Menikmati Karya Visual di Biennale XI Jogja

Biennale XI Jogja. Acara tahunan yang menampilkan berbagai karya seni ini sudah hampir mendekati 1 bulan lamanya digelar. Dengan mengambil beberapa titik di sekitaran Jogja kita dapat menikmati hasil imajinasi dan kreasi para pelakon seni. Kalaupun masih tidak puas, anda dapat mengunjungi TBY (Taman Budaya Yogyakarta) dan JNM (Jogja National Museum) untuk melihat sekumpulan karya-karya yang lain. Mulai dari visual, audio atau gabungan keduanya.

Tertarik akan pameran seni -meski tidak mengerti sama sekali- membawa saya ke TBY pada suatu sore.  Beberapa teman yang akhirnya memutuskan tidak datang, tidak membuat saya membatalkan kunjungan saya yang kedua ini.

Ya, saya memang sempat pernah datang melihat-lihat sebelumnya. Namun, karena singkatnya kunjungan pertama sehingga tidak banyak waktu yang bisa saya habiskan ketika itu. Meski untuk mengamati atau paling tidak mencoba mengerti beberapa karya seni yang ada disana.

Pada gelaran acara tahun ini pihak panitia mengambil judul “Shadow lines perjumpaan India dan Indonesia”. Otomatis, wayang dan industri film menjadi dua hal yang terlintas di kepala saya ketika mendengar tag line ini.

Wayang. Kita tahu, banyak cerita wayang yang kini sering menjadi lakon beberapa dalang, mengambil atau berpatokan pada cerita kuno yang berasal dari negeri India. Lalu Industri Film? Ingatkah anda pada keluarga Punjabi yang menguasai perfilman Indonesia?  Bahkan pada buku panduan yang saya baca digelar sebuah acara yang berjudul “tak ada rotan akar punjabi”.

Salut saya untuk keluarga tersebut.

Hal pertama yang saya amati ketika memasuki bagian dalam gedung TBY adalah sebuah diorama bangunan megah seperti istana. Meski bercorak suram dengan warna hitam dan background dinding putih yang pucat. Kedua, berupa kumpulan karya fotografi. Dengan mengambil letak di bagian sisi dinding gedung, dipajang foto-foto wanita india dengan berbagai atribut ritual seperti pendeta. Meski menurut saya mereka lebih terlihat seperti dukun.

Gabungan dari 2 karya visual ini sempat membuat saya berimajinasi. Pada tahun 90-an ketika saya masih berada di bangku sekolah dasar. Waktu itu setiap siang sepulang sekolah ada sebuah stasiun televisi nasional yang sering memutar film-film india. Mulai dari yang bergenre action sampai misteri. Mulai dari yang tokoh utamanya Amitabhbaccan, Govinda, Sri Devi, Juhi Chawla, Raj Kapoor, Anil Kapoor sampai Sanjay Dutt.

Pernah sekali ada sebuah film yang bercerita tentang sebuah istana.  Istana tersebut dulunya ditinggali oleh seorang tuan tanah bernama Takur beserta keluarga besarnya.Tuan Takur ini hampir selalu digambarkan dengan sosok tinggi, berwajah tegas berhiaskan kumis hitam yang tebal.  Bersuara rendah penuh wibawa dengan potongan rambut klimis. Dan baju yang selalu bergaya aristokrat.

Singkat cerita, setelah Tuan Takur meninggal terjadi perebutan harta di antara keturunannya. Dan akhirnya film yang bersetting tahun 70-80 an itu ditutup dengan hantu istri tuan Takur yang membantu tokoh utama mengalahkan penjahat yang ingin menguasai seluruh harta peninggalan tuan Takur.

Nah,  foto-foto wanita india yang mirip dukun itu mengingatkan saya pada tokoh paranormal wanita di film tersebut. Yang dibayar oleh para penjahat untuk menyingkirkan hantu istri tuan Takur, meski akhirnya malah mati karena ulahnya sendiri.

Kembali ke miniatur bangunan istana tersebut.

Karya Arsitektur dari Andy Dewantoro ini merupakan sebuah seri landscape. Menurut buku panduan Biennale, karya ini merupakan usaha Andy untuk mencoba menggali sebuah kekosongan pada perkembangan seni rupa modern.

Hm, sulit dimengerti namun dapat dinikmati.” batin  saya.

Pada karya Abandoned  ini Andy mencoba menyajikan sebuah bangunan yang terbengkalai. Didukung permainan imej realistik dari ketepatan perhitungan skala, karya ini tampak betul-betul realis (nyata). Seperti sebuah istana besar yang terbengkalai yang tampak  pada sudut pandang dan jarak tertentu.

Mungkin imajinasi yang saya alami sewaktu melihat istana ini juga hasil dari usaha Andy untuk membawa para penikmatnya berkunjung sejenak  ke masa lalu. Masa yang mungkin terbengkalai dan terlupakan bagi sebagian orang. Sesuai dengan judulnya, You Were There. 

Beralih ke foto-foto wanita India yang berada di sisi dinding di sebelah kiri pintu masuk. Terhitung ada 11 foto perempuan dengan tatapan menantang para pengunjung. ke-11 karya ini adalah karya seorang seniman bernama Sheba Chhachhi. Seorang India kelahiran Ethiopia pada tahun 1958.

Menurut informasi dari buku panduan, ke-11 foto ini berusaha menunjukkan suatu gambaran yang berbeda dari sosok wanita india kebanyakan. Sosok berbeda yang juga saya tahu selama ini berkisar pada  kecantikan,  kepandaian menari, tubuh ideal dan keikhlasan dalam memperlihatkan pusarnya.

Semua pandangan saya itu tidak berlaku di hadapan foto-foto yang salah satunya berjudul JamunaGiri & friends, Ganga’s Daughter. Foto para wanita-wanita india yang melampaui batas. Bukan para istri, ibu atau anak kebanyakan. Melainkan perempuan atau wanita-wanita yang berani menemukan diri mereka dalam hubungan yang metafisis*.

Sesaat kembali teringat bayangan dukun wanita yang mati di tangan hantu istri Tuan Takur. Wanita berumur dengan lingkar mata hitam. Rambut yang berwarna hitam, kusam dan berantakan. Beberapa coretan warna putih tampak di wajahnya. Giginya yang mulai usang terlihat hilang di beberapa bagian. Sambil berkomat-kamit di depan sebuah tungku api, dan …

“Eh,  potoin gue di sini donk…” kata seorang cewek remaja yang datang rombongan bersama teman-temannya.

Lalu, tanpa permisi dan dengan percaya diri berlenggak-lenggok disamping salah satu foto karya Sheba tersebut. Betul-betul mengganggu kenikmatan berimajinasi.

Meski begitu, ada hal menarik ketika melihat para remaja itu berpose di hadapan kamera. Mungkin jika teman mereka itu sadar, hasil jepretan mereka dapat pula dipajang di Pameran Biennale ini. Sebuah foto yang menggambarkan perempuan india yang memilih berhubungan dengan Metafisis bersanding dengan perempuan indonesia yang  memilih berhubungan dengan Meganarsis.

Dengan judul karya, Ketika India bertemu dengan Indonesia Jilid ke sekian. []

Arkanhendra

Metafisis*, sebuah ilmu yang mencoba menjelaskan pertanyaan-pertanyaan seperti keberadaan Tuhan dan posisi manusia di alam semesta.

  1. akhirnya jadi juga hehehe

  2. nembe tak upload ki bar mumet gawe proposal :)) @rinatrilestari

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: