[Epilog] Kisah Cinta Arondesh

(dipost dan diedit ulang dari rumah lama.)

-Tulisan penutup dari 5 seri cerita Cinta Terlarang Arondes-

“DEDEEEEESSSSS….!!!”

Tunggul Ametung tersentak. Sambil berteriak memanggil nama Dedes dia terbangun. Dia sadar, bahwa dirinya tidak lagi di keputren. Dalam keadaan bingung, dia beranjak berdiri. Aneh, pikirnya.

Ya, seharusnya dia sudah mati karena tusukan keris Ken Arok. Tapi kini, dia merasa segar bugar. Bahkan tubuhnya pun semakin ringan. Dan yang lebih aneh, bekas luka tusukan yang menghilang tak berbekas.

Entah ini berkat dari kesaktiannya atau memang dirinya merupakan keturunan Raden Subali. Guru dari Rahwana, pemilik *ajian pancasona.

Tapi tiba-tiba ototnya mengejang. Dia teringat Dedes, istrinya. Dengan sekuat tenaga dia bangkit dan berlari menuju kadipaten.

“Dedes, aku harus menolongnya, sedang Ken Arok, AKU HARUS MEMBUNUHNYA!”

Di otaknya kini hanya ada bayangan istrinya yang berada dipelukan musuhnya. Sambil berteriak-teriak kesetanan, diraihnya lagi keris yang terselip di pinggang. Bersiap untuk ronde kedua. Bersiap untuk membunuh atau terbunuh lagi.

“KALI INI MATI KAU AROKKKK!!!” geramnya.

 ***

Beberapa saat kemudian sampailah dia di kadipaten. De-ja-vu. Di hadapannya kini tampak sosok Ken Arok yang sedang duduk bermesraan bersama istrinya.

“AROK!” panggilnya.

Yang dipanggil acuh, diam. Dipanggilnya sekali lagi nama jahanam itu, dan terus dipanggil. Namun disana, Ken Arok tetap saja membisu seperti tidak ada seorangpun kecuali dia dan Ken Dedes, istri barunya.

“DASAR KAU MANTAN BABU! MATI KAU!” teriaknya sambil melompat menghunus keris ke arah Ken Arok.

“…”

Gusti Tunggul pun terjatuh. Sementara Ken Arok, masih tak bergeser. Bahkan terluka pun tidak. Sesaat Gusti Tunggul terdiam, dia merasa ada yang tak wajar. Dicobanya sekali lagi menghunus, membabat, menusuk, menikam sampai mencincang! Tapi tetap saja, dirinya tidak bisa menyentuh apalagi melukai musuh didepannya.

“Gusti tidak akan bisa melukai Arok.”  tiba-tiba terdengar suara berat dari belakangnya.

Dan diapun menoleh asal suara yang membuatnya terkejut. Dilihatnya asal suara tersebut. Ternyata seorang tua, seorang resi.

“Siapa kau? Apakah kau antek-antek BABU AROK?”

“Ampun Gusti, maaf, saya bukan siapa-siapa. Kedatangan saya kemari untuk mengingatkan dan menjemput Gusti, karena ini bukan tempat Gusti lagi.”

“Apa maksudmu wahai Resi?” tanya Gusti Tunggul bingung.

Setelah melangkah mendekat, resi itu pun bercerita mengapa dia bisa berada di tempat tersebut.

“APA MAKSUDMU?! KAU PEMBOHONG BESAR RESI, APA KAU TIDAK MALU DENGAN KAIN BRAHMANAMU ITU?!”

“Maap Gusti, tapi itu yang sebenarnya.”

Mendengar penjelasan sang resi, Gusti Tunggul terkejut bukan main. Tubuhnya pun roboh ke lantai. Dia tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa dirinya sudah, mati.

Ya, dirinya yang sekarang hanyalah sebuah jiwa tanpa raga. Sebuah arwah penasaran, yang terikat dendam di dunia.

“Semua yang terjadi sudah garisan takdir, Gusti. Gusti tidak bisa berbuat apa-apa. Monggo, dilepaskan saja ikatan dendam Gusti. Agar Gusti dapat moksa, naik ke kaendran (akhirat) dan hidup abadi di sana.” jelas sang Resi.

“Jadi apa yang harus kulakukan sekarang wahai Resi?” tanya Tunggul Ametung pasrah

“Lepaskanlah Gusti, agar Gusti memperoleh kedamaian. Dan tidak lagi menjadi arwah penasaran.”

Akhirnya dengan berat hati, ditatapnya wajah istrinya yang sendu. Tanpa sadar, air mata menetes ke pipinya. Sambil tersenyum dia berkata,

“Dedes, maafkan kakang,…kakang,… kakang cinta padamu.”

Seketika muncul sebuah cahaya meneranginya. Cahaya hangat itu menyelimuti seluruh tubuhnya. Membawa tubuh ‘halus’ nya terbang.

“Monggo Gusti, kita pulang…” kata sang Resi mempersilahkan.

“Baiklah resi, terima kasih. Tapi siapakah sebenarnya resi ini? Jelmaan Batara Yama kah?”

मेरा नाम Gandring है, निवासियों Gandring. (Mērā nāma Gandring hai, nivāsiyōṁ Gandring)**

Arkanhendra

*)   Ajian yang meski pemiliknya mati, namun jika jasadnya mengenai tanah maka dia akan hidup kembali.

**) Nama saya Gandring, Empu Gandring.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: