Pinokio’s spirit

Kamar yang berantakan. Layaknya keadaan kapal flying dutchman yang legendaris dan misterius. Bertumpuk buku-buku dari majalah sampai sebuah notes yang hanya tercoret-coret dibagian awal dan bersih di bagian lainnya. Keadaan di tempat tidur pun tidak kalah serunya. Bantal dan guling yang terlihat lelah berada dalam keadaan teratur mulai memutuskan untuk bercerai dengan kerapian. Sampai para sarung yang menghiasinya hanya bisa teronggok entah dimana. Jika kapal flying dutchman dinobatkan menjadi kapal paling menakutkan dan penuh aura mistis, maka kamar Jendra akan selalu menjadi yang nomor 2.

Sebuah radio tape dengan bagian radionya saja yang masih berfungsi, cukup sukses menampilkan lagu-lagu penghibur. Mulai dari band lokal sampai band luar negeri. Hanya sayang, lagu-lagu yang terdengar menambah suramnya kamar Jendra, yang memang sudah suram seperti biasa.

Genap sudah 3 jam seonggok tubuh kurus itu bergulat dengan ranjangnya. Berkelahi dengan gelapnya kamar. Bertempur sengit melawan nyamuk-nyamuk yang senang mempermainkannya. Malam itu entah kenapa mahluk penunggu mirip-kapal-flying-dutchman tampak gelisah. Jika gundah dan gulana sudah tidak bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

“Brengsek!” umpatnya dalam hati.

Malam itu, kamar gelap tanpa saluran udara yang baik akhirnya berhasil menobatkan dirinya menjadi surga dunia bagi para penggemar insomnia. Dan Jendra, seperti biasa merutuki kegagalan untuk kesekian kalinya.

Siang harinya di ruangan kelas selepas jam pelajaran terakhir.

“Ndra kamu ntar ikut latihan to?” tanya Jonathan sambil membereskan pernak-pernik alat tulisnya.

“Wah ndak tau Jo, lihat ntar aja deh.” jawabnya datar, tanpa ekspresi.

Hari jumat yang pendek dan membosankan seperti biasa telah usai. Bel sekolah yang berbunyi merdu sukses memerankan tokoh dewa kematian bagi semua pengetahuan yang diajarkan oleh para guru di SMA Jagad Lima. Meski begitu, hal itu tidak membuat para siswa segera pulang kerumah untuk beristirahat. Seperti biasa meski jam sekolah sudah usai, namun jam bermain baru saja dimulai. Apalagi bagi para calon anggota tim basket SMA Jagad Lima.

“Semangat bener itu anak-anak. Mau ngapain mereka?” kata Damas sambil berjalan mendekati Poli.

“Itu, pada nanyain siapa aja yang kepilih, terus nanya-nanya apa nanti sore lapangan boleh dipakai. Biasalah awal-awal pasti mereka semangat, ntar juga pada hilang. Seperti biasanya Mas.” sahut Poli datar.

“Kita lihat saja.” terang Damas sambil melihat Normandy dengan beberapa temannya berlalu pergi.

Di belakang sekolah, tepatnya di sebelah kantin, Jendra sedang menunggu minuman pesanannya dibuat. Sambil mengisap rokok sebagai penanda statusnya sebagai anak-sma-yang-merasa-dewasa dia teringat ajakan Jonathan untuk datang di latihan nanti sore. Jendra sebenarnya mau-mau saja ikut datang, meski dia tahu semuanya akan sia-sia. Latihan demi latihan yang telah dilakukannya sepanjang minggu bersama Gede, kakak kelas semasa smpnya sepertinya akan benar-benar gagal membawanya ke dalam tim.

“Tim basket ini bukan untukku, aku hanya akan menjadi penonton di pinggir lapangan, seperti biasa.” keluhnya dalam hati.

Selama beberapa saat dia hanya terdiam menanti segelas es teh yang tak kunjung datang. Sampai beberapa saat kemudian, datang Yudha, senior kelas 3 yang juga anggota tim basket Jagad Lima. Karena pernah beberapa kali bertemu ketika latihan, dan sikap segan kepada para senior Jendra memutuskan untuk menyapa Yudha terlebih dahulu.

“Mas Yud, …” sapanya.

“Eh, kamu, siapa namamu? Lupa aku.” jawab Yudha.

“Jangankan terpilih, namaku saja mereka lupa.” pikir Jendra.

“Jendra, mas.” sahutnya pelan.

“Oh iya, Jendra… masih sering latihan to?” tanya Yudha sambil duduk di kursi di sebelahnya.

“Mmm, ndak tahu mas,… soalnya ndak sempet.” Sebuah kebohongan yang sia-sia belaka.

“Loh kenapa? Apa gara-gara ndak kepilih terus malas latihan?”

Yudha, sang peramal yang telah sukses membongkar sebuah kasus besar tampak  menari-nari di benak Jendra. Menegaskan dirinya sebagai sang tertuduh yang sudah tidak bisa mengelak dari takdir.

“Hah? ndak kok mas. Emang lagi banyak tugas.” jawabnya tiba-tiba.

Meski sudah bertumbuh panjang hidungnya, si pinokio ini masih saja berbohong. Dasar anak tidak tahu diri.

“Udah sante aja Ndra kalau emang ndak bisa.”

Senyum tipis menghiasi wajah Yudha karena melihat sang pinokio sudah tidak dapat mengelak lagi dari kebohongannya.

“Oh iya, gimana lay up yang diajarin Gede kemarin? Udah bisa?”

Sambil menyingkirkan gelas yang kosong Yudha berusaha mengalihkan pembicaraan. Untuk sejenak dia berusaha memikirkan cara yang pas untuk membangkitkan juniornya ini dari keterpurukan.

“Oh, lumayan mas, sudah tidak walking (pelanggaran menambah satu langkah dalam langkah kaki di basket) lagi. Tapi masih sering ndak masuk.”

“Lumayan itu, sudah bisa ndak walking lagi. Kalau masalah masuk nggaknya tinggal akurasi pantulan waktu ngelepas bolanya aja.”

Meski sudah di puji, tampaknya sang peramal belum juga sukses membangkitkan semangat si pinokio juniornya itu.

“Ndra, tau nggak alasan sebenarnya dari kita bikin seleksi?” tanya Yudha tiba-tiba.

“Loh bukannya buat milih anggota tim baru ya?”

“Hmmm, salah besar…” jawab Yudha dengan nada rendah serendah-rendahnya seolah-olah mereka sedang berada dalam tugas mata-mata.

Jendra, si pinokio yang berhidung panjang tampak terkejut bukan main. Dia tidak pernah berpikiran bahwa seleksi yang dilakukan beberapa waktu lalu ternyata tidak untuk mencari calon anggota baru. Pikirannya mulai berselancar dalam lautan kemungkinan. Dia berusaha mencerna kembali perkataan seniornya itu dengan lebih seksama.

“Loh terus buat apa mas?”

“Itu semua hanya formalitas, Ndra. Seleksi yang sebenarnya tidak sesingkat itu. Justru baru dimulai nanti setelah beberapa pertandingan persahabatan yang sudah di rencanakan.” jelas Yudha.

“Formalitas, mas?” tanya Jendra semakin penasaran.

“Yoi.” jawab Yudha singkat.

Dari Yudha ternyata Jendra baru tahu, bahwa seleksi di Jagad Lima tidak seperti di sekolah-sekolah lain. Yang menitik beratkan pada pencarian bibit-bibit unggul dari para siswa baru. Di SMA Jagad Lima ternyata seleksi yang dilakukan menggunakan ajaran Charles Darwin. Seleksi Alam.

Setelah memaksa Jendra untuk bersumpah agar tidak membocorkan sebuah rahasia tingkat tinggi yang bahkan seorang presiden pun tidak boleh mengetahuinya, Yudha pun menjelaskan padanya sistem yang bekerja di SMA Jagad Lima. Dan sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Yudha menjelaskan bahwa demi mencari anggota tim basket yang baik, tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Seperti menggelar seleksi yang melibatkan para siswa baru, akhir-akhir ini. Seleksi yang sebenarnya tidak berlangsung sesingkat itu. Tapi justru hampir memakan waktu satu tahun kedepan. Alasannya sederhana, karena mereka menginginkan anggota yang benar-benar menyukai basket dan tidak hanya sekedar untuk mencari ketenaran semata. Tidak hanya untuk di agung-agungkan dihadapan teman-temannya karena telah berhasil memasuki tim basket Jagad Lima. Dan nantinya berakhir pada artis wanna-be.

Menurut Yudha, biasanya di awal-awal para calon anggota baru ini sangat bersemangat dalam menjalankan latihan apalagi jika di beri embel-embel seleksi. Namun nantinya ketika dihadapkan pada sistem latihan yang keras mereka justru mundur teratur.

“Nah makanya, Ndra bukan berarti kamu ndak kepilih seleksi kemarin dan ndak main di pertandingan minggu depan terus kamu ndak bisa masuk tim. Asal kamu mau tetep semangat latihan terus ndak menyerah, kamu pasti bisa masuk tim dan bermain. Percaya deh!” kata Yudha sambil kembali memesan segelas es teh.

“Gitu ya mas?” sahut Jendra ragu-ragu.

“Betul.”

Sesaat sinar cerah mulai nampak di wajah Jendra. Awan kelabu yang menyelimutinya beberapa hari ini sampai-sampai membuat malam-malamnya beralih siang telah pergi. Untuk sesaat meski dia tahu tidak terpilih seleksi, tapi dia tidak merasa kecewa. Justru ada hal baru yang menggerogoti hatinya. Sebuah keinginan akan pembuktian. Pembuktian bagi dirinya sendiri. Bahwa dirinya bukan orang gagal.

Setelah berhasil membangkitkan semangat juniornya itu, Yudha pun segera bergegas pergi tepat saat Hanugra dan Jonathan datang ke kantin. Di belakangnya Henky dan Kalingga yang baru saja keluar dari kamar mandi juga berjalan mendekat.

“Loh si Normandy mana?” tanya Jonathan.

“Bentar dia lagi dipanggil sama mas Poli.” jawab Hengky.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: