Dia yang bernama Alfian.

Jam menunjukkan pukul 09.40 pagi. Teringat akan pentingnya sebuah janji, kupacu motor demi ketepatan janji yang mulai meluntur. Bukan bersemangat, hanya rasa tidak enak akan keterlambatan. Yang sempat mengakibatkan hilangnya  fokus ditengah jalan. Tidak kawan, tidak ada kecelakaan yang terjadi, hanya melupakan tempat bertemu untuk beberapa saat. Karena setelah tersadar, segera memacu balik menuju tempat yang tepat dalam waktu 10 menit. 10 menit keterlambatan, 10 menit rasa bersalah.

Sesampainya di tempat janjian, anak itu sudah menunggu. Ya, dia bernama Alfian. Seorang anak berumur 14 tahun. Dengan potongan rambut cepak dan kulit yang hitam, dia tersenyum melihatku. Barisan giginya yang putih mengkontraskan penampilannya yang tidak seperti anak yang lain. Bukan rasis kawan, hanya menjelaskan betapa khusus dan spesialnya dia.

Alfian yang kukenal seorang anak yang pendiam. Dia pemalu. Sama pemalunya dengan sebagian perawan yang hendak menumpahkan darah kesuciannya dihadapan sang lelaki terpilih. Dia juga tertutup. Sama tertutupnya dengan sebagian aparat yang telah berlaku curang. Menjawab seperlunya bahkan diam seribu bahasa.

Sebagai seorang anak raja kecil di wilayahnya, Alfian tumbuh tidak seperti para pangeran-pangeran kecil di tanah impian. Bergelimang perhatian dari lingkungan luar atau menjadi pujaan para gadis remaja yang beranjak dewasa. Benar-benar bukan pangeran idaman.

Karena dia hanya seorang Alfian. Seorang anak yang harus selalu diantar ibunya ketika teman-teman sebayanya bergaya diatas kendaraan mereka dengan bangga.

Hari itu Alfian memakai baju polo. Dengan corak bergaris horisontal membuat penampilannya semakin gempal. Entah karena hukum mode berlaku merata atau tidak, yang pasti Alfian memang gempal. Dengan atau tanpa baju polo bercorak garis horisontal itu.

Sesuai jadwal, pada setiap hari kamis, Alfian mengikuti pelajaran pada sebuah Homeshooling di kotanya. Ya, homeschooling. Sekolah bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Bukan hanya treatment dalam penyampaian materi belajar, namun dalam pendampingannya juga.

Bukankah sudah kubilang, dia lain dari anak kebanyakan? Yang bisa bersekolah dan berkawan sesukahatinya. Bisa bermain sepuasnya tanpa mengenal malu atau terpinggirkan.

Aku percaya bahwa setiap manusia dilahirkan sesuai dengan yang telah digariskan. Dan aku masih percaya bahwa manusia adalah mahluk tersempurna dari sekian tak berhingga ciptaanNya. Dan untuk Alfian, meski dengan tinggi kurang dari 1,5 m aku tetap percaya dia mampu menjadi orang yang baik, nantinya.

Sampai sekarang para dokter pun belum tahu siapa kambing hitam yang pantas diajukan sebagai pelaku utama penyebab Dwarfisme (kekerdilan) seperti yang dialami Alfian. Meski mungkin bagi sebagian orang itu penting, namun tidak bagi Alfian. Dia belum cukup mengerti kenapa dia bisa begitu berbeda. Dia hanya tahu, bahwa ada sesuatu yang mengekang kebebasan dirinya berekspresi. Seperti sebuah bola imajiner yang menyelubungi tubuhnya. Menutup setiap akses yang berhak didapat anak seumurannya. Sosialisasi dan pertemanan. Yang membuatnya cenderung tertutup dan pemalu.

Seorang manusia hendaknya harus berlaku adil sejak dalam pikiran, begitu kata Jean Marais kepada Raden Mas Mingke dalam Bumi Manusia karya Pram.

Lalu jika aku mengkhususkan atau membedakan perlakuanku terhadap Alfian, apakah itu berarti aku telah berlaku tidak adil? Sedang yang dia inginkan hanya diperlakukan sama?

“Alfian, hari ini kita mau belajar apa?” tanyaku.

Dia tersenyum, sambil memegangi tas berwarna hitamnya.

“Lanjut yang kemaren aja mas!” katanya bersemangat.

“Oke!” seruku ikut bersemangat.

Arkanhendra, suatu petang di medio November. 

  1. alfian, salam untuknya mas. tolong katakan bahwa setiap orang diciptakan dengan keistimewaan masing-masing, dan dia pasti begitu istimewa. berani bermimpi, alfian!

  2. @ranselhitam
    akan kusampaikan pesanmu jeng :)) tetap semangART yooo??

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: