Mudik

Mudik.

Terombang-ambing dalam ayunan harmonis. Tanpa gangguan. Hanya bergerak ke 2 arah. Kanan dan kiri. Di sisi 2 arah tersebut tersajikan pemandangan yang sama. Hamparan karpet biru yang berombak. Tidak kawan, tidak begitu membosankan meski hanya biru. Biru yang memikat, sepertinya. Yang juga bergerak harmonis.

Masih mudik.

Sembari berpegang pada tiang yang berwarna keperakan, kualihkan pandangan ke dalam. Seolah takut biru yang memikat itu menarik keluar isi perutku. Di dalam, pemandangan jauh lebih hidup, jika kata ramai sudah tidak mewakili. Ya, hidup. Ada seorang bapak dengan putranya yang tertidur keenakan di pundaknya. Seorang istri yang sedang merias kecantikan, agar mata laki-laki yang duduk disebelahnya tetap menatapnya. Laki-laki yang memakai cincin yang sama di jari manis si istri.

Masih tetap mudik.

Kali ini tidak lagi biru. Namun masih tetap memikat. Ada hijau, coklat, hitam bahkan warna-warna tak asing pun ada. Merah muda dan jingga. Meski bukan balon, namun dengan melihatnya berganti-ganti mengejarku, tetap menyenangkan. Suatu kali, mereka mengejar dengan bentuk prisma diatas dan kubus dibawah. Suatu kali yang lain, ada dua kubus yang bertumpuk dengan sebuah prisma diatasnya. Namun entah kenapa, bentuk mereka semua sama. Berkisar pada prisma dan kubus. Jemu dan bosan.

Sedikit kuceritakan apa yang ada di dalam. Agar supaya tidak bosan kalian mendengar ceritaku.  Berderat kursi yang berbaris rapi, mengingatkanku pada jajaran kursi undangan pada pesta pernikahan masyarakat kampung. Bukan kawan, bukan merendahkan, hanya realita adanya.  Seorang pengamen, 2 orang asongan bergantian keluar masuk. Menjajakan makanan dan minuman, meski mereka tahu para pembeli hanya senang mendengarkan suara mereka berdendang. Irama rakyat.

Masih tetap mudik saja.

Kembali biru. Namun dengan matahari yang telanjang, bermandikan busa  putih. Busa berbagai bentuk tercipta seolah dengan mudahnya. Hanya kau tatap, lalu kau imajinasikan sendiri. Semua terserah kepadamu tanpa paksaan. Sedikit bentuk kemerdekaan dalam berkhayal kudapat disini.

Maka, tidak akan kualihkan pandanganku ke arah dalam. Tidak, kali ini tidak. Aku cukup tahu, bahwa apa yang kulihat tidak akan menarik. Beberapa pandangan tidak bersabahat, yang memancarkan sinar egoisitas. Kebanggaan atas tebalnya pantat yang tersumpal Credit Card. Kelas atas? Belum tentu! Hanya pengorbanan lebih demi berkumpul bersama handai taulan.

Mudik. Budaya berpindah dalam waktu singkat. Tidak mengenal klas ataupun strata. Hanya beramai-ramai menyiksa aspal jalanan yang sudah lelah termakan usia.

Mudik, haruskah? Oh maaf, pentingkah?

Arkanhendra, Agustus 2011 “pada racauan malam”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: