Crazy Boys

Bel tanda usai pelajaran berbunyi nyaring. Pertanda berakhirnya dongeng nina bobo dari sang wali kelas, Mr Keman. Guru bahasa inggris yang eksentrik ini selain jago berbahasa inggris rupanya juga ahli dalam mendongeng. Entah karena profesi sampingan sebagai dalang atau tidak, tidak ada yang tahu. Intinya sang guru yang juga wali dari kelas 1-3 ini memang berhasil mengantarkan beberapa muridnya menuju alam mimpi yang indah dan memikat.

Sambil berkemas-kemas, Hanugra membangunkan Jendra yang sudah 30 menit terakhir menikmati dongeng Mr Keman sampai tidur lelap.

“Ndra bangun, mau pulang ndak kamu?”

“Hehh? Dah pulang to?” sahut Jendra sambil mengusap-ngusap matanya berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Siang itu meski bel tanda berakhirnya jam sekolah sudah berbunyi seperti biasa tidak semua siswa melanjutkan pulang untuk beristirahat dirumah. Hanya mereka, siswa-siswa yang patuh pada orang tua, rajin menabung dan tidak sombonglah yang melakukan rutinitas tersebut. Sebuah rutinitas yang tentunya menyebalkan bagi segelintir siswa yang lain.

Jendra yang satu kelas dengan Hanugra dan Jonathan pastinya tidak termasuk pada golongan anak-anak yang ‘baik’ tersebut meski mereka selain rajin menabung, mereka juga tidak sombong. Dari lorong kelas terdengar suara Hengky dan Kalingga yang berada satu kelas memanggil ketiga anak itu.

“Loh si Normandy mana?” tanya Jonathan.

“Bentar dia lagi dipanggil sama mas Poli.” jawab Hengky.

Meski hampir sebagian penghuni sekolah sudah pulang kerumah masing-masing atau rumah pasangan masing-masing, ternyata para siswa kelas 3 tidak bisa menikmati indahnya pulang sekolah bersama-sama. Karena telah mendekati tahun akhir mereka diharuskan untuk mengikuti jam tambahan yang diadakan sekolah. Sehingga lengkap sudah petualangan mereka di dunia buku serta rumus-rumus selama sehari penuh. Belum lagi jika nanti sepulang jam tambahan mereka mengikuti bimbingan di luar sekolah. Indahnya masa remaja di tahun-tahun akhir.

Mengambil tempat di kantin, keempat anak kelas satu itu sedang menanti kabar dari temannya. Kabar tentang kepastian pertandingan persahabatan melawan SMA Eka Teladan. Jendra yang terbilang paling baru bermain basket sebenarnya merasa enggan untuk ikut berkumpul. Dia tahu bahwa di pertandingan nanti dia tidak akan diikut sertakan. Berbeda dengan kedua teman sekelasnya, Hanugra dan Jonathan.

That whats friend all for. Mungkin kalimat dalam bahasa inggris itu menjadi salah satu alasan mengapa Jendra tetap mau ikut berkumpul meskipun dia tahu bahwa perjalanannya untuk masuk ke tim basket Jagad Lima masih panjang. Demi alasan solidaritas Jendra mau-mau saja diajak oleh Hanugra dan Jonathan.

Tidak berselang lama, Normandy datang bersama beberapa temannya. Teman sekelasnya yang -sayangnya- memiliki nasib yang sama dengan Jendra. Para calon anggota yang masih jauh menjadi anggota.

“Gimana Man, ada kabar apa?” tanya Jonathan.

“Sudah fix, sementara besok dari kelas satu yang ikut, aku, Kalingga, Jonathan, Henky dan Hanugra. Tapi kalau yang lain mau pada datang boleh-boleh aja.” jelasnya.

“Oke kalau gitu, ayo kita siap-siap. Ndra kamu bawa bola to?”

“Ada Ngga santai.” jawab Jendra.

“Oh ya Jo, ntar kamu yang bantuin kita-kita latihan ya?” kata Normandy.

“Hah? Aku? Mmm, latihan bareng-bareng aja deh.” sahut Jonathan berusaha mengelak menjadi pelatih dadakan.

Dan beberapa jam kemudian, ketika lapangan sudah benar-benar sepi dan hanya meninggalkan beberapa orang guru dan siswa senior yang masih melepas penat setelah seharian bergumul dengan buku dan rumus. Tampak kelima anak sedang asyik bermain basket. Jonathan yang meski datang terlambat tetap di daulat untuk menjadi pelatih dadakan sore itu.

Ternyata dari 8 anak yang berkumpul siang tadi di kantin praktis hanya 5 orang saja yang datang. 3 orang lainnya memilih untuk absen tanpa alasan yang jelas. Entah karena dijamin pasti belum akan dimainkan jadi merasa tidak perlu berlatih atau ada hal lain yang mendesak mereka tidak tahu, dan sebenarnya tidak peduli. Hanya tinggal Jendra saja salah satu calon anggota yang masih memiliki predikat belum akan jadi anggota, yang mau datang ikut berlatih.

Sebagai menu pertama, Jonathan mengajak teman-temannya untuk peregangan dan pemanasan ringan. Meski Hengky dan Hanugra juga terbilang hasil didikan klub seperti Jonathan tapi, entah kenapa keempat anak itu sepakat menjadikan Jonathan sebagai pemimpin mereka. Dan Jonathan yang sebenarnya sudah enggan untuk bermain basket, berdasar pada rasa segan untuk menolak akhirnya bersedia menjadi pemimpin mereka meski hanya dalam latihan ringan.

Sore itu Damas yang sedang mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dikagetkan oleh kedatangan Poli yang meski mengikuti bimbingan yang sama namun berbeda kelas.

“Mas, jam kedua mu apa?”

“Bahasa inggris, kenapa Pol?”

“Bolos aja yuk lagi males ni, yang ngajar tempatku ndak enak. Mana pelajarannya bahasa indonesia lagi, bosen aku.”

Akhirnya dengan wajah sumringah, Damas yang memang sudah pandai bahasa inggris mengiyakan keinginan Poli untuk membolos. Dan seperti biasa tidak ada tujuan lain ketika mereka membolos selain rumah Edo atau Yudha. Karena kebetulan Yudha sedang pergi bersama ibunya, akhirnya mereka berbelok arah ke rumah yang penuh pusat hiburan masa remaja. Rumah Edo.

Dengan dilengkapi internet yang tanpa batas pemakaian, sebuah playstasion, dan segudang majalah baik dari majalah musik, olahraga bahkan sampai majalah dewasa. Kamar Edo yang lumayan luas memang sering menjadi tempat pemuas dahaga bagi teman-temannya. Keadaan ekonomi Edo yang berada diatas rata-rata tentunya menjadi salah satu kambing hitam yang patut dipersalahkan.

Sesampainya di rumah Edo seperti biasa, si tuan rumah yang jago tidur sedang bermalas-malasan di depan komputernya sambil melihat video rekaman pertandingan NBA terbarunya yang baru saja di download. Poli dan Damas yang baru saja datang tampaknya sudah tidak mengagetkannya. mengingat 2 orang ini adalah 2 siswa paling rajin yang datang kerumahnya. Meski hanya sekedar untuk bertemu kakaknya yang memang cantik.

“Eh Boring ni, Basketan yuk!” seru Edo.

“Wah ide bagus tu. Ayo-ayo!” sahut Damas semangat.

Meski rajin dan dianugrahi otak yang pintar, hanya cewek dan basket yang mampu membangkitkan semangatnya. Poli yang tampak memang sedang tidak sehat pun segera berbinar-binar matanya mendengar ajakan Edo. Seperti sebuah kata kunci untuk memasuki semua website dewasa yang sering mereka tonton.

“Tapi mau basket dimana ini? Lapangan di komplek lagi dipake buat kawinan. Terus kalau mau ketempat Yudha, kayanya dia juga belum pulang.” kata Edo.

“Ya kalau gitu ke sekolah aja, sekalian ntar malam kan latihan.” jawab Damas.

“Eh betul itu. Sekalian aku juga penasaran sama anak-anak kelas 1. Soalnya tadi mereka nanya-nanya kalau sore lapangan di pakai ndak. Sepertinya mereka pada mau latihan sendiri.” jelas Poli sambil teringat ketika tadi siang bertemu Normandy.

“Wah beneran? Rajin bener. Kita aja ndak rajin-rajin amat. Jangan-jangan cuman pada kongkow-kongkow aja terus malah ndak latihan.” balas Edo.

“Makanya itu aku penasaran, Do. Yuk berangkat.”

Dan setelah bersiap-siap sambil membawa perlengkapan untuk latihan malam, ketiga senior itu pun bergegas ke sekolah. Sesampainya di sekolah mereka kaget bukan main. Mereka tidak menyangka bahwa di pojok lapangan sekolah sudah tergeletak 5 tubuh kurus yang bersandar di tembok sekolah dengan keringat yang mengalir deras disetiap tubuhnya.

“Hah, pada ngapain kalian? Bukannya latihannya nanti malam?” tanya Edo yang terkejut melihat kondisi tubuh-tubuh itu.

“Hehehe, kita latihan sendiri mas. Tapi ntar malam kita juga tetep datang kok.” jawab Normandy sambil mengelap keringat di sekujur tubuhnya.

Seperti bisa saling membaca pikiran masing-masing, mereka -ketiga senior itu- hanya bisa terdiam dan saling pandang.

“Pol, sepertinya tahun ini kita dapat bibit-bibit yang bagus.” kata Edo pelan yang disambut senyum tipis Poli.

“Not just good, but crazy.”  tambah Damas.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: