Jogjakarta, Istimewa?

-Sebuah opini tentang Jogjakarta-

Sore di pojok tugu.  Tugu Jogja. Sebuah tugu yang katanya terletak tepat di tengah-tengah antara Gunung Merapi dan Kraton Yogyakarta.

Tampak lalu-lalang dari para penghuni jogja, mengitari tugu yang dulu berbentuk golong-gilig. Pelan-pelan, hilir mudik mereka tampak menjelma menjadi tuts-tuts nada lagu ‘Yogyakarta’ yang dinyanyikan KLA Project.

//Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja//

Kota Yogyakarta. Candu bagi beberapa orang. Memabukkan, seperti botol-botol tomi,  ciu, mersen, AP  yang pernah bergeletakan di seputaran gang Pajeksan dan di beberapa sudut kota. Menyebarkan bau harum alkohol, yang membawa setiap penikmatnya terbang ke Puncak Garuda baru, sampai kesadaran hinggap di esok hari.

Kota Yogyakarta. Hidup dan berdenyut. Tidak hanya di kisaran malioboro, alun-alun, ataupun jalan Pasar Kembang. Bahkan, Ring Road yang kadang sepi, gelap, dan lengang pun berdetak lemah, melalui lampu kendaraan-kendaraan luar kota yang sesekali melaluinya. Perumahan-perumahan mewah dan beberapa pertokoan yang berjajar di beberapa sisi Ring Road pun tidak mau kalah, untuk ikut sedikit memompa darah ke jantung kota jogja.

Memang, tidak adanya manusia yang sama berakibat pada pendapat dan impressi yang berbeda. Bagi para pendatang atau para pemampir, Jogja tidaklah se-istimewa hingga harus ikut-ikutan berperang mengangkat senjata. Tidak ada gedung pencakar langit layaknya di Jakarta, dan tidak ada pemandangan pelabuhan seperti di Surabaya atau Semarang yang menawarkan ke-eksotik-an senja dalam balutan modernitas.

Hanya Gunung merapi yang kini sepi, beristirahat dari erupsi tempo hari. Laut selatan yang mulai rawan setiap tanggal belasan, sembari menunggu datangnya sang Bulan. Kotagede, yang kini tidak tampak gede karena sudah semakin rame. 

Yak, Jogja tidaklah se-istimewa seperti yang ramai dibicarakan. Selain sebagai sebuah salah satu kota untuk bertempat tinggal. Layaknya Semarang bagi penduduknya, Surabaya bagi arek-areknya, dan Jakarta bagi abang-abang dan nonenya. Atau, bahkan bumi Papua bagi pace-pace di sana.

Sejarah? So what? Masih banyak kota-kota yang juga bersejarah lainnya di Indonesia. Budaya? Maaf mas dab, Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Jadi, jangan menjadi picik karenanya.

Bagi saya, anda dan mereka. Manusia-manusia Jogja. Manusia yang lahir di lingkup kota berbudaya dengan rasa sopan santun yang kental. Jogja akan tetap seperti Jogja meski hadir jamur-jamur pasar globalisasi seperti Indomaret dan Alfamart. Jogja akan tetap Jogja, bahkan ketika mall-mall elite berdatangan, merangsek petak-petak tanah rakyat.

//Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…//

Jogja akan tetap Jogja ketika masyarakatnya masih nJogjani, masih memiliki rasa handarbeni, tidak saling unjuk diri, untuk sekedar memuaskan diri, “Amit-amit jabang bayi,…”

Oh, bahkan Indonesia pun akan tetap seperti dulu kala. Ketika bernama Dipantara pada jaman Singosari. Atau tetap bernama Nusantara di kala jaman Mahapatih Gajahmada. Bukan Hindia Belanda, bukan Endonesa bukan pula Indonesia Raya, atau bahkan Negara Islam Indonesia.

Sama seperti Jogja, yang akan selalu menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta bagi setiap manusia yang pernah tinggal dan hidup di sana.

Jogjakarta Barat, Permulaan September, 2011. 

Arkanhendra

http://www.4shared.com/embed/41900719/31404993

  1. Love this writing! Jogja selalu istimewa dengan caranya sendiri, cara yang berbeda bagi tiap-tiap orang, tergantung bagaimana kita melihatnya. I love this city very much, thats way i don’t wanna move or leave this lovely city! Jogja telah memenangkan hati saya!🙂

  2. yesss , i found ‘her’ in this beloved city too @ranselhitam

  3. i love jogja😉

  4. me to bro😀 @agungpoku

    • sha
    • September 4th, 2011

    bersyukur bisa lahir, besar dan (masih) tinggal di jogja😀

  5. me too😀 @sha

  6. ehm…..

  7. wkwkwk ehm2 @rinatrilestari

  8. aih aih….ini yang bikin saya balik lagi ke Jogja🙂

  9. kangen jogjaaaaaaa😀

  10. mantab….

  11. hehehe ayo ngangkring😀 @ujexx

  12. ayo mbak mampir meneh😀 @lina sophy

  13. ga iso adoh yo jeng wkwkwk @petrichorium

  14. Harus saya akui, satu lagu dari KLA Project itulah yang membuat saya ingat terus akan Jogja ketika saya kecil… Sempat saya merengek ke ayah saya, minta diantar ke Jogja hanya gara2 mendengar lagu itu…:mrgreen:

  15. @Asop
    kalau begitu mari ke Jogja :))

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: