Balada Mantan Preman

Namaku Karto. Lebih dikenal dengan nama peyek. Aku tinggal di sebuah kamar kos dengan luas 2×3 meter. Meski harus mengantri ketika mandi bersama 10 orang lainnya, tapi tempat ini cukup baik. Paling tidak untuk menampung hidupku beberapa bulan ke depan. Dengan gelar napi di depan namaku, tidak banyak orang yang mau memberikan tempat. Apalagi napi yang pernah tersangkut segala kasus kriminal.

(gambar : thx to Mbah Google dan altahira.wordpress.com/)

Malam ini seperti biasa, kuhabiskan sisa hariku untuk beristirahat dan sejenak merenung. Ditemani beberapa puntung rokok dan secangkir kopi pahit yang ku dapat setelah seharian memalak dan mencopet. Bukannya aku tidak mau mencari pekerjaan. Hanya saja tidak banyak yang mau menerimaku, apalagi setelah mereka tahu track recordku di dunia hitam.

Umurku sekarang tidak lagi muda. Bukansaja  karena bilangan tahun yang telah kulewati. Tapi juga karena banyaknya hal yang kutemui. Sejak kecil aku tidak pernah bermimpi sekalipun untuk menjadi diriku yang sekarang. Hidup terlunta-lunta, tidak punya saudara kecuali sepuntung rokok dan secangkir kopi yang setia menemaniku. Percaya atau tidak, waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Cita-cita kebanyakan anak di zamanku. Dokter, presiden, pilot dan guru. Entah kenapa jarang ada yang bercita-cita selain dari itu.

Ketika kecil aku memang lain dari anak-anak kebanyakan. Tubuhku yang relatif lebih besar dari anak-anak lain memungkinkanku untuk berbuat semauku. Apalagi kedua orang tua ku entah dimana dan sibuk apa, aku tak pernah tahu. Ketika di sekolah, aku menjadi anak yang paling disegani. Tidak ada yang berani melawanku, bahkan guru-guru disekolah pun dengan mudah memberikan cap, “anak nakal” atasku. Sekali pernah ada seorang guru yang meramal masa depanku. Meski tidak disengaja, dia pernah berkata,

“Alah, cah dadi bocah ko mbelinge ora umum. Sesuk arep dadi opo kowe? Ben dino gawe perkoro terus! Arep dadi preman po?” 

Bahkan guru-guru lainnya pun ikut-ikutan mencapku sebagai anak yang nakal. Tanpa sedikitpun mereka bertanya kenapa aku melakukan semua itu.

Di waktu lain pernah ku dengar dengan tidak sengaja curhatan seorang guru. Dia berkata bahwa semua guru sudah lepas tangan. Meski yang mereka lakukan hanya ikut-ikutan memarahi dan menghukum atas kesalahanku. Ada juga yang berkata bahwa sebaiknya aku dikeluarkan dari sekolah. Ternyata melepas suatu tanggung jawab kadang lebih mudah daripada menerima dengan ikhlas dan tetap memperjuangkannya.

Meski begitu, aku tidak dapat menyalahkan mereka. Karena guru seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Mungkin gaji mereka terlalu kecil untuk menyerahkan segenap jiwa raga, waktu dan tenaga untuk mengarahkanku. Paling tidak agar menjadi orang yang lebih baik.

Seandainya waktu dapat ku putar, seperti kata para pujangga. Aku ingin menebus setiap kesalahanku dan kekhilafanku dulu. Hmm, sebuah permohonan yang sangat tidak masuk akal.

Aku hanyalah apa yang mereka sebut sampah masyarakat. Dan namanya sampah, -meski banyak orang bilang dapat di daur ulang- tapi tidak yang kuhadapi  di kenyataan. Mungkin hanya tempat sampah saja yang mau menerimaku.

Sepertinya ada baiknya juga aku kembali menjadi sampah. Daripada susah-susah didaurulang hanya untuk menghasilkan predikat bekas sampah? Paling tidak meski sampah, aku tetap hidup. Toh manusia harus berjuang untuk hidup kan?[]

Arkanhendra

    • Anonymous
    • January 22nd, 2012

    sad story.. masi rajin nulis ya Ndra..🙂

  1. @Anonymous
    ia donk hehehe niki sinten njih?? kok anonymus??

  2. Kalimat terakhirnya sarat makna yak. Suka🙂

  3. heheh tq nova atas kunjungannya😀 @Nova

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: