[Seri III] Kisah Cinta Arondesh

(diposting dan diedit dari rumah lama)

प्यार -Pyāra- (Love)

Pada suatu sore, di bulan Rejeb. Masih pada tahun yang sama, tahun 1222 Saka. Disebuah plataran candi didaerah Tumapel. Dengan memberanikan diri Arok menyapa sosok wanita didepannya.

“Pulang berdoa Gusti putri Ken Dedes?”

“Eh, kau Arok?”

“Mau saya kawal sampai pendopo Gusti?”

“Tidak perlu,  terima kasih, aku akan berjalan bersama Gusti Tunggul.”

Dengan tatapan mata kosong, dia hanya bisa melihat bidadarinya pergi. Dan disana seorang laki-laki berkuasa berdiri disebelahnya. Laki-laki yang selalu menyulut kemarahan didadanya, akuwu Tunggul Ametung.

“Ken Dedes, jika saja aku bertemu denganmu jauh sebelum kau bertemu Gusti Tunggul, betapa bahagianya.”

Karena terlalu asyik berkhayal, Ken Arok tidak menyadari kedatangan seseorang dibelakangnya.

“Hoiii, nglamun lagi kamu Rok?”

“Oh, Kakang Lohgawe?”

“Hmmm masihkah kau ingat-ingat dia Arok? Kenapa tak kau lupakan saja? Dia bukan untukmu, dia bukan jodohmu.”

“Maaf Kakang, darimana Kakang tahu? Kakang bukan bathara Guru yang sedang menyamar kan?”

“Kalau pun iya pesanku tetap saja sama Arok. Kau tahu kenapa dia bukan jodohmu? Karena dari rahimnya telah ditakdirkan untuk menurunkan raja-raja ditanah swarnadipa (jawa) ini.”

“Lalu? Apakah Kakang lupa kalau cita-citaku adalah menjadi penguasa tanah Jawa ini?”

“Kalau begitu semua terserah padamu, aku sudah memperingatkan, Arok. Hanya satu pesanku, berhati-hatilah.” jelas Lohgawe sambil beringsut pergi.

Sebenarnya Ken Arok tahu betul siapa dirinya dan siapa Ken Dedes. Bahkan jauh dilubuk-hatinya, dia merasa impiannya hanyalah omong kosong belaka. Dia ragu apakah Ken Dedes juga merasakan hal yang sama. Namun rupanya pesona Ken Dedes telah membutakan jiwanya. Cinta memang buta. Love is blind, kata para pujangga.

“Memang benar,  प्यार अंधा होता है *(Pyāra andhā hōtā hai).” Batin Ken Arok.

***

Hatinya bergetar. Tidak setiap saat memang, hanya ketika ada dia. Dia tahu dirinya tak boleh merasakan itu. Pamali, tidak pantas, dosa, penghianatan, dan penipuan. Tapi dia hanya manusia biasa. Perempuan biasa tepatnya. Yang tak berdaya menahan hati ketika sebuah perasaan mulai tumbuh.

“Duh Gusti Sang Hyang Batara Agung, kenapa diri hamba tidak bisa menghilangkan wajah sudra itu dari hati. Hamba tahu ini salah, hamba tahu ini dosa, tapi Gusti, hamba tidak mungkin bisa berbohong pada diri sendiri. Telah ada keraguan pada diri hamba.”

Dengan penuh khusyuk, gadis itu berdoa. Bibirnya yang menawan tanpa polesan tampak menggairahkan. Sambil memejamkan mata, dengan segenap rasa ditujukan doanya kepada Sang Hyang Batara Agung. Atas kegundahannya, karena ‘laki-laki‘nya.

Sore itu Ken Dedes, memutuskan untuk berdoa diluar wilayah pendopo keputren. Sebenarnya di dalam pendopo sendiri Tunggul Ametung sudah mendirikan tempat baginya sembahyang. Tapi entah kenapa setiap sore di hari Jumat kliwon Dedes selalu memutuskan untuk bersembahyang keluar pendopo.

“Gusti putri sembahyang diluar lagi?” tanya embannya (pelayan wanita).

“Iya tum, aku melakukannya,… lagi.”

Nampaknya sejak pertemuan pertama, kurang lebih 5 bulan lalu, hati gadis ini sudah bercabang. Tidak lagi bersumpah setia pada suami-seranjangnnya, sang akuwu Tumapel.

“Apa Gusti putri sudah ndak cinta sama Gusti kakung lagi?”

“Kau tahu sendiri tum, dulu Gusti kakungmu menculikpaksaku. Tanpa meminta ijin pada Bopoku, Mpu Purwa dia menumpahkan darah perawanku. Jadi bagaimana bisa aku mencintainya sepenuh hati. Dan kini ketika hatiku bercabang oleh laki-laki yang telah menawan hati tanpa paksaan, haruskah aku masih merasa sayang?”

Teringat kejadian beberapa tahun lalu, ketika Seorang pemuda bernama Tunggul Ametung menculiknya dari Desa Panawijen. Dan lalu menikahinya tanpa seijin ayahnya. Dia merasa si laki-laki itu telah mempaksaterimakan cintanya. Sehingga sah-sah saja jika hatinya mendua, dan merasa cinta yang sesungguhnya. Meski dia tahu itu berarti dosa dan penghianatan.

“Duh,  Kangmas Ken Arok, kenapa wajahmu selalu menghiasi tidurku? Disetiap dinding pelupuk mataku terpatri dengan tinta emas, namamu, rupamu. Apakah Kangmas pun juga merasakan api asmara ini?” katanya dalam hati.

Sore telah berganti malam. Yang diterangi sebuah lentera bulan dan beberapa kunang-kunang bintang di bawah layar hitam langit. Sedang diatas tanah bumi dua pasang manusia  yang terpisah jarak dan waktu sedang memandanginya. Sambil bertanya-tanya,

” यह प्यार है? **(Yaha pyāra hai?)”

Sayup-sayup tembang Asmarandhana (api asmara) mengalun pelan diiringi desir angin malam yang dingin. Seolah mereka tahu ada dua manusia yang sedang jatuh cinta.

http://www.4shared.com/embed/340902088/22260956

Arkanhendra

*) Cinta itu buta (Hindi)

**) Apakah ini yang namanya cinta? (Hindi)

baca juga Seri Arondesh  sebelumnya. (Seri 1 dan Seri 2)

  1. August 12th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: