Gendari dan Deshtrarastra

“Oh Gendari my wife,… betapa sedih hati ini melihat anak-anak ku para korawa jatuh bergelimpangan di medan laga… Ternyata benar kata Yayi Patih Yamawidura. Aku terlalu lemah untuk menjadi Raja di Hastina.

“Oh My Husband Destharastra, yang sejak menikah sudah merenggut indahnya cahaya dunia… Engkau tidak salah kanda, betapapun berat akibat yang kita peroleh.”

“Bagaimana bisa kau katakan itu Gendary my sweetness blindwife? How could you say that such thing?”

“Begini kanda rungokno, please listen to what i want to say? dont look because we both know that you’re blind since child, thanks to your mum.”

“wes gek ngomongo… tak listen wes.”

Dengan sambil diiringi para emban yang setia, Gendari melangkah menuju ke arah pendopo. Hawa dingin yang menyelimuti Hastina masih tidak bisa melunakkan udara panas yang berasal dari padang Kurusetra. Membara, dan masih akan terus bergolak.

“Kakang Mas Desthrarastra, yang tak tresnani. The King of Hastina and the father of 100 korawa. Rungokno pisan lambeku iki, men menghilang segala keraguanmu.

Kakang, sudah sepantasnya bagi setiap orang tua untuk memberikan pada anak-anaknya, hal yang terbaik di dunia ini, yang bisa diperoleh. Bahkan jika mengingat perkataan orang bijak bahwa anak adalah titipan Sang Hyang Agung, untuk kita para orang tua, maka menjadi benarlah kewajiban kita untuk itu.

Dalam apa yang telah Kakang lakukan pada anak-anak kita, Kakang sudah lakukan sesuai yang Kakang bisa. Tidak ada yang akan menyalahkan Kakang karena ingin mengangkat putra tertua Kakang, Duryudana sebagai calon Raja. Karena Kakang hanyalah seorang manusia yang ingin yang terbaik bagi anak cucunya.

Dan bagi para Pandawa, walaupun memang mereka adalah putra Pandudewanata, pangeran-pangeran pilih tanding yang diagung-agungkan rakyat Hastina, mereka seharusnya mau ngilo, mau bercermin. Hanyalah keturunan putra pertama yang pantas jadi Raja.

Dan apakah karena kebutaan Kakang, akan menghalangi atau mengurangi kewibawaan Kakang menjadi Raja? Lalu apa gunanya kerajaan Hastina memiliki Patih sebijak dan se-waskitha, Yamawidura, orang suci sekelas resi seperti Bhisma Dewabrata?

Seharusnya Pandawa sebagai generasi muda, mau berfikir atas kesalahan Ayah mereka Pandudewanata, dan tidak mengulagi dengan meminta tahta singgasana Hastina.

Jika Kakang mau mengingat, bagaimana Citranggada dan Wicitrawirya meregang nyawa karena merebut tahta dari Bhisma? Lalu jika Pandu mati karena merebut tahta Kakang, apakah harus terulang lagi pada para Pandawa?

Jadi apa yang telah Kakang lakukan juga wujud dari katresnan seorang paman bagi keponakannya. Janganlah merasa bersalah Kakang, hanya karena Kresna sang titisan Wisnu ingin Pandawa yang berkuasa dan bukan Korawa.”***

Mpu Cakil Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: