Melantur!

***

Suatu Malam Di Jogja, melewati jalanan yang mulai lengang.

Hiruk pikuk seharian penuh telah terganti dengan kesenyapan. Seperti tempat peristirahatan abadi yang jarang disambangi bagi mereka yang masih hidup. Seolah kesenyapan hanya berarti bagi mereka yang telah terlelap hingga akhir zaman.

Kali itu sang bayu sungguh bijak dan rendah hati. Hanya belaiannya di kulit saja terasa seperti selimut yang merayu tidur dalam kenyamanan. Suara seruling udaranya pun, terdengar lebih jelas. Meski datar saja nadanya. Seolah ingin membuktikan bahwa nada datar juga dapat dinikmati sebagai sebuah seni.

Di sebuah perempatan, rambu-rambu lalu lintas menjadi kian genit seperti kupu-kupu malam. Berkedip-kedip mesra dengan sorotnya yang kuning. Bukan merah ataupun hijau. Menandakan bahwa hari telah lama mendekati tengah malam. Dan itu berarti waktu bagi mereka yang mengais rejeki di depan para lelaki hidung belang telah tiba.

Suatu malam di jogja, masih melewati jalanan yang mulai lengang.

Hal berbeda tampak dari warung-warung makanan si kaki lima. Yang bertahan di remangnya malam tanpa perlu menjual kehormatan. Beberapa diantaranya tampak bersantai sambil menikmati rokok atau kopi. Tidak terpikirkan langkah kilat demi dapur tetap mengkilat.

Suasana jogja malam itu memberikan nuansa yang berbeda. Seolah ingin memberi kesempatan bagi setiap orang yang hendak menikmati keleluasaan. Agar sedikit lega setelah terpampang matari siang yang terik.

Meski begitu, ada saja beberapa tempat yang justru menawarkan keriuhan ketika malam menjelang. Ya, sebuah hadiah dari modernisasi. Sebuah kata yang dapat medefinisikan ulang arti kemerdekaan. Jika dulu merdeka dapat berarti lepas dari tekanan dan siksaan. Kini merdeka bisa berarti kebebasan melakukan tindakan, utamanya untuk bersenang-senang.

Sampai-sampai orang modern adalah mereka-mereka yang dapat bertindak dalam hidup yang penuh kesenangan. Dan kata kuno beralih menjadi ungkapan untuk mereka yang hidup dalam kebersahajaan.

“Ah, melantur ini!”

***

Arkanhendra,

pada akhir bulan kesepuluh,

di penghujung tahun 2011. 

  1. melantur yang jadinya melacur (melakukan curhat)🙂

    • Anonymous
    • October 26th, 2011

    melantur saat berkendara motor

  2. bisa kena tilang …😀 @Anonymous

  3. wkwkwk tk pikir opo …😛 @ranselhitam

  4. Jogja, kata orang selalu ngangenin.😳

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: