Mengintip Keadilan

Beberapa waktu lalu melihat sebuah acara di salah satu stasiun TV swasta. Acara tersebut merupakan acara hiburan yang sarat akan kritik- kritik sosial yang sedang hangat dibicarakan. Pendidikan, Korupsi, Mafia kasus dan hal- hal absurd lainnya yang ada di Indonesia.

Pada waktu itu salah satu bintang tamu yang dihadirkan adalah seorang budayawan bernama Jaya Suprana. Memang masih ada bintang -bintang tamu yang lain, namun celotehan beliau yang menginspirasi saya untuk membuat postingan ini.

Waktu itu beliau sedang membicarakan tentang hukum. Seperti yang kita ketahui lambang hukum adalah seorang patung dewi (sudah pasti perempuan, kalau lelaki ya pasti dewa.) Patung dewi itu sedang membawa timbangan dan sebuah pedang. Tidak ada yang aneh dari patung itu kecuali satu hal.  Entah benar atau tidak ternyata si dewi keadilan itu buta, atau tepatnya tidak bisa melihat. Karena saya belum pernah melihat mata belo yang indah si dewi. Maka lebih tepat jika saya mengatakan kalau si dewi nan cantik (untuk ukuran patung) itu tidak bisa melihat.

Patung yang diabadikan sebagai lambang hukum itu memang sarat akan nilai – nilai filosofis. Timbangan yang dibawanya sebagai perlambang dari hukum harus adil dalam penegakannya. Dan pedang sebagai lambang ketegasan dalam mengeksekusi. Yang terakhir tutup mata yang dipakai melambangkan bahwa hukum tidak memihak dan tidak pandang bulu. Mau dia kaya, miskin, ganteng , jelek, tua, muda, normal atau tidak. Apapun keadaanya jika dia bersalah maka dia harus dihukum dengan adil.

Jadi jika anda rakyat kecil yang susah sekalipun atau bahkan anda adalah orang terkaya sedunia, “seharusnya” anda tidak kebal hukum. Namun yang terjadi di Indonesia sungguh lain. Bapak Jaya Suprana sempat mengatakan kalau “mungkin” dinegara- negara lain sang dewi memakai penutup matanya dengan benar, tapi tidak disini, tidak di Indonesiaku.

Di Indonesia sang dewi mau “berwelas asih” untuk membuka sedikit penutup matanya. Entah karena kepanasan mengingat indonesia negara tropis atau karena orang indonesia “berbeda” dari manusia lainnya. Keturunan bangsa gunung atlantis. “Mengapa ?” Ya, mungkin ini salah satu bentuk ke-kreatifitas-an bangsa kita. Sehingga mungkin ini penyebab sang dewi “mungkin” naksir sama kita sehingga dia mau membuka sedikit penutup matanya.

Mafia hukum, adalah orang yang memperjualbelikan hukum. Orang ini adalah salah satu penegak atau  pendiri-nya praktek jual beli hukum. Bisa dikatakan orang ini memiliki sensitifitas tinggi terhadap bisnis karena dia mampu membuat hukum menjadi salah satu bahan komoditi.

Ternyata benar yang dikatakan oleh sang narasumber, bahwa di Indonesia hukum sudah menjadi barang komoditi, sudah menjadi salah satu bisnis yang menguntungkan. Dengan sedikit pelicin atau oli murahan, seorang yang bersalah bisa menjadi tidak, seorang yang seharusnya dihukum malah bertamasya. Meski ada juga yang dipenjara yang bagai hotel bintang 5.

Memang praktek seperti itu bisa dimungkinkan tidak hanya terjadi di Indonesia, namun karena saya lahir di Indonesia dan besar disini, maka saya merasa tertarik untuk menjadi salah satu bisnisman hukum.

Berbekal wajah innocent, senyum ramah, keluarga yang harmonis dan tentunya uang dan kenalan bejibun. Dari tingkat atas sampai terbawah sekalipun. Tapi sayang, saya pasti tidak akan berhasil, mengingat saya masih percaya pada Tuhan YME dan hati saya masih belum mengijinkan.

“Semoga saja saya masih tetap seperti ini, menjadi cupu, cupu yang hanya bisa berdoa si dewi keadilan mau membenarkan letak penutup matanya.”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: