Catatan Harian Seorang Gondhes

Gondhes, alias Gondrong desa. Sebutan bagi mereka-mereka yang menjadi biang keributan di wilayah pedesaan yang tentram dan tenang. Banyak orang menyebut mereka sebagai preman junior strata desa. Atau kalau kata seorang MC dari sebuah stasiun TV nasional, Preman Ndeso. Berikut salah satu catatan harian dari seorang Gondhes di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota dan arus modernisasi. Selamat menikmati.

***

Namaku Joko, tapi orang lebih sering memanggilku Jack-O. Dengan pengucapan seperti para orang afro kepada sesamanya di negeri paman sam. Beraksesoriskan tato made in piyambak yang bergambar seorang wanita cantik lengkap dengan tulisan “Cintaku untuk dirimu sayang…”  Aku dikenal sebagai gondhes ternama di desa.

Kegiatanku sehari-hari tidak lepas dari apa yang orang sebut biang keributan. Setiap ada permasalahan pasti akulah yang ditunjuk sebagai moderatornya. Sampai-sampai ketika tidak ada masalah pun aku diundang menjadi bintang tamu.

Pernah suatu kali, seorang dari kelurahan datang ke rumahku dengan segepok uang sepuluh ribuan berwarna merah. Orang kelurahan itu memintaku untuk memukuli seorang anggota perangkat desa lain yang masih satu kantor dengannya. Ketika aku bertanya alasannya, orang itu hanya berkata,

“Wes kamu ndak usah pusing, yang penting mbok urus nanti tak kasih bonus lagi, ngerti?” 

Singkat cerita akhirnya teman kerjanya itu berhasil dengan sukses kehilangan beberapa gigi dan  harga dirinya. Biru-biru dan lebam di wajahnya mungkin akan hilang seiring dengan waktu, tetapi rasa malu karena kutelanjangi dan kutinggal di jalan di pinggiran desa akan menjadi anugrah terindah baginya. Layaknya lagu mas Duta sheila on 7 ketika masih berformasi lengkap.

Benar apa yang dikatakan orang yang datang kerumahku. Setelah mendapat kabar bahwa target telah berhasil diberi ‘pelajaran’ aku mendapat bonus yang dijanjikan. Yang akhirnya habis di tangan para wanita genit dengan pakaian yang serba sempit menjepit.

Masyarakat desa sebenarnya sudah muak dengan ulahku. Apalagi setelah kejadian pemberian ‘pelajaran’ waktu itu. Tapi apa mau di kata, aku memang gondhes bukan sembarang gondhes. Aku bukan gondhes biasa, karena aku gondhes berkalung kelewang. Apalagi ditambah dengan nama besar bapakku yang seorang tokoh masyarakat membuat mereka enggan berurusan panjang denganku. Cukup pendek,  sependek nyali mereka.

Mungkin aku harus berterima kasih pada para penjajah dari eropa yang menyempatkan diri untuk berkunjung ke desaku. Karena hingga sekarang, mental para masyarakat di desaku masih seperti orang yang terjajah, meski katanya sudah merdeka berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Salah satu contoh kejadian lain yaitu ketika pernah aku menggoda seorang perawan di desaku. Waktu itu aku yang sedang berpesta ria dengan beberapa teman-teman sesama gondhesku dikejutkan oleh kedatangan seorang perawan cantik. Kejadian itu terjadi beberapa bulan yang lalu di sebuah warung di pinggir kantor Pak Mantri.

Nama perawan yang sedang ranum-ranumnya itu Bunga. Mirip dengan nama para gadis yang menjadi korban pelecehan seksual yang sering tampil di berita-berita kriminal. Siang itu Bunga diutus oleh ibunya membeli makanan di warung. Sepertinya dia melupakan satu hal yang penting ketika memutuskan untuk pergi ke warung. Karena ketika siang hari itu, seperti biasa aku dan gerombolan gondhesku sedang asyik berkongkow ria.

Mungkin ini pesan dari Jack-O untuk kalian para gadis. Selalulah ingat pesan orang tua untuk pandai-pandai menjaga diri. Waspadalah, waspadalah!

Siang itu Bunga datang mengenakan baju yang memikat dan menggoda ala artis-artis dari negeri gingseng. Meski tidak memiliki kulit seindah artis-artis itu, tapi tetap saja penampilannya yang mungkin baginya gaul itu telah menarik perhatianku. Apalagi ketika melihat baju atasannya yang seperti singlet yang lebih dikenal dengan nama tang top atau kaos You Can See, entah apa maksudnya.

Tepat ketika Bunga datang dengan rasa PD yang tinggi karena keinginan untuk tampil bedanya terpenuhi, kami mulai memasang ranjau-ranjau pemikat. Mulai dari menatap dengan penuh kekaguman sampai ke siulan tanda telah terpikatnya kami oleh aura inner beauty-nya.

Akhirnya kami memutuskan untuk mulai berani menggoda dan mencolek si Bunga. Sambil mendekati dengan rayuan-rayuan gombal dari mulut kami yang kotor. Maklum sekolah kami tidak cukup tinggi untuk mengenal selain baca dan tulis.

Pada awalnya Bunga tak bergeming dan memberikan kesan jaim atau jual mahal ala artis ibukota. Namun ketika salah seorang temanku memberanikan diri untuk mendekatinya dari belakang dan melingkarkan tangannya ke bahu si Bunga, mulailah keluar sumpah serapah tentang hinaan dan cacian darinya.

Dasar gondhes, harga diri tentulah yang utama. Maka dari itu, ketika dicaci dan dihina oleh seorang perempuan naiklah tensi temanku sampai membuat Bunga pulang sambil terisak-isak.

Rupanya temanku yang memang sedang terpengaruh alkohol itu entah sadar atau tidak melakukan perbuatan yang bagi sebagian orang keterlaluan. Tapi tidak bagi kami, para gondhes yang hanya tahu melakukan apa yang kami inginkan dan memberi ‘pelajaran’ bagi orang yang membuat kami tersinggung.

Dan seperti biasa tidak ada dari para warga desa lain yang ketika itu ada di warung membela si Bunga. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menggerutu. Tanpa berani menegur atau setidaknya mengingatkan tentang apa-apa yang kami lakukan. Ternyata para warga itu masih setia dan loyal mempertahankan budaya bangsa terjajah nenek moyang. Jadi, beruntunglah kami para gondhes-gondhes ini. []

Arkanhendra

  1. gondhes… gondhes…

  2. ehehehehe ….😀 @Aziz Safa

  3. Oalaah, maap, mbaca “gondhes” saya jadi teringat teman saya SMA.😳
    Cowok, anak Surabaya asli, panggilannya Gondhes. Entah kenapa sejak SMP dia dipanggil Gondhes. Padahal anaknya gak gondrong, agak nakal, tapi pinternya minta ampun. Gak di SMP gak di SMA selalu rangking 1 kalo gak 2. Akhirnya dia masuk Kedokteran Unair.😆 Sekarang dia kalo gak salah ngambil spesialis deh…. lupa…😀

  4. wah itu gondhes versi lain mas sepertinya🙂 karena di lingkungan saya gondhes ya kebanyakan menjadi nama panggilan untuk org2 yg agak ‘lain’ suwun atensinya @Asop

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: