Tentang catatan perjalanan

Memiliki sebuah catatan perjalanan ternyata juga dapat menguntungkan. Selain dapat mengantar sang rindu kembali bertemu atau hanya untuk diceritakan ke wajah-wajah polos yang penuh mimpi. 

Pada bukunya Travel In Love, pasangan Liang Lu dan Li Qi mengisahkan perjalanan mereka mengelilingi china. Mengelilingi 60 kota, 14 provinsi, dan wilayah-wilayah lain. Melihat lembah kupu-kupu yang  -sayangnya- sudah jarang terlihat kupu-kupunya. Merasakan matahari terbit 3 kali di kampung halaman matahari. Merasakan pendakian ke gunung 4 gadis. Bertemu patung Budha terbesar di Leshan yang ternyata tidak hanya satu tapi ada dua patung Budha.

Dikemas dengan sangat romantis dan detail layaknya buku-buku perjalanan. Meski semua hanya berawal dari sebuah catatan perjalanan, yang bahkan hanya berupa coretan, foto, memori yang terpotong-potong dan ide yang berhamburan.

Seorang teman yang seorang petualang dan pembaca beberapa saat lalu juga telah berhasil mengeluarkan sebuah buku yang sejenis. Para Pemuja Matahari, oleh Luthfi Retno Wahyudyanti. Memang tidak se-wah Travel in love atau Selimut Debu karangan Agustinus Wibowo. Namun melalui gaya penuturannya sendiri, kita dapat diajak untuk membuktikan sebuah pepatah. “Bahwa dunia tidak selebar daun kelor”

Dan sekali lagi semua itu karena adanya sebuah catatan perjalanan. Yang bisa berbentuk apapun juga. Karena sebagai umumnya catatan, hanya untuk pengingat.

Teringat beberapa waktu lalu ketika melakukan perjalanan menyusur pantai selatan. Masih terdapat beberapa catatan-catatan perjalanan yang tersebar entah dimana. Sebenarnya banyak sekali cerita yang diperoleh dari perjalanan itu. Mulai dari perenungan, sampai proses pemotivasian diri. Hanya sayang, catatan-catatan itu tidak lengkap dan tidak runtut.

Sedikit menyesal memang, namun bagaimanapun juga seorang manusia dapat berjalan setelah dia jatuh berkali-kali. So, biarlah catatan yang hilang itu menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Bagi saya, anda, dan kita semua.

Untuk selalu mencatat suatu kisah dalam perjalanan hidup kita. Agar  sebuah catatan perjalanan tidak hanya menjadi kisah untuk diri sendiri. Namun dapat menjadi inspirasi bagi lainnya.

Karena setiap manusia berbeda dan istimewa. 

Arkanhendra

nb : akan menyiapkan sebuah catatan perjalanan, pada jejak berikutnya. Selusur Pantai, Wediombo-Drini. 

  1. membaca ini aku jadi seperti diingatkan mas, ada banyak kisah yang tercecer di jalanan, padahal itu menarik untuk diceritakan. Yuk mari, saling mneyemangati untuk menuliskan setiap perjalanan yang telah dilakukan. menuliskan tentang hidup, karena hidup adalah perjalanan. oya ranselhitamku tolong di link kesini yak, nanti ini juga aku link di ransel hitam🙂

  2. hahaha ayoooooooooooo :)) uwis taklink in kok jeng

    • Rajab
    • January 8th, 2012

    gud job bul, catatan perjalanan ku ke puncak rinjani, ngompreng ke bali n lombok serta perjalanan di gorontalo jg perlu untuk diingat2 lg tuh

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: