dari alam mimpi. Kami memutuskan untuk tidak berlama-lama bersantai. Perjalanan yang masih relative jauh menjadi alasan kami untuk bergegas berangkat.

Setelah selesai bersiap-siap dan membereskan perlengkapan,sekitar pukul 08.20 AM kami berangkat. Dan perjalanan kami pun berlanjut. Kembali pemandangan yang serupa dengan yang kami temui pada hari sebelumnya memanjakan mata. Jajaran perbukitan yang diselingi pantai-pantai tak bernama menjadi menu perjalanan hari itu.

Pada perjalanan hari kedua ini sempat terjadi hal yang tak diinginkan setiap petualang manapun. Ya, kami tersesat. Teringat kata-kata seorang kawan, “Tuhan bersama orang-orang yang berani!” sedikit menenangkan hati. Beruntung, kami bertemu oleh beberapa warga setempat yang sedang beraktifitas. Seperti seorang bapak yang sedang mencari rumput, nelayan yang hendak berangkat ke pantai dan beberapa orang yang hendak memancing ikan di pesisir.

Mendekati tengah hari matahari pun mulai bersinar dengan garang. Rasa lelah yang belum sepenuhnya hilang meski sudah beristirahat semalam tidak menjadi jaminan. Siang ini di bawah matahari khatulistiwa kami merasa perjalanan bertambah semakin berat. Jika sebelumnya kami berjalan lalu beristirahat sejenak, kini kami berjalan sejenak lalu beristirahat. Tidak memaksakan diri menjadi pilihan kami waktu itu. Sambil terus berjalan dan berjalan.

Harapan agar segera sampai di pantai seruni memenuhi pikiran kami. Karena, selepas pantai seruni jalur yang akan kami lewati cenderung mudah. Karena kami hanya tinggal berjalan menyusuri pinggir pantai. Tidak seperti sebelumnya ketika kami harus mendaki bukit lalu menuruninya secara berulang-ulang.

Memang, meski jalur terberat sudah terlewati. Tapi untuk sampai ke pantai Sundak juga bukan perjalanan yang singkat. Kalau tidak salah kami harus melewati sekitar 6-7 pantai untuk sampai kesana. Dengan rentang waktu maksimal 3 jam kami sudah harus sampai ke Sundak. Karena bus jalur wonosari-jogja terakhir akan berangkat pukul 05.00 PM.

Perjalanan menuju sundak terasa semakin berat. Selain karena otot-otot kaki yang mulai pegal dan kaku, perutpun sudah sering terdengar menyuarakan protesnya. Hanya sayang, kami baru dapat mengisinya nanti sesampainya di Sundak.

Setelah hampir 2,5 jam berjalan kami tiba juga di pantai Sundak. Di sundak kami tidak hanya beristirahat dan mengisi perut. Kondisi badan yang bau dan dipenuhi keringat membuat kami harus mandi agar lebih segar. Kemudian baru mencari kendaraan untuk dapat kami tumpangi menuju terminal wonosari.

Dari informasi beberapa warga yang kebetulan berada di warung tempat kami makan, ternyata ada sebuah mobil angkutan barang yang dapat kami tumpangi menuju terminal wonosari. Setelah sekitar satu jam, kami akhirnya sampai di terminal wonosari. Sambil mengucap terima kasih dan memberi uang seikhlasnya –sekedar untuk pengganti bensin- kami beranjak ke terminal wonosari, untuk pulang ke jogja dengan sebuah bus terakhir di hari itu.

Ingin rasanya kembali berpetualang lagi. Menjelajah daerah-daerah yang selama ini tak terjamah. Menembus belukar, melalui kawasan hutan yang luas, barisan perbukitan yang bergelombang, pantai-pantai tak bertuan yang masih perawan. Namun tidak sekarang, besok atau lusa. Karena kami harus beristirahat sambil menceritakan tentang keindahan mereka, bukit, gunung, pantai dan tebing-tebing itu. Mungkin di lain kesempatan kami akan dapat kembali kesana.

Arkanhendra

Pulang, Seruni-Sundak (Dok. Sapusothil Adventure)

Mari berpetualang! (Dok.Sapusothil Adventure)

    • Hawa
    • March 3rd, 2012

    test aja dulu🙂 cakep🙂

  1. matur nuwun mbk atau ms hawa njih ?? *bingung*🙂 @Hawa

  2. Seruni itu pantai canting kan, mas?🙂

  3. bukan yg pantai canting itu Ngetun :)) @sash

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: