The Runaway

-2-

Catatan Harian Dr. Fieldren

29 Januari, 00.30 AM.

Tidak bisa tidur. Sehingga kuputuskan untuk menulis di catatan harianku. Paling tidak dengan menulis aku terhindar dari tembakau-tembakau bangsat yang merusak paru-paruku. Meskipun itu percuma. Hari ini tepat seminggu aku bertugas di sebuah rumah sakit jiwa. Memang menjadi seorang ahli jiwa bukanlah cita-citaku. Sejak kecil aku bermimpi untuk menjadi superman. Seorang pahlawan pembela kebenaran yang berasal dari planet Krypton. Yah, sangat standar memang mimpiku semasa kecil. Sampai akhirnya entah kapan aku mulai melupakan mimpiku tersebut. Dan Superman sudah bukan lagi impianku.

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menekuni tingkah laku manusia. Sepertinya sejak bersekolah di SMA predikat sebagai seorang psikiater mudalah yang mengawali semuanya.

“Jo, i need to talk to you!” kata seorang temanku ketika itu.

Berawal dari pendengar setia curhatan teman-temanku, aku mulai belajar tentang kelakuan manusia. Bagaimana mereka menghadapi masalah, mulai dari masalah percintaan sampai masalah yang paling pelik sekalipun. Menyenangkan, batinku.

Setelah lulus SMA, aku mengambil jurusan psikologi di salah satu universitas ternama di daerahku. Meski mendapat larangan dari orang tuaku, namun sifat keras kepala yang diturunkan oleh mereka tidak menggoyahkan pendirianku. Sampai sekarang.

Mengingat masa lalu memang menyenangkan. Seakan-akan kita melihat sebuah film dengan kita sebagai tokoh utamanya. Mungkin suatu waktu nanti, entah kapan aku bisa melihat sebuah film tentang diriku.

Huh, sepertinya aku sudah mulai melantur. Kebiasaan menulis ini rupanya memberikan efek negative padaku.  Aku harus segera beranjak tidur! Beberapa berkas pekerjaan yang menumpuk ‘indah’ di meja kerjaku, sepertinya harus menunggu sampai esok pagi untuk kubaca…

***

Sambil merapikan berkas-berkas dari meja, Dr Fieldren beranjak ke tempat tidur. Sebuah kamar dengan konsep minimalis, bergaya arsitektur inggris. Di atur sedemikian rupa sehingga, setiap orang yang melihat akan teringat sebuah kamar dari jaman Sherlock Holmes, classy and classic. 

Tepat ketika dia hendak merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, atap yang berbentuk geometris mengingatkannya pada sesuatu,

Geometric, pshycotic, patient.

Seorang pasien yang baru datang beberapa minggu yang lalu atas rekomendasi ‘orang tinggi’ Sebuah sebutan yang dimaksudkan untuk para elite kekuasaan. Seorang pasien yang menurut dia hanya berpura-pura gila untuk tetap hidup.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: