Panca Indra dan Sebuah Perjalanan

“melihat lebih jelas, mendengar lebih seksama, menghirup lebih peka, meraba lebih dalam, dan mencecap sebuah perjalanan, baik manis, asam, asin maupun pahit,…” -mpu Cakil Arkanhendra-

Ketika akan melakukan perjalanan, kita sering dihadapkan pada 2 pilihan. Tempat yang eksotis dan -biasanya- pengalaman tak terlupakan, atau tempat yang biasa namun meninggalkan kenangan yang manis. Pada pilihan pertama segala kemudahan dan pengalaman yang kita peroleh, mewajibkan kita untuk merogoh kantong lebih dalam atau menguras fisik lebih keras. Meski kadang, semua itu tidak berjalan selaras.

Sedang pada pilihan kedua, dengan menempatkan diri pada tempat yang biasa-biasa saja, kadang kita  mendapatkan kenangan tak terlupakan. Seperti contoh pada beberapa waktu lalu, ketika lewat di sebuah jalan di daerah perkotaan Jogjakarta. Sebuah pemandangan yang sangat jarang saya temui terselenggara di depan mata saya secara live dan uncensored. Sebuah episode ke-sekian dari sebuah sinetron yang mengambil action pertengkaran sepasang kekasih. Dimana sang artis wanita menampar muka si artis cowok. Baru saya ketahui penyebab tamparan tersebut ternyata si cowok tertangkap basah menduakan cinta.

Tempat memang biasa, karena hanya di pinggir jalan. Sedang kenangannya yang tak terlupakan adalah sebuah tamparan pengukuh kekuatan wanita, yang tidak mau direndahkan. Sebuah kenangan yang memberi saya pelajaran bahwa, perempuan diciptakan untuk dikasihi dan dilindungi dengan segenap cinta. Dan mereka bukan hanya sekedar barang yang bisa kita dapat semudah kita buang.

Pernah satu kali di sebuah tempat yang amat sangat biasa, mendapatkan sebuah momen tidak kalah keren. Momen tawuran oleh para anak-anak ababil, begitu saya menyebut untuk para lelaki dan wanita pada rentang usia 13-23 tahun yang katanya gaul dan modis ala sinetron.

Gundul Si Penjejak

@ Jembatan Gantung, perbatasan Wonosari-Prambanan

Terbagi atas 2 kelompok, para ababil itu hanya berani saling berteriak dan memasang wajah yang super seram -menurut mereka- Hmmm, mungkin begitu pula saya beberapa tahun yang lalu. Dengan semangat muda yang membara tanpa bara, jiwa persaudaraan yang ampuh namun rapuh, saya maju ke medan laga. Sebuah jalanan beraspal.

Bagian paling menggelitik dari momen tawuran tersebut adalah, pada saat ketika seorang penjual warung membentak salah satu kelompok ababil, berlanjut ke kelompok lainnya, para pejuang dan para hero tersebut mengurungkan niatnya untuk bertempur. Mereka hanya berbalik arah dengan wajah polos. Segala aura kehebatan yang tampak beberapa saat lalu, musnah. Hilang oleh si penjual warung. Ironis.

Pada awal tulisan ini saya mencoba membuat sebuah quote. Sebuah quote yang saya pikir akan berguna bagi rekan penjejak sekalian dalam menikmati sebuah perjalanan kemanapun. Singkatnya sih mengajak untuk lebih memaksimalkan pancaindra kita. Indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa.

“dan sepertinya saya akan melakukannya lagi sore ini. Berbekal kamera poket dan panca indraku, mari berpetualang, mari menjejak!”

salam penjejak!

Arkanhendra

  1. travel writer yang hebat itu bukan hanya yang bisa mendeskripsikan tempat-tempat indah yg tertangkap mata namun juga yang berhasil mentranskrip apa yang dirasa, dikecap, dan dibaui dalam rentetan kata!

    teruslah berjalan wahai penjejak! jejakkan langkahmu di tanah-tanah baru!

  2. semangART! *ngimpiketibanDSLR*

  3. jadi ini tentang menjadi penjejak holistik ya mpu?

    menjejak dengan segenap indera, “menikmati” lebih dari sekadar lewat.

    memomrinya pasti lebih nyangkut.

  4. ya begitulah kisanak ,😀 terimakasih sudah mau berkunjung,

  5. selamat melanjutkan menikmati jejak, saudara….
    ditunggu jejak2 lainnya
    ps. nek nemu gendhul apik, tulung disimpenke nggih, lumayan bs bwt ditaro blog saya…bwt wadah crito2🙂
    *tukangpulungbotol.com😀

  6. wkwkwk woke pasti diajeng, akan selalu aku ingat pesan-pesanmu😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: