Pemujaan Anggraeni.

***

halaman candi (dok. pribadi)

Pagi itu suasana candi masih berkabut. Angin bertiup lebih kencang daripada biasanya. Tidak terdengar suara lain selain gesekan daun dan ranting dari pohon-pohon disekitar. Tetes embun beramai-ramai turun karena goyangan sang bayu. Membuat lantai candi basah seperti habis diguyur air hujan.

Dinginnya lantai yang lembab dan basah itu terasa beku menggigit kakiku. Meski begitu aku akan tetap berjalan menuju ke tempat pemujaan. Membersihkan sedikit lalu memanjatkan doa sejumpit. Bukan demi diriku, tapi demi orang terpenting dalam hidupku, Kangmas Ekalaya.

Hawa dingin mulai terasa mengganggu dan mengusik tubuhku. Beberapa dayang pun tampak menggigil pagi itu. Tapi mereka tetap diam tak bersuara mengikutiku. Hanya melalui tangannya yang gemetar dan gemeretak giginya saja mereka mengajukan protes.

“Emban, tinggalkan sesaji itu di depan, lalu tinggalkan aku sendiri disini,” Kataku singkat.

“Sendiko dawuh gusti putri,”

Dan setelah mereka pergi kumulai upacara pemujaanku, kepada sang hyang widhi. Demi keselamatan rajaku, suamiku, kekasihku, hidupku.

 ***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: