Seorang Wanita Tua

Aku tidak tahu entah harus berkata apa. Marah? Mungkin. Kesal? Bisa jadi. Kurebahkan tubuhku seperti kata para ahli meditasi, hasilnya nol. Kupejamkan mata mengetuk pintu mimpi untuk sejenak melupakan dunia fana pun nihil.

Haruskah aku berteriak? Ataukah aku harus mengamuk sejadi-jadinya. Dulu mereka bilang padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dulu mereka bilang padaku bahwa mereka akan bersamaku menemani di saat-saat senja atau fajar.

Hidupku seperti terombang-ambing. Seperti kapal yang dulu pernah kulihat di waktu muda. Digoyang ombak ke kanan dan kiri, naik dan turun. Kadang terangkat dengan lembut sesaat kemudian dihempas dengan keras. Diperlakukan dengan tidak baik sudah kualami sepanjang hidupku. Diperlakukan dengan tidak adil sudah menjadi kebiasaanku. Umurku yang hanya beberapa tahun lebih tua dari umur replubik ini sudah mengajariku dengan baik kerasnya hidup.

Masih teringat dengan jelas betapa mereka, yang kala itu kupanggil anak-anakku selalu mengharap kepulanganku. Menunggu oleh-oleh hasil dari jerih payahku seharian. Menunggu hadiah-hadiah yang kubelikan ketika rejeki sedang berbaik hati mau mampir.

Kadang ingin sekali aku dijemput oleh sang ajal. Agar bisa terbang bebas kemanapun aku suka. Tidak perlu memikirkan apapun, atau melakukan apapun. Hanya terbang dan bebas, seperti burung.

Berat rasanya memikul semua ini. Ketika mereka yang dulu mengagung-agungkan aku kini telah lupa. Aku yang dulu mereka puja dan harap kini dicampakkan!

Nah itu dia mereka datang. Kesialan apa lagi yang akan mereka timpakan padaku yang sudah tinggal sejengkal menuju tidur yang panjang.

“Sore ibu, bagaimana kabar ibu sekarang?” kata si mbarep.

Aku hanya diam.

“Ibu ini aku bu, Yanti putri ibu. Ibu masih ingat padaku?” katanya sambil meneteskan air mata.

Aku hanya diam. Tak tertipu oleh airmata buayanya.

“Lungo! Lungo kowe soko kene!” kataku keras sesaat berikutnya.

***

1326720422622821984

Dementia (taken from : http://livingwellalah.com)

Sambil terisak, seorang wanita berjalan menjauh dari sebuah kamar bernomor 10. Dihampiri dokter dan perawat yang sedang berjaga di belakangnya.

“Dok, apa ibu saya akan bisa sembuh?” katanya sambil terisak.

“Maaf  Bu Yanti. Eyang Hasyim mengalami gangguan psikiatrik. Hal ini wajar dialami para manula, apalagi di usia Eyang Hasyim yang menginjak 86 tahun.” kata dokter muda di depannya.

“Lalu apa yang bisa kami lakukan Dok?” kata laki-laki dengan cincin serupa di jari manis Bu Yanti.

“Kita hanya bisa bersabar dan berharap yang terbaik.”

Arkanhendra

  1. Eyang Hasyim? jadi Mas Hasyim dah mbah mbah?😀

  2. haha itu cuman nama rekaan jeng:mrgreen: @Su12in

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: