[Seri II] Kisah Cinta Arondesh

(diposting dan diedit ulang dari rumah lama.)

केन Arok शपथ -Kēna Arok śapatha- (Sumpah Palsu Ken Arok)

Ruang tahanan Kadipaten Tumapel. Hari Kamis pahing. Tepat 3 hari setelah peristiwa perampokan di hutan di lereng gunung Arjuna.

“Dedes..Dedes….”

“Woalah ini bocah jan, sudah dimabuk asmara rupanya.” kata Lohgawe sambil geleng-geleng kepala.

“Arok…Arok, bangun!”

“Sebentar Dedes, nanggung…”

“Woooo GUDHEL! Dedes..dedes, Gundulmu panuan! Ini aku Lohgawe!”

Tampaknya wajah Ken Dedes sudah tertancap dalam di benak Ken Arok. Sampai-sampai sahabatnya Lohgawe pun disangka pujaan hatinya. Betul kata orang bijak, ‘cinta itu buta dan memabukkan’ 

“Loh? Amit-amit jabang bayi! Kakang toh, dinda pikir Ken Dedes yang sedang merawat. Tapi Kakang, ini dimana?Terus ini dadaku kok dibungkus kain? Apa yang telah terjadi Kakang, cepat jelaskan padaku!?”

Jann edyan,…  Dasar begal koplak!” Jawab Lohgawe masih terheran-heran.

Sejak ditikam oleh keris Ken Dedes, Ken Arok tidak sadarkan diri. Dia pingsan selama 3 hari 3 malam. Dan selama itu hampir setiap malamnya Ken Arok menggigau memanggil nama Ken Dedes, Istri Akuwu (setingkat camat) Tumapel, Tunggul Ametung.

Dengan sabar Lohgawe menjelaskan kejadian-kejadian yang terjadi sejak peristiwa di hutan. Sampai pada akhirnya ketika dia harus menghadap pandita Tumapel untuk meminta ijin merawatnya dengan alasan hutang budi.

“Arok, besok kamu bakal diadili didepan Gusti Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Jadi persiapkan dirimu.”

“Aku mengerti kakang. Tapi bagaimana dengan Ken Dedes?”

“Lupakan.”

Selama beberapa saat Ken Arok merenung dan berfikir. Sambil sesekali berkhayal dan berimajinasi. Bagaimana jika dia menjadi seorang Akuwu, Akuwu Ken Arok, pasti keren pikirnya. Dengan begitu Ken Dedes akan dapat dipersuntingnya. Tepat ketika Lohgawe hendak pergi, Ken Arok menahan tangannya.

“Heeehh ? Apa lagi to Rok? Ken Dedes meneh? dah mending buang jauh-jauh pikiran itu, dia tak tergapai, Arok. Ngimpi kowe, ngimpi! Pikirkan dirimu sendiri dulu, besok kamu itu mau dipancung. Malah mikirke wong wadon.”

मेरा विश्वास करो, कुछ भी असंभव नहीं है,…!(Mērā viśvāsa karō, kucha bhī asambhava nahīṁ hai)*

“Heleh-heleh, edan wes, edannnnnnn tenan.”

“Bantu aku kakang, Cinta ini membunuhku.”

Sambil beranjak bangun dan menghela nafas, Lohgawe beranjak duduk. Setelah terdiam sesaat diapun berkata,

“Hmmm sepertinya aku akan menyesali keputusanku membantumu. Tapi tak apalah ini demi membalas hutang budiku kepadamu.”

***

Keesokan harinya sambil dikawal oleh beberapa prajurit Kadipaten, Ken Arok dibawa menghadap persidangan.

“Ken Arok. Apakah kau mengaku telah bersalah?” Tanya Gusti Tunggul Ametung penuh wibawa.

“Hamba, mengaku Gusti.”

Tepat sebelum Tunggul Ametung memerintahkan Ken Arok untuk dipancung, Lohgawe bersujud dan berkata.

“Mohon maaf Gusti, saya menyela. Hamba punya permohonan, Gusti”

“Pandita Lohgawe? Apa maksudmu?”

“Jika boleh Hamba mohon, agar Ken Arok diberi kesempatan untuk mengabdi pada Gusti Tunggul. Hamba berjanji dia akan menjadi abdi setia Gusti. Sebenarnya Ken Arok tidak jahat, dia hanya dimanfaatkan oleh para begal yang lain, Gusti.”

“Coba jelaskan Lohgawe.”

Dan Lohgawe pun menceritakan awal pertemuannya dengan Ken Arok. Saat dia pergi mencari obat untuk menolong seorang petani dia diganggu oleh sekumpulan rampok, dengan Ken Arok diantaranya. Karena merasa iba terhadap Lohgawe dan petani tersebut, Ken Arok malah berbalik membantu mereka kabur.

Selesai mendengarkan cerita Lohgawe, Tunggul Ametung terdiam. Dia berpikir benarkah yang dikatakan Lohgawe?

Melihat mimik wajah ragu dari Tunggul Ametung, segera Ken Arok bersujud menyembah dan berkata,

मैं मृत्यु तक सेवा करने की कसम खाई.” (Maiṁ mr̥tyu taka sēvā karanē kī kasama khā’ī)**

Setelah menimbang saran dan masukan dari pada para penasihatnya. Akhirnya diputuskan untuk mengampuni Ken Arok. Bahkan dia diterima untuk menjadi prajurit, meski pada tingkatan terendah.

“Ampun Gusti, kenapa Gusti membebaskan mereka?” tanya seorang abdi sesaat setelah persidangan selesai.

“Aku melihat Ken Arok lebih berguna jika dibiarkan hidup.”

“Lalu bagaimana jika dia membelot, Gusti?”

“Dia tidak akan berani, karena dia sangat menghormati Lohgawe, jika dia macam-macam, bunuh saja Lohgawe.”

“Sendiko dawuh Gusti.”

Arkanhendra

*) Percayalah, tidak ada yang tak mungkin. (hindi)

**) Saya bersumpah untuk melayani sampai mati. (hindi)

  1. August 12th, 2011
  2. August 12th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: