2nd Chance

“Bah, Mamah, Jo pulang ni.” teriak Jontahan sepulangnya kerumah.

Mendengar teriakan anaknya itu bukan main kagetnya Si Abah dan Mamah. Dalam ingatan tua mereka, terakhir anak itu pulang sambil berteriak-teriak kegirangan adalah ketika memenangkan lomba basket pertamanya. Tidak setiap hari Jonathan pulang dengan penuh kegembiraan layaknya anak yang mendapat mainan baru.

“Jo, kunaon datang-datang bukannya assalamualaikum, malah nyarocos teriak-teriak. Eta anak mamah teu ngarti sopan santun?” tanya si Mamah.

“Heheh sory Mah. Eh Bah, ntar aku pinjem motornya yak? Mau latihan lagi habis ini di sekolah.”

“Loh bukannya kamu teh barusan latihan?”

“Tadi latihan sama temen-temen satu angkatan Bah, kalau yang ntar malam mah latihan buat tim nya.” sahut Jonathan sambil sibuk mengeluarkan bajunya yang basah oleh keringat.

“Ya udah, mandi dulu sana. Ntar Abah anter aja, Abah sekalian mau pergi.” sahut si Abah.

Sambil mematikan rokoknya ke asbak, Abah memandang heran kearah anaknya. Masih segar di ingatan si Abah betapa anaknya tidak terlalu bersemangat terhadap hal-hal yang berbau basket sejak kekalahan terakhir yang dialaminya waktu smp. Namun, meski begitu si Abah tampak senang, akhirnya Jonathan mampu menerima kekalahannya dan tidak terlalu larut dalam kesedihan.

Memang aku sudah memutuskan untuk berhenti basket. Tapi sepertinya bukan saat ini dan di sekolah ini. Sambil meletakkan baju di jemuran belakang rumah, aku bergegas mengambil handuk di kamar untuk mandi. Singkatnya aku harus mandi secepat dan sebersih mungkin, mengingat aku hanya punya waktu sekitar 1-1,5 jam untuk mengganti pakaian, mandi dan istirahat sebentar.

Setelah selesai mandi, sambil bersantai di kamar, kupandangi foto Scottie Pippen di dinding kamarku. Salah satu tokoh idolaku dalam dunia basket. Seorang pemain bertubuh tinggi dengan kemampuan shooting (tembakan) 3 point nya yang bagus. Aku benar-benar tidak menyangka, keputusanku untuk berhenti basket telah kulupakan. Keinginan untuk tidak lagi memegang bola basket mendadak hilang dari pikiranku. Dan semua berawal dari suatu sore di lapangan basket SMA Jagad Lima.

Seperti yang sudah dijanjikan sepulang sekolah, sore nanti sekitar pukul 15.00 aku diajak untuk berlatih basket bersama 4 orang temanku. Meski pada awalnya kami mengajak 8 orang teman, namun nyatanya hanya 5 orang yang bersedia meluangkan waktunya. Waktu itu aku sebenarnya masih enggan untuk datang. Tapi karena perasaan tidak enak, akhirnya kuputuskan untuk datang juga ke lapangan.

Sebagai orang yang sudah mengenal basket dari kecil, aku sedikit banyak mengerti tentang teknik-teknik latihan. Mungkin atas dasar itulah keempat orang temanku itu menunjukku sebagai pelatih dadakan nanti sore. Dan sebagai teman yang baik, aku tidak tega mengecewakan mereka meski dengan perasaan jengah.

Sesampainya di lapangan tampak 5 orang temanku sudah datang dan bersiap-siap. Bahkan Jendra yang sudah dipastikan belum-akan-jadi-anggota pun datang. Meski sempat kaget karena semangat mereka, namun tidak serta merta membuatku kembali bersemangat dalam bermain basket. Sampai sebelum latihan, keinginanku hanya satu. Datangnya hujan. Agar aku bisa mempunyai alasan untuk menyelesaikan latihan.

Sebagai seorang pelatih dadakan aku tidak menyiapkan begitu banyak menu latihan sore itu. Hanya model latihan-latihan standar yang pernah kuterima ketika berlatih di Klub, baik ketika di bandung maupun saat di jogja. Dan kuputuskan untuk sedikit menguji tekad keempat temanku itu dengan mengajak mereka latihan fisik.

Selesai peregangan sesi latihan sore itu kumulai dengan jogging keliling lapangan dengan kecepatan yang berubah-ubah dari lambat menjadi lebih cepat. Tentunya aku juga ikut serta. Seusai jogging kami melakukan latihan menyerang dan bertahan, dan seterusnya dengan interval setiap latihan kami beristirahat singkat sekitar  2 menit.

“Edan, Jo ternyata kamu selain pinter basket mbakat juga jadi pelatih.” kata Normandy setelah kurang lebih 1,5 jam berlatih.

“Ah, masa? Itu cuman latihan-latihan standar yang aku tahu kok.” sahut Jonathan datar.

Meski dia menyukai olahraga ini, tapi tidak terbersit pun pikiran untuk menjadi pelatih suatu saat nanti. Sebuah perkiraan yang rupanya salah pada waktunya.

“Weh, Jo, merendah kamu. Kita juga kalau latihan di Garda Mataram ndak gini-gini amat, kok.” sahut Henky.

“Karena itu klub kalian selalu kalah melawan klubku.” kata Jonathan dalam hati.

“Weh Ndra, kamu paru-parumu itu terbuat dari apa sih? Apa ndak capek kamu.?” tanya Hengky ketika melihat Jendra yang masih sibuk berlatih lay up.

Hanya sebuah senyuman yang membalas panggilannya. Dia kembali sibuk dengan mengulang-ulang teknik lay up yang diajarkan oleh Jonathan. Dulu ketika kecil dia pernah sekali diajari oleh temannya. Namun karena waktu itu dia kurang memperhatikan dan malah asyik sendiri, sedikit banyak dia menyesal. Karena andai dulu dia memperhatikan arahan temannya, tentunya dia bisa memasukkan bola berwarna oranye itu ke ring di atasnya.

Untuk sesaat Jendra merasa dia memang tidak berbakat dalam olahraga ini. Tapi kata-kata penyemangat dari Jonathan terus terngiang-ngiang di kepalanya. Setiap pemain bagus tidak begitu saja terlahir dengan kemampuan yang hebat. Semua tergantung dari kemauan kerasnya untuk berlatih dan tidak pernah menyerah.

Meski kata-kata tersebut terdengar terlalu tinggi, tapi Jendra merasakan ada hal yang berbeda dalam dirinya. Dirinya yang selalu menyerah ketika di hadapkan pada suatu masalah. Dulu ketika SMP dia pernah mencoba ikut dalam ekstrakurikuler basket. Namun karena larangan dari orang tuanya dia memutuskan untuk menyerah dan tidak melanjutkan latihan. Pernah juga karena ketahuan orang tuanya mengikuti kegiatan baris berbaris agar dapat masuk ke Pleton Inti di SMP dia memutuskan untuk mengundurkan diri. Meski dia sudah terpilih dari seleksi ketat yang dilakukan para senior.

Pada olahraga basket, dia seperti menemukan jati dirinya. Dia seakan menemukan kekasih atau belahan jiwanya yang telah lama hilang. Hilang ditelan ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan. Ternyata memang benar, bahwa masa sma adalah masa-masa yang patut dikenang karena di masa itulah kita melakukan proses penemuan jati diri.

Meski sedikit letih namun sepertinya Jonathan merasa nyaman berada bersama teman-teman barunya itu. Selain karena mereka sangat berbeda dengan beberapa teman-temannya ketika smp, Jonathan merasa ada yang lain dalam kebersamaan tersebut. Seakan-akan dia merasa memiliki semangat yang sama dengan mereka. Memang dari segi teknik mereka tidak lebih baik dari teman-teman smpnya yang notabene hampir semuanya didikan klub. Tapi kemauan dan tekad mereka yang keras membuatnya sedikit demi sedikit melupakan kekecewaannya terhadap bola basket. Dalam diri Jonathan diam-diam tumbuh sebuah harapan untuk kembali menyukai olahraga yang telah digelutinya sejak kecil ini.

Suasana yang menyenangkan sore itu tampaknya telah berhasil mengobati kekecewaan jonathan. Prediksinya bahwa latihan itu akan berjalan ala kadarnya dan ala kuatnya hilang dari pikirannya. Meski kadang masih mengeluh namun tetap saja mereka berlatih dengan semangat gembira. Sebuah atmosfir yang sangat berbeda saat dia berlatih di SMPnya. Dimana beberapa temannya hanya sibuk show of atau pamer didepan siswi-siswi yang dengan teriakan histerisnya memanggil-manggil nama mereka.

“Sepertinya masa SMA ku akan lebih menyenangkan dari yang kukira. Tuhan terimakasih atas kesempatan kedua yang Kau berikan.” batin Jonathan

Arkanhendra

    • fandicakep
    • May 31st, 2011

    Mas gundul,

    kenapa fotomu ngadap belakang? jerawatan ya?

    hihi…

    becanda ah. tulisannya keren ni.

    jejak licin sang bekicot yg lebih baik dripada jejak lgkah presiden yg pengecut.

    jejak buat semua.

    halah..ngomong opo ki….

  1. hahahah karena tampak keren bos …😀 suwun sudah mampir

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: