Malam Pembukaan FFD (2ed)

“Merekam yang tersisa, mencari yang tersembunyi, menemukan kearifan semesta”

Ada beberapa hal yang -dalam pandangan saya- menjadi pondasi berhasil digelarnya Festival Film Dokumenter ini sejak tahun 2002. Semangat berkarya, nilai gotong royong, dan harapan untuk terwujudnya kehidupan yang lebih baik.

-“Holopis Kuntul Baris”  Semangat gotong royong dan kebersamaan-

Acara yang digelar 2 hari lalu dimulai oleh munculnya dua gadis bernama Astrid dan Indah / Intan -saya tidak yakin karena terpesona oleh kucir ekor kuda rambutnya- yang bertugas membawakan acara.  Astrid bertubuh kecil dan bersuara renyah ala mc kawakan, sedang ‘si cantik berkucir ekor kuda’ -begitu saya memanggilnya-  berperawakan tinggi semampai dan berkulit putih.

Meski masih terlihat kaku pada awal mereka membuka acara, lambat laun kedua gadis ini mulai dapat beradaptasi di panggung. Mereka terlihat lebih rileks dan tidak terlalu tegang.  Setelah berceloteh sesaat tentang acara Festival Film Dokumenter, seorang lelaki dipanggil untuk memberikan kata sambutan mewakili panitia penyelenggara.

Lelaki ini berperawakan sedang, berkacamata dan memakai hem berwarna hitam. Dia terlihat grogi ketika mulai berbicara. Ternyata untuk naik ke panggung dan berkata-kata di depan orang banyak tidak semudah yang terlihat. Salut untuk Astrid dan si cantik berkucir ekor kuda.

Penampilan lelaki yang menjadi wakil dari pihak penyelenggara ini sekilas mirip dengan seorang artis. Dari perawakan, kacamata dan gaya rambutnya kita akan teringat  salah satu tokoh di film Catatan Akhir Sekolah yang diperankan Raymon Y Tungka, Agni. Sedang menurut teman saya lelaki tersebut lebih mirip dengan Ariel. Hmmm, okay… 

Setelah lelaki yang mirip Raymon dan/atau Ariel, kata sambutan berikutnya berasal dari seorang bule berperawakan tinggi. Dia adalah Mr. Jonathan Yendall, Konselor Politik dan Hubungan Masyarakat pada Kedubes Kanada untuk Indonesia. Pria yang berasal dari Ontario, Kanada ini malam itu mengenakan baju batik lengan panjang yang dipadu setelan celana kain.

Rupanya pria yang telah bertugas di Indonesia sejak Agustus 2011 ini sebelumnya sudah tidak asing dengan keadaan di wilayah Asia Tenggara.  Bahkan  dia menganggap negara-negara di Asia Tenggara sudah seperti rumah-nya yang kedua, terutama Indonesia. Jonathan yang juga pernah bertugas di Srilangka dan India ini merasa senang dan bangga telah diberi kehormatan untuk menghadiri dan membuka acara tersebut.

Acara pembukaan dibuka secara simbolis dengan memberikan sebuah layang-layang dari pihak penyelenggara kepada Mr Jonathan Yendall. Sayang, ketika Astrid menjelaskan alasan dipilihnya layang-layang, perhatian saya tertuju kepada kejadian lucu yang terjadi diatas panggung. Ketika prosesi penyerahan layang-layang kepada Mr Jonathan.

Beberapa saat kemudian lampu-lampu pun dimatikan. Dan praktis, suasana ala gelap bioskop pun semakin terasa. Malam itu dua buah film dokumenter telah disiapkan untuk menghibur para audiens. Sebuah film buatan luar negeri berjudul Syusya dan Indonesiaku di tepi batas buatan anak negeri.

Film pertama yang berjudul Syusya ini bercerita tentang seorang ayah dan anak yang melakukan napak tilas. Mereka berkunjung ke bekas tempat tinggalnya yang kini sudah menjadi objek wisata di wilayah negara Israel.  Diceritakan mereka mengenang kehidupan mereka dulu ketika tinggal disana. Dimana tempat mereka biasa berkumpul bersama keluarga, siapa tetangga-tetangga yang tinggal di dekatnya, sampai tempat untuk mereka tidur.

Tepat ketika mereka sedang asyik mengenang masa lalu, sebuah kendaraan patroli tentara datang memeriksa. Rupanya para tentara itu melarang mereka berada di wilayah tersebut meski, mereka sudah membeli karcis sebagai pengunjung. Dan para tentara bersikeras agar si bapak dan anak itu segera pergi.

Ketika mereka (si bapak dan anaknya) akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi, kendaraan yang berisi tentara itu tetap saja mengikuti mereka. Seolah-olah mereka wabah, penyakit, atau hewan  yang sangat berbahaya. Sehingga tidak ada secuil tempatpun untuk mereka. Mereka harus diusir sejauh-jauhnya. Rasis.

Film kedua yang diputar malam itu berjudul Indonesiaku Di Tepi Batas. Film ini menceritakan kehidupan para warga yang tinggal di wilayah perbatasan Indo-Malaysia. Tepatnya di dekat daerah sintang, Kalimantan Barat. Sebelah selatan garis perbatasan dengan negeri jiran.

Tidak hanya kehidupan sehari-hari yang diangkat, tapi juga masalah klasik yang mereka alami.  Seperti perasaan di anak-tirikan oleh pemerintah Indonesia, kurangnya akses informasi, kesehatan dan pendidikan. Singkatnya proses pembangunan yang tidak merata karena tidak merubah apa-apa.

Ada satu bagian di film itu yang sempat membuat saya tersenyum kecut. Ketika suara backsound Bapak Presiden kita, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono sedang berpidato tentang proses pembangunan wilayah perbatasan, tapi video yang ditampilkan sangatlah bertolak belakang.

Dengan kehidupan yang serba susah dan di bawah, sangatlah wajar ketika mereka nekad memutuskan pergi menyeberang ke negeri orang. Harus bertahan hidup menjadi alasan yang menguatkan mereka. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk tinggal, menikah dan menetap disana.

Memang bukan yang pertama kali melihat film seperti ini. Sebuah film dokumenter lain berjudul Cerita Dari Tapal Batas yang dibuat Keana Production, juga mengambil tema yang sama.

Dari kedua film tersebut dapat kita petik sebuah nilai penting yang rupanya kini sudah luntur. Suatu kata bernama, Nasionalisme.

Setelah film kedua selesai diputar, kembali band akustik dari Paksi ‘n friends tampil menghibur. Pada kesempatan ini mereka membawakan lagu berjudul Iris yang dipopulerkan oleh Goo Goo Dolls. Yang membuat kami tidak ikut latah untuk beranjak pergi seperti audiens lainnya. Apalagi ketika lagu berikutnya, I dont want miss a thing -Aerosmith. Sebuah lagu yang merupakan ost  film Armageddon yang dibintangi Bruce Willis, Ben Affleck, dan sederet artis Hollywood lainnya.

Ketika baranjak pulang, ada sedikit rasa bersalah yang timbul. Sempat saya mengira para audiens yang segera beranjak pergi sesaat film kedua usai, kurang menghargai Paksi ‘n friends yang sedang tampil.

Namun, pemandangan penuh kabut di ruangan luar membuat saya sadar. Bahwa rupanya hampir sebagian besar audiens sama seperti saya. Kami sudah tidak kuat menahan hasrat akan nikmatnya sepuntung tembakau linting. [end]

Arkanhendra

#FFD, Rock on ‘n SemangART!😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: