The Famous Ekskul

Waktu menunjukkan pukul 15.00 sore WIB. Dengan kaos oblong bertuliskan ‘I Love Jogja’ dan celana sma nya yang tampak sesak karena celana pendek basket yang dipakai didalamnya seorang anak laki-laki mengayuh sepedanya berburu dengan waktu.

“Aku tidak boleh terlambat.” katanya dalam hati sambil mengusap keringat di kepalanya.

Sore itu merupakan hari pertama diadakannya ekstrakurikuler basket di SMA Jagad Lima. Sebagai salah satu ekstra yang paling diminati di sekolah, tentunya bola basket mendapat perlakuan berbeda dari pihak sekolah. Seperti diperbolehkannya memulai kegiatan ekstra lebih awal dibanding ekstra yang lainnya.

Sambil terus mengayuh sepeda mustang berkaratnya, pikiran anak itu melayang ke beberapa waktu lalu. Hari terakhir kegiatan Ospek. Hari dimana perkenalan kembalinya dengan bola basket. Di hari itu, untuk menambah keakraban selain untuk unjuk diri, sie basket dari kepengurusan OSIS menggelar pertandingan eksibisi. Dimulai dari pertandingan basket antar kelas untuk memilih 10 orang yang nantinya akan di tandingkan dengan tim basket SMA Jagad Lima.

Sore itu, meski kelasnya kalah di pertandingan terakhir namun Jendra patut senang karena 2 dari keempat temannya ikut dipilih dalam pertandingan melawan para senior yang dijuluki All Star. Kedua temannya itu adalah Hanugra dari smp Jetis dan pastinya Jonathan dari smp Pejaksan.

Meski ikut senang kepada ke dua temannya, namun ada juga perasaan kecewa di hati Jendra.

“jika dulu aku tidak sakit, dan tetap bermain basket pastinya aku juga akan terpilih.” kata Jendra dalam hati.

Memang Jendra sudah memutuskan untuk memilih ekstra sepakbola sebagai salah satu ekstra yang akan diikutinya setahun kedepan. Namun tepat setelah pertandingan itu, ditambah pertemuannya dengan Gede, sepertinya mulai muncul keraguan dalam hatinya untuk tetap memilih sepakbola sebagai salah satu ekstra pilihan yang akan diikutinya. Apalagi ditambah jadwal latihan sepak bola yang jatuh pada hari minggu dan mengambil tempat latihan yang agak jauh dari rumahnya.

Karena beberapa alasan sederhana mengenai transport dan lain-lain, Jendra akhirnya memutuskan untuk mengganti kegiatan ekstranya. Sebuah pilihan yang nantinya akan merubah masa remajanya di sma menjadi penuh liku dan petualangan yang menyenangkan.

Sesampainya di lapangan, ternyata benar apa yang diperkirakannya. Di sebuah lapangan yang setiap hari senin pagi dipakai sebagai tempat upacara telah dipenuhi beberapa anak siswa baru dan beberapa senior. Baik senior kelas 2 maupun kelas 3.

Setelah memarkirkan sepeda berkaratnya dia segera mendekati Jonathan yang sedang duduk di pojokan bersama Hanugra dan Hengky.

“Jo, Gra, Ki, dah mulai apa?” sahut Jendra sembari duduk dan mengambil bungkusan berisi -bukan- sepatu basketnya.

“Belum kok.” jawab Hanugra.

“Eh Ndra kamu nyepeda to? emang rumahmu deket?” tanya Jonathan yang tampak penasaran.

“Lumayan sih Jo, hampir setengah jam lah.” kata jendra datar.

Mendengar jawaban yang terkesan seakan bukan hal yang luar biasa, Jonathan sempat kagum pada teman barunya itu. Dengan melihat tubuhnya yang sudah basah oleh keringat, Jendra tampak masih segar dan bersemangat. Apalagi mendengar jawaban jarak tempuh yang sekali lagi tampak biasa-biasa saja, rasa kagumnya menggugah semangatnya untuk mengikuti ekstra basket yang -sedikit- dipaksakan oleh para seniornya.

Beberapa waktu lalu saat pengisian kegiatan ekstra, Jonathan yang sudah tidak ingin melanjutkan bermain basket di sma memilih kegiatan ekstra PA atau pecinta alam. Tentu saja hal ini membuat para seniornya terkejut bukan main. Setelah mengikuti beberapa seleksi dan latihan, rupanya para seniornya menilai kehadiran Jonathan di tim basket Jagad Lima sangatlah penting. Sebagai seorang pemain basket yang berposisikan playmaker, kehadirannya sangat diperlukan. Selain untuk regenarasi juga pastinya untuk memperkuat lomba-lomba yang akan diikuti pada satu tahun mendatang.

Meski di posisi itu sudah ada Poli, Andre dan Fajar, tetap saja para senior membutuhkan kehadirannya. Apalagi dilihat dari segi teknik, Jonathan memiliki kemampuan diatas Andre dan Fajar, bahkan hanya beberapa tingkat di bawah Poli sebagai pemain terbaik di tim Jagad Lima.

Karena sangat menginginkan Jonathan, maka para senior pun mencari jalan untuk membujuk Jonathan agar mau bergabung. Minimal ikut dalam ekstra basket. Karena itu saat mendengar Jonathan pernah membolos dalam kegiatan wajib Pleton Inti atau baris berbaris yang diadakan sewaktu Ospek mereka pun dengan -sedikit- licik menawarkan opsi pada Jonathan agar terbebas dari hukuman panitia Ospek yang berisikan anggota OSIS.

Agar terbebas dari hukuman membuat surat pernyataan dari orang tua untuk tidak mengulangi kesalahan -membolos- itulah akhirnya Jonathan mau mengikuti saran para senior untuk mengikuti ekstra basket. Dan benar, setelah Jonathan memutuskan untuk mengganti kertaspilihan ekstranya beberapa waktu lalu, panitia keamanan ospek yang bertanggung jawab terhadap masalah kedisiplinan siswa baru membebaskannya dari hukuman.

Sebenarnya tidak sulit bagi Damas, Poli dan Edo untuk sekedar membebaskan Jonathan. Mengingat teman-teman panitia keamanan itu segan pada anak-anak basket. Namun karena tidak ada yang gratis di dunia ini, maka Jonathan pun harus mengikuti saran para seniornya meski dengan terpaksa.

“Priittttt”

Terdengar bunyi peluit yang terdengar dari arah tengah lapangan. Tampak Pak Koes, guru ekstra basket sedang bersiap-siap untuk membuka latihan ekstra perdana tim basket SMA Jagad Lima. Di sebelahnya berkumpul para senior anggota tim basket SMA Jagad Lima. Baik tim putra maupun tim putri. Sepertinya demi mempermudah latihan pak Koes meminta para anggota tim untuk membantunya mengawasi dan melatih para siswa baru.

“ayo Ngga udah dipanggil tuh.” sahut Normandy yang baru saja datang bersama Kalingga teman satu tim basket waktu smpnya.

“Oke, tapi tak pake salep dulu. Kamu kumpul aja, aku nyusul.” sahut Kalingga yang tampak bersemangat setelah dilepasnya gips dari tangannya yang cedera beberapa waktu lalu.

Sambil dibantu oleh para anggota tim basket, pak koes pun membuka latihan sore itu dengan sedikit memperkenalkan diri dan beberapa anggota senior tim basket.

“Oke anak-anak, bapak minta kalian semangat latihan, karena tidak menutup kemungkinan kalian akan ditarik bergabung di tim sekolah. Bahkan jika kalian mampu menunjukkan prestasi, bapak tidak segan-segan akan mempromosikan kalian untuk mengikuti latihan khusus yang diadakan malam hari bersama klub Persatuan.” jelas si bapak berkumis yang masih tampak muda meski sudah berperut ibu hamil.

“Klub Persatuan? keren juga” pikir Normandy.

“Kali ini aku akan membuktikan bahwa aku layak masuk tim.” batin Kalingga.

“Klub Persatuan ya?” kata Hengky sambil menyikut siku Hanugra.

“… Aku bisa masuk ndak ya?” kata Jendra ragu.

“Santai aja Ndra, ntar tak bantuin wes.” jawab Jonathan menenangkan teman sekelasnya itu.

Wajah Pak Koes yang tampak ramah ternyata tidak mencerminkan sifat aslinya. Dengan senyuman penuh arti dia menyuruh kami untuk berlari mengelilingi lapangan sebanyak 15 kali. Sebuah awal yang berat bagi kami para siswa baru. Apalagi buat mereka yang hanya bermodalkan ingin tampil di depan para senior dan cewek-cewek.

Sedang bagi Hanugra, Hengky, Normandy, Kalingga, dan Jonathan 15 putaran tampak kecil dan tidak berarti. Lain lagi dengan Jendra yang tidak merasa apa-apa, karena dia memang tidak tahu apa-apa.

“Basket, kira-kira bapak sama ibu kalau tahu marah ndak ya?” kata Jendra dalam hati. Ketika ingat larangan orang tuanya untuk tidak mengikuti kegiatan ekskul yang memberatkan.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: