Seorang Pemuda di Perempatan jalan

Seorang pria bertubuh jangkung berjalan sembari tersenyum. Senyum termanis yang pernah dia berikan. Mengenakan kaos oblong dan bercelana tanggung dia berjalan di sebuah perempatan yang sibuk. Sibuk lalu lalang para pengendara motor yang tak terkendali jalan. Bukan salah si pembuat jalan yang membuat lebar jalan dengan space kurang lebih 10 meter. Dan bukan pula salah para pengendara itu bila mereka memiliki kendaraan pribadi.

Sehingga tak perlu menyalahkan siapapun.

Kembali ke pemuda bertubuh jangkung dengan senyum termanis yang dimilikinya. Sembari menyeka keringat dan peluh di wajahnya dia menghampir setiap dari pengendara. Dia ulurkan sebuah gulungan mirip perkamen kepada setiap orang yang berhenti, atas perintah si lampu merah.

“Maaf pak/bu, ini poster seminar dan diskusi.” katanya sambil mengulurkan gulungan perkamen berwarna coklat.

“…” jawab si pengendara dengan sebuah lirikan dan lambaian tangan.

“Maaf pak/bu, mas/mbak,  ini poster seminar dan diskusi.” katanya sambil mengulurkan gulungan perkamen berwarna coklat lagi.

“…” kembali jawab si pengendara lain dengan sebuah lirikan dan lambaian tangan.

Dan terus berulang-ulang. Mengulurkan dan ditolak, mengulurkan lagi dan ditolak lagi.

Meski mengalami penolakan demi penolakan, si pemuda bertubuh jangkung tidak mau menyerah.

“Ini sebuah tanggung jawab dan amanah.” hiburnya kepada diri sendiri didalam hati.

“Maaf pak/bu, mas/mbak,  ini poster seminar dan diskusi.” katanya lagi sambil mengulurkan gulungan perkamen berwarna coklat untuk kesekian kalinya.

“…” kembali jawab si pengendara lain tanpa sebuah lirikan kecuali lambaian tangan.

Waktu berlalu dan masih dia berdiri dengan bergulung-gulung poster yang tersisa. Sebuah poster berisi acara inspiratif yang digagas oleh sahabat-sahabatnya. Sebuah acara yang berawal dari ide untuk menyadarkan manusia Indonesia agar menjadi lebih baik. Dan untuk kesekian kalinya, penolakan dia terima.

Bukan penolakan yang membuat si pemuda tertegun. Bukan lirikan jengah yang membuat harga dirinya terusik. Hanya keprihatinan akan sikap para pengendara yang acuh tak acuh seperti melihat gelandangan saja yang membuatnya terdiam sesaat.

“Apakah sebegini lugunyakah bangsaku? Melihat segala sesuatu dari yang tampak oleh panca indra?” tanyanya dalam hati.

“Apakah aku harus memakai pakaian ala bos, atau ala pejabat yang sibuk berkampanye pada tahun 2014 nanti untuk sekedar menarik perhatian mereka? Atau bahkan aku harus mengikuti jejak para remaja tanggung bernyanyi secara keroyokan, meski tanpa bekal kemampuan yang mumpuni?” tanyanya lagi.

Ternyata benar adanya, bahwa setiap manusia menilai segala sesuatu dari lahiriah. Meski banyak orang bijak mengatakan ‘dont judgje a book by its cover…’ Namun setiap kata bijak hanya berlaku pada siapa yang mengucapkan dan bukan isi yang diutarakan.

Jadilah engkau seorang yang terkenal dan dikenal publik, maka perkataanmu akan diindahkan. Jadilah engkau manusia berperilaku halus dan priyayi untuk mendapat sambutan. Jadilah dirimu sosok yang rapi, klimis, memancarkan aura putih kaku meski hatimu kelam.

Jadilah dirimu serigala berbulu domba, agar mendapat mangsa.

Mungkin sudut pandang si pemuda tidak sepenuhnya benar. Namun untuk sepenuhnya salah pun tidak ada jaminan. Mungkin semua itu hanya terjadi pada sebagian orang, dan tidak semua orang berperilaku selugu itu. Namun, mungkin, namun, mungkin,…

Ya, si pemuda mencoba untuk tetap berkepala dingin dan berpikiran positif. Bukan menyalahkan dan memburu kambing hitam.

“Maaf pak/bu, mas/mbak,  ini poster seminar dan diskusi.” katanya sambil mengulurkan gulungan perkamen berwarna coklat kembali.

“…”  jawab si pengendara lain acuh.

“Oh makasih pak/bu, mas/mbak,…” jawab si pemuda dengan senyuman termanisnya.

“Mungkin aku yang salah tidak berpakaian dengan tepat.” pikirnya sambil berlalu.

Arkanhendra, pada sebuah malam di medio November.

  1. terus berjuang pemuda!

  2. @agungpoku
    pemuda memang harus terus berjuang kawan :))

  3. Semangat Pemudaku!!🙂
    Hari ini juga ada seorang pemudi dengan tampang & penampilan awut-awutan berangkat kerja. Saking berantakannya seorang kernet bis menyangka dia adalah pegawe pabrik perak di Kotagede😆

  4. @ranselhitam
    weks apa hubungane awut2an sama pegawe perak??😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: