Turning Point.

Ospek atau Orientasi Siswa dan Pengenalan Sekolah telah berlangsung selama 5 hari. Seiring berjalannya waktu aku mulai mengenal teman-teman satu kelasku. Bahkan aku sudah tidak lupa lagi nama teman sebangkuku. Ibnu. Tidak hanya teman satu kelas saja, beberapa acara yang di buat secara bersama oleh para senior telah membuat kami paling tidak saling mengetahui dan saling mengenal satu angkatan.  Seperti Aji dan Bayu yang ternyata teman satu SMP ku juga masuk ke sekolah ini. Ada beberapa juga yang kukenali sebagai teman ketika SD dan teman ketika mengikuti sebuah bimbingan belajar dulu.

Secara garis besar kegiatan OSPEK ini bisa dikatakan berhasil. Karena selain kami bisa lebih mengenal teman satu angkatan, kami juga menjadi dekat dengan beberapa senior. Pernah satu waktu aku sempat menghabiskan siang menunggu jadwal sesi baris berbaris di sore hari dengan mengobrol bersama salah seorang senior kelas 3. Baru aku tahu bahwa dia adalah Gede, kakak kelasku waktu dulu di SMP. Dan ternyata dia juga masih mengenaliku.

“Eh Jen, kamu dulu kayanya waktu awal masuk SMP ikut basket kan?” tanya Gede.

“Heheheh iya mas, tapi udah ndak.” jawabku.

“Loh kenapae? Bosen?”

“Ndak papa kok mas.” kataku sambil berusaha menyembunyikan rasa kekecewaanku.

Siang itu Gede mengajakku untuk ikut basket. Dia memang tidak menjanjikan akan diterima masuk di tim, tapi paling tidak dia akan membantu mengajariku bermain basket. Sayangnya keinginannya tidak bisa kupenuhi. Selain memang aku sudah lama tidak berdekatan dengan olahraga tersebut, aku juga memiliki alasan lain untuk tidak ikut serta dalam tim basket.

Suatu ketika sekitar 6-7 tahun sebelumnya, aku divonis oleh dokter menderita sebuah penyakit bernama Flex. Pada waktu itu aku tidak tahu dan tidak begitu peduli tentang penyakit tersebut. Hal itu dikarenakan aku merasa tubuhku baik-baik dan sehat-sehat saja. Aku merasa tidak kekurangan satu apapun. Aku masih bisa bermain, masih bisa bersepeda dan melakukan aktifitas fisik lainnya. Singkatnya, aku merasa tidak sakit.

Ketika itu, hampir setiap pagi, aku dipaksa bangun oleh bapakku untuk diajak lari pagi. Katanya sih petunjuk dokter biar penyakitku cepat sembuh. Waktu itu hampir setiap pagi aku berlari mengelilingi komplek rumahku. Kalau dihitung mungkin setiap pagi aku bisa berlari sampai sejauh 5-6 km. Jika sedang bosan berlari pilihanku jatuh pada bersepeda. Aku sangat senang bersepeda. Waktu SD dan SMP pun setiap hari aku berangkat sekolah dengan bersepeda.

Selepas aku divonis oleh dokter, aku tidak diperbolehkan melakukan olahraga atau aktifitas fisik yang terlalu keras. Seperti baris berbaris, bermain basket atau bola sepak. Cukup aneh dan tidak beralasan bagiku. Disaat aku tidak boleh beraktifitas terlalu berat, justru aku dibiasakan untuk berolahraga. Tapi aku tidak teralalu memusingkan tentang penyakit tersebut, karena aku merasa 5-6 tahun aku menderita penyakit tersebut keluhan yang kudapat hanya ketika aku terlalu capek maka batukku sudah seperti orang sekarat. Selebihnya, tidak.

“Oke deh berarti nek ndak apa-apa besok kita mulai latihan ya?” kata Gede bersemangat.

“Mmm, i.. iya deh mas.” jawabku setelah berpikir tidak ada salahnya ‘mencoba’ sedikit.

Waktu itu aku tidak menyangka bahwa keputusanku untuk ‘mencoba’ sedikit olahraga tersebut dapat mengubah hidupku selama sma. Hidup masa remajaku.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: