Jebakan-jebakan ketidakwajaran di Biennale XI

Anda tahu layar tancap? Proses pemutaran film secara independen yang dilakukan dengan berkeliling dari desa ke desa.  Sebuah model pemutaran film yang mengambil tempat terbuka sebagai venue nya ini memang digemari oleh masyarakat menengah ke bawah. Selain karena murah, mereka juga tidak perlu pergi terlalu jauh untuk dapat menikmatinya.

Pada kisaran tahun 90-an di beberapa kampung di Yogyakarta masih sering diputar layar tancap. Meskipun, film-film yang diputar masih berkisar pada film humor seperti Warkop DKI, dan film silat seperti Tutur Tinular atau Brama Kumbara. Memang, pernah juga sebuah film perjuangan seperti Jaka Sembung, Si Pitung, Cut Nyak Dien diputar. Namun bisa dipastikan hanya sedikit pengunjung yang datang.

Beberapa waktu lalu ketika menyatroni salah satu pameran Biennale di TBY, saya menemui konsep layar tancap ini kembali. Meski dengan keadaan yang berbeda dan mutu yang berbeda. 

Mengambil tempat di sisi paling barat bangunan, tepatnya di bagian tengah terdapat sebuah gerobak yang menarik perhatianku. Sekilas pandang gerobak tersebut tak ubahnya seperti gerobak kebanyakan. Memiliki 2 roda lengkap dengan sepasang penumpu. Tutup gerobak berbentuk prisma dan normal, ditambah bentuk balok badan gerobak memang memberikan kesan sangat wajar.

“Ah, kalau ini gerobak karya seni siapa, ya? Kok bisa dipajang di Biennale? Apa dilihat dari bentuk pemasangan kayu dan catnya? Atau dari orang yang membuatnya? Jangan-jangan orang India yang berdagang angkringan di India sana? ,…” 

Begitu banyak pertanyaan yang hinggap di kepalaku setelah beberapa saat mengamati gerobak tersebut. Pikiran terbesar adalah mungkin gerobak ini disini karena yang membuat adalah seorang artis kenamaan. Namanya saja Biennale XI, anda tidak akan menemukan suatu ketidakwajaran yang tidak berarti apapun.

Mendadak teringat akan beberapa alas kaki yang tergeletak di pintu masuk TBY. Sebuah karya seni yang menjebak bagi sebagian orang yang kurang teliti dan kreatif.  Sempat terpikir bahwa di pameran Biennale kali ini setiap pengunjung diharapkan melepas alas kaki ketika akan masuk ruang pameran. Tidak mungkin? Mungkin saja.

Ketika hendak melepas alas kaki, aku merasa ada yang hal yang tidak beres. Beberapa panitia secara tidak sengaja melihat gerak-gerikku. Otomatis merekapun tersenyum simpul dan melirik ke arah kakiku. Seketika itu aku pun tersadar. Tepat saat melihat pengunjung-pengunjung lain yang masih tampak lengkap dengan atribut sepatu atau sandal di kaki mereka.

“Loh, ternyata boleh di pakai to?” pikirku.

Ya, seniman pembuatnya memang memiliki cara yang sedikit ‘lain’ untuk berkarya dan berkreasi. Dia adalah Wiyoga Muhardanto. Seorang seniman kelahiran jakarta pada tahun 1984 yang kini tinggal dan menetap di Bandung, the paris van java of Indonesia. 

Melalui karyanya Wiyoga menyelidiki hubungan antara persepsi seseorang atas ruang dan simbol visual yang menjadi kode pembacaan atasnya. Beberapa alas kaki yang dipertontonkan Wiyoga seolah-olah berkeinginan menantang para penikmatnya untuk sejenak berpikir dengan cara baru. Dengan penataan yang ala kadarnya  mengingatkan pengunjung pada fenomena yang selalu didapati di masjid. Meski itu mungkin hanya ‘jebakan’ visual saja.

Berdasar pengalaman ‘terjebak’ oleh karya Wiyoga itulah saya sangat berhati-hati mengamati sebuah gerobag yang tampak wajar tadi. Bukankah wajarnya, manusia tidak akan jatuh ke lubang yang sama? Dan sebuah gerobag tidak akan men‘jebak’ saya untuk keduakalinya.

Sampai sebuah suara terdengar. Suara motor yang menderu terdengar dari sekitaran gerobak.

“Permisi mas,” kata seorang panitia pria menegur sambil membungkukan badan.

“Oh, ya mas.” jawabku sambil berbalik arah hingga menghadap ke dinding. Yang kemudian membuatku sadar akan keunikan ‘gerobak’ tersebut.

Gerobak karya sekelompok seniman dan organisasi non profit dari Jakarta ini, memiliki viewer di bagian atas, tepat di bawah atapnya.  Agak tidak terlihat memang, jika anda hanya mengamati bagian badan dan kaki gerobag secara sekilas saja.

Gerobak yang dinamai “Gerobak Bioskop” ini merupakan proyek distribusi media independen. Hal yang mendasari dan menginspirasi terciptanya gerobag ini adalah memori layar tancap. Sebuah konsep pertunjukan film yang membentuk dan mengenalkan film secara sederhana dan merata di semua kalangan masyarakat. Sebuah konsep sederhana yang juga menjadi semacam interaksi sosial bagi masyarakat itu sendiri.

Sebuah konsep yang mulai pudar karena hadirnya bioskop indoor yang menampilkan kenyamanan lebih dalam menikmati film. Monopoli distribusi film yang diperparah menjamurnya  tv-tv swasta di Indonesia.  Sehingga dalam sekejap mata layar tancap menghilang dari peredaran, dari pasaran dan dari lingkungan!

Di dinding di hadapan gerobag terdapat beberapa gambar keterangan mengenai gerobak bioskop ini. Dari beberapa informasi di gambar,  ternyata gerobak ‘gaul’  ini sudah melanglang-buana hingga seantero nusantara. Tampak sebuah peta nusantara lengkap dengan gambar lokasi-lokasi yang pernah didatangi.

Selain menontonkan beberapa film  Gerobak Bioskop 68 ini juga bekerja sama dengan komunitas atau organisasi non profit yang ada di tempat tersebut. Hal ini tampak dari beberapa nama komunitas yang tertulis di dinding tersebut, baik sebagai pendukung atau suporter.

Ada juga beberapa foto yang memperlihatkan bentuk lain dari gerobak bioskop ini. Anda ingat penjual cilok atau batagor dan siomay yang menggunakan sepeda untuk berkeliling? Seperti itulah salah satu gambar gerobak bioskop lainnya.

Sangat merakyat dan kreatif bukan? []

Arkanhendra

  1. Harusnya sik, gerobak dilestarikan tapi tetep dengan modifikasi-pemberuan yak.

    Jadi kelihatan nyentrik dan nyeni.

  2. @Santy Novaria

    *Pembaharuan, maksudnya.

    Aduuhh.. malas banget udah komen panjang dan keren malah salah ketik.
    Ahahahaha

  3. betul skali santy….. tq ya kunjungannya😀 @Santy Novaria

    • Anonymous
    • January 8th, 2012

    gud job bul

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: