[a Note] Seorang Ibu dan Anak.

Yogyakarta, di sebuah senja yang indah. Di tahun 2011. Era Reformasi.

***

Suasana sore hari yang cerah. Karena memang sudah waktunya si kemarau tiba. Meski tepat pagi harinya hujan terlahir dari rahim sang mendung. Membasahi jalan aspal hingga membuatnya berwarna hitam pekat.

Sore itu, di sebuah warung. Sambil membaca sebuah Roman berjudul “Jejak Langkah” karya Pramudya Ananta Toer, menikmati senja di kota Jogja. Senja yang untuk kesekian kalinya tergambar indah pada setiap karya fotografi yang menampilkan kecintaan pada alam dan prosesi terbenamnya matahari.

(from rosso99.wordpress.com)

Ketika sedang menikmati perjalanan Mingke yang pergi menuju Batavia dan turun di weltevreden (gambir kata orang Betawi),  2 sosok, ibu dan anak datang mendekat. Bukan bermaksud untuk meremehkan ataupun merendahkan. Sejumput uang recehan telah dipersiapkan untuk pasangan pengemis itu. Tapi ternyata, ‘jangan menilai buku dari sampulnya’ merupakan salah satu pelajaran berharga sore itu.

***

“Mbak, minta mie gorengnya satu ya? Ndak pake telor. Sama minuman es buah satu.” seru si Ibu dengan logat seorang yang terdidik.

Ada yang aneh? Ya!

Si Ibu tersebut berpakaian compang camping ala kaum pengemis kaypang dalam film ‘The return of condor heroes’ . Melihat dari keadaan kostum yang dipakai, tentunya sangat jarang seorang ibu-ibu yang dengan fasihnya berbahasa indonesia tanpa logat kedaerahan, bahkan mungkin tidak ada?

Sekali lagi tanpa sedikitpun bermaksud merendahkan atau menghina sesama manusia ataupun bersifat kedaerahan. Namun dari gaya bicaranya dan caranya memesan menu, nampak benar bahwa paling tidak si ibu ini pernah mengenyam pendidikan. Meski hanya sampai 9 tahun. Sesuai perintah di masa Orde Baru.

Positive thinking, itulah yang terbersit dalam pikiran. Mengapa tidak di jaman yang serba modern ini, seorang pengemis tidak melulu seorang gembel yang tidak tahu adat dan seenaknya sendiri atau berkesan bar-bar dan pribumi. Hanya bermodalkan meminta, tentunya tidak memerlukan bahasa yang sopan dan tertata apalagi pendidikan menahun.

Mungkin, hal ini menjadi salah satu pembeda antara Orde Baru dan Orde Reformasi. Tidak hanya lingkup pemerintahan yang bereformasi. Namun bolehlah lingkup sudra, jika menilik dalam kasta hindu kuno, mengalami reformasi juga. Apakah ini berarti Orde Reformasi berhasil atau tidak, bukan kapasitas saya untuk menjawab.

***

Berusaha kembali ke buku Roman yang sempat teracuhkan selama beberapa saat, pun ternyata tidak sanggup. Kembali beberapa hal tentang si Ibu dan Anak ini menyentak kesadaran. Menguapkan perjalanan Mingke dalam tetraloginya yang ketiga ini.

Nama. Apalah arti sebuah nama. Seorang Bos bisa bernama siapapun juga. Bahkan seorang pembunuh pun berhak menyandang nama sehebat George, atau Udin (‘din berarti agama dalam islam) sekalipun.

“Ayo Jessica, makannya dihabisin. Jessica, .. ayo donk.” kata si Ibu lemah lembut.

Mungkin rasis nama adalah ungkapan yang tepat menjadi kambing hitam. Meski belum pernah ada seorang gembel bernama Alexander bukan berarti seorang gadis kecil bernama Jessica harus berganti nama. Meski dia seorang pengemis.

Nama, bisa berarti sebuah doa. Mungkin sang ibu sangat mencintai anaknya sehingga memberikan nama terindah untuk putrinya. Meski keadaan mereka tidak seindah mimpi-mimpi ketika tidur menyapa.

Cinta seorang ibu dan anak ini mengingatkan kembali kepada tokoh Mingke. Pada Roman yang sekali lagi sempat teracuhkan. Tokoh Bunda yang ditampilkan sangat mencintai anaknya sehingga rela melepas anaknya pergi. Rela kasih sayangnya terenggut oleh mimpi sang anak untuk mencari jati diri. Sungguh benar kata orang, ‘kasih sayang ibu sepanjang jaman’

***

“Permisi mas, ” kata si Ibu meminta ijin untuk duduk bersebelahan.

“Mari Bu,…”

Duduk di dekat seorang ibu, yang begitu penuh kasih terhadap anaknya, telah berhasil mengembalikan perhatian kepada perjalanan Mingke. Tepat ketika  Mingke sampai di weltevreden. Untuk kemudian menuju ke S.T.O.V.I.A (School tot Opleiding van Indlandsche Arsten*)

Meninggalkan si Ibu yang dengan lahap menyantap makanan bawaannya. Sebuah nasi padang dengan porsi nasi seorang laki-laki berlaukkan ayam. Dengan tangan dibungkus plastik -tanpa sendok- disamping Jessica, anak perempuannya.

Arkanhendra

*) Sekolah untuk pendidikan Dokter Pribumi. 


  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: