[Seri IV] Kisah Cinta Arondesh

(diposting dan diedit dari rumah lama)

मना प्यार की समाप्ति -Manā pyāra kī samāpti- (Akhir Cinta Terlarang)

Suatu petang di kadipaten. Hari senin kliwon. Masih dibulan Rejeb.

“Kakang, aku mohon kakang pergilah dulu.”

“Tidak Dinda, akan aku akhiri sekarang semua kepura-puraan ini…”

Tidak berapa lama kemudian, sosok pria lain datang. Betapa terkejutnya pria tersebut melihat pemandangan di didepan matanya. Sosok pria lain di peraduan istrinya. Sosok pria yang hanya seorang Sudra.

Segera saja emosinya meluap, hatinya tercerai-berai. Ketika dilihatnya tangan istrinya yang menggengam erat pria disebelahnya. Matanya memerah, dihunusnya keris dan diacungkannya ke dua orang didepannya.

“Dasar perempuan tak tahu diri kau Dedes! Beraninya kau bermain cinta dibelakangku, suamimu sendiri.” teriak Tunggul Ametung murka.

Hanya isak tangis yang terdengar membalas segala perkataan kasar yang dilontarkan Tunggul Ametung. Mendengar kekasih hatinya dimaki, pria disampingnya pun latah tak tertahan.

“Wahai Kau Akuwu Tumapel, Sudra yang berlagak Ksatria, jaga bicaramu! Atau kau memilih dihujamtebaskan kerisku ini?”

Mendengar balasan kata-kata si pria, Tunggul Ametung hanya tertawa sinis lalu berkata,

“Lagak kau mantan begal! Sudra hina! Ingat kau akan posisimu, dasat tak tahu diuntung, kau budak paria!”

***

Malam itu tepat di dalam keputren kadipaten, telah terjadi pertempuran antara 2 orang lelaki. Demi  kekuasaan, harga diri dan utamanya, cinta dari seorang wanita.

Ternyata takdir tak dapat dicegah. Sebilah keris telah menentukan pemenangnya. Malam itu, Akuwu Tumapel, Gusti Tunggul Ametung tewas ditangan Ken Arok.

“Dedes,… dedes,… to-long ka-ka-kakang…” kata Tunggul Ametung lemah.

Melihat suaminya sekarat, hati perempuan itupun merasa iba. Bagaimanapun juga sosok pria sekarat itu adalah penumpah pertama darah perawannya. Namun pelukan Ken Arok mampu mempertahankan tubuhnya untuk diam kejam,  tidak bergeming.

Setelah beberapa saat meregang nyawa, akhirnya Tunggul Ametung pun meninggal. Ken Dedes mendadak jatuh terduduk. Dia tidak kuasa menahan air mata kesedihan. Dan kini dia harus bersiap menanti tiang gantungan akibat terlibat pembunuhan sang Akuwu, suaminya sendiri.

Melihat hal tersebut, Ken Arok segera mendekati dan memeluknya. Sejurus kemudian ditenangkannya sang pujaan hati yang kini bergetar oleh tangis pilu.

“Dedes, hidup itu seperti kopi, rasanya pahit. Maka dari itu kuatlah. Aku membutuhkan kehadiranmu, agar kopi yang pahit ini tetap dapat kunikmati. Janganlah kau bersedih, usahlah kau menangis. Aku akan selalu mendampingi dirimu sampai Sang Yama memisahkan.”

“Kakaaang….!” Dan dalam kondisi jiwa yang sedang gundah, Ken Dedes pun menyerah pada sosok tegap yang memeluknya. Sosok pria yang telah beberapa waktu ini mengisi relung-relung jiwanya. Dialah Ken Arok.

“Tapi bagaimana ini Kakang? Seluruh pihak kadipaten pasti akan memburu kita karena telah membunuh Gusti mereka.”

“Tenang Nyimas, semua sudah Kakang atasi. Bukan Kakang ataupun dirimu yang akan mereka kejar, tapi Si Kebo Ijolah yang akan menuju tiang pancung.”

Ternyata, keris yang menancap di dada Tunggul Ametung beberapa hari sebelumnya sempat terlihat ditangan Kebo Ijo, sebelum Ken Arok mencurinya. Salah satu abdi Kadipaten Tumapel yang sombong dan gila kekuasaan. Maka pada esok hari penghukuman, kepalanyalah yang akan tergeletak di tanah. Karena pihak kadipaten akan mengejar pemilik keris tersebut, sang pembunuh Akuwu Tumapel.

Esok paginya Kebo Ijo ditangkap oleh pihak tentara kadipaten. Meski berteriak-teriak tidak bersalah, namun Ken Arok yang memposisikan dirinya sebagai saksi, dan didukung oleh kebohongan Dedes, terus saja menyudutkannya. Sampai akhirnya kepala Kebo Ijo terpisah dari tubuhnya dan mati.

Menggantikan posisi sebagai Akuwu, Ken Arok berhasil menghasut beberapa perangkat pemerintahan Tumapel. Setelah berhasil merebut Ken Dedes, kini kekuasaan atas daerah Tumapel pun berhasil digenggamnya. Ken Arok sedang menaiki tangga menuju keemasannya.

Hanya sebuah perasaan was-was membayangi kesuksesannya melakukan kudeta. Ucapan seorang resi sakti pembuat keris. Yang mengutuk bahwa dirinya akan mati pula diujung keris tersebut, Keris Mpu Gandring.

Arkanhendra

*) Baca kisah Arondesh lainnya. Seri I , Seri II dan Seri III.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: