An Old Wife

***

Langkah kaki yang dulu ringan menari diatas basahnya aspal jalanan. Langkah kaki yang sama yang kuharapkan akan kudengar kembali. Lagi.

***

“Apakah engkau akan pergi?” tanyaku.

“Ya” jawabmu, singkat.

Itulah kata-kata penutup waktu dia pergi. Seorang yang meninggalkan kenangan dalam dan berkesan.

Tiga puluh tahun berlalu sudah sejak kejadian di musim hujan kala itu. Ingatanku tidak setajam dulu. Mataku tidak segarang ketika itu. Dan tenagaku pun tidak sekuat waktu itu. Semua telah berubah. Dan beruban.

Sedang dia? Pasti masih sama.

Pagi dan mendung. Meski mendung bukan berarti hujan, namun mendung mengisyaratkan hujan. Dan apakah hujan benar datang atau tidak, mendung tak dapat memastikan. Hanya mengisyaratkan. Seperti perasaanku pagi ini. Tidak ada yang bisa memastikan, apakah hari ini aku akan merekah merah seperti di kala remaja? Atau justru melemah jengah seperti di kala renta?

Tiba-tiba saja kubuang perasaan khawatir dan ketidakpastian itu. Aku bosan.

Pagi ini memang mendung dan sesaat perasaan terkembang jauh melintasi sepasang kekasih yang sedang memadu kasih, ruang dan waktu. Pikiranku melewati mereka. Jauh kearah mendung di pagi yang lalu. Pagi sewaktu kepergianmu. Kepergian dalam senyum yang memoles duka.

Hari semakin siang ketika aku sampai di tempatnya. Tempat yang terakhir kali kulihat masih ramai dipenuhi orang berbaju hitam sambil membawa payung berwarna senada. Hari yang sama di saat terakhir kali aku melihat senyummu di hati mereka-mereka yang mengenalmu.

Dan rupanya tempat itu masih sama seperti kala terakhir aku melihatnya. Sedikit berdebu memang, tapi terawat dengan baik. Entah karena orang yang diam-diam kubayar untuk itu atau karena isyarat mendung pagi tadi yang entah kebetulan saja, benar.

Siang telah beranjak gerah tepat saat kududuk di samping ranjang batumu. Yang selalu akan diam meski aku meneriakkan rinduku padamu selama tiga puluh tahun ini. Rindu akan dirimu dan hujan. Kenangan terindah masa itu.

“Apa kabar suamiku?” tanyaku sore itu.

Arkanhendra, pertengahan September 2011. 

  1. ciyeeee

  2. lha kok malah ciyee kie … g nyambung wuuuu wkwkwk @wongedan

    • Aziz Safa
    • September 14th, 2011

    akubaik-baiksaja…😀

  3. hehe alhamdulillah njeng Romo😀 @Aziz Safa

  4. koe ki meneng2 romantis yo kang cakil😆

  5. wah mbuh nek kui.. hehehe nek menurut nyonyane ora ki wkwkwkw @ranselhitam

  6. weh, ki jane settinge horor, kok malah dadi romantis yo.. yok ah, pacaran nek kuburan wae.. #eh

  7. wkwkwkwk mari kita galakkan gerakan tpacaran di kuburan *koplak* suwun bro kunjungane!@candra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: