White Flag

I know you think that I shouldn’t still love you,
Or tell you that.
But if I didn’t say it, well I’d still have felt it
where’s the sense in that?

I promise I’m not trying to make your life harder
Or return to where we were

I will go down with this ship
And I won’t put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I’m in love and always will be (White Flag -Dido-)

Dengan lantunan lagu white flag yang dinyanyikan oleh dido lewat speaker komputer di kamarku. Sebuah keputusan telah kuambil. Mulai hari ini aku tidak akan menjamahmu lagi. Aku tidak akan memegangmu apalagi berdekatan denganmu lagi. Hari ini aku memulai hari yang baru dengan melupakan semua tentangmu.

“Jo, siap-siap jangan sampai terlambat. Nanti kamu ikut upacara penyerahan siswa baru kan?” kata ibuku dari arah dapur mengingatkanku.

Segera saja kubenahi perlengkapan sekolahku untuk bersiap-siap menghadapi hari yang baru. Di sekolah yang baru. Dan meninggalkan semua hal yang telah berlalu.

Pagi itu aku berangkat bersama Abahku. Ya, memang aku asli jawa barat. Mungkin karena itulah sebgaian temanku menganggapku seperti warga keturunan Tiong Hoa, karena kulitkku yang lebih putih. Tapi sudah sejak SMP aku tinggal di kota jogjakarta. Namaku Jonathan dan aku adalah seorang baskethollic. Sebuah poster Scottie Pippen favoritku terpampang dengan gagah di dinding kamarku. Di sebelahnya, tepat diatas lemari terletak sebuah bola basket MX 7 favoritku yang dulu sering kumainkan bersama teman-teman SMP ku. Dibawahnya, terdapat baju dan beberapa kostum yang sering kugunakan ketika bertanding. Baik untuk sekolahku dulu ataupun beberapa klub amatir yang pernah ku bela. Di bandung dan di jogja.

Aku memang seorang penggila basket. Tapi, itu semua sudah berakhir. Hari ini bertepatan dengan hari pertamaku masuk sekolah baru, di SMA Jagad Lima. Hari dimana aku memutuskan untuk tidak akan bermain basket lagi. Berat memang, ketika harus meninggalkan suatu hobi yang sangat kusukai. Apalagi Bolabasket sudah mendarah daging di tubuhku.

Aku mengenal bola basket sejak berumur 8 tahun. Ketika itu aku masih bersekolah di sebuah SD di daerah bandung jawa barat.  Hobi basket tersebut masih berlanjut ketika aku menginjakkan kakiku di Jogjakarta. Di SMP ku dulu aku pun sempat bermain beberapa kali membela sekolah. Dan meski tidak berhasil meraih juara aku tetap saja menyukai olahraga beregu ini. Cita-citaku adalah bisa menjadi pemain bolabasket terkenal. Bila mungkin sampai NBA. Salah satu kompetisi olahraga terkenal di negara asal basket, Amerika.

Akan tetapi sepertinya mimpi itu harus kukubur jauh-jauh. Dengan tinggi tubuhku yang dibawah rata-rata pemain basket, aku harus merelakan impian itu hanya sekedar menjadi bunga tidur. Tidak lebih. Sampai akhirnya kejadian itu terjadi. Peristiwa yang membuatku benar-benar memupuskan harapanku untuk tetap bermain basket.

Ketika itu sebuah turnamen bolabasket antar SMP diselenggarakan oleh sebuah sekolah negeri. Dengan tujuan mencari bibit-bibit pemain basket baru, sekolah tersebut menggelar lomba dengan dibantu oleh sebuah klub yang menggunakan lapangan sekolah tersebut untuk berlatih. Klub Persatuan. Karena lomba itulah akhirnya aku memutuskan untuk tidak bermain basket lagi.

Sore itu, tim kami melaju ke babak final. Meski permainan kami tidak terlalu bagus, namun kami masih bisa meraih jatah satu tiket ke final. Di pertandingan final, kami bermain melawan sebuah sekolah yang memiliki sejarah sebagai sang juara bertahan. SMP Swasta Saint Duke.

Dengan beberapa pemainnya yang juga bermain di klub junior, membuat tim tersebut menjadi salah satu kandidat juara. Berbeda dengan kami yang hanya berposisikan sebagai kuda hitam yang beruntung.

“Jo, nanti kita harus menang ya?” kata Farid teman satu timku.

“Okay!” sahutku sambil tersenyum palsu.

Bukan karena aku takut atau tidak percaya diri menghadapi final tersebut. Tapi lebih tidak yakin pada kekuatan timku. Memang beberapa temanku juga bermain di klub sama sepertiku. Namun justru hal itulah yang kutakutkan. Sering kali kami melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, hanya karena keegoisan kami untuk tampak menonjol. Baik dimata siswa perempuan atau para pencari bakat.

Menurut pandanganku, dalam berolahraga tim, yang terpenting adalah kerjasama. Sebaik apapun teknik dan kemampuan seseorang, jika melawan tim yang lebih kompak pasti akan berbeda hasilnya. Dan itulah yang terjadi. Sebuah pertandingan final yang mengecewakan.

Waktu itu, pertandingan memasuki menit-menit akhir penentuan. Menit-menit penentuan kalah dan menang. Kedudukan sementara kami unggul 4 point. Aku yang diserahi tugas sebagai pengatur serangan benar-benar was-was dan bingung. Setiap kesempatan yang seharusnya membuahkan point terbuang percuma karena ulah beberapa temanku yang hanya ingin bergaya dan show off. Mereka sepertinya sudah merasa menang dengan selisih 4 poin tersebut.

4 Point. Margin yang sangat mengkhawatirkan di sebuah pertandingan bolabasket. Karena menurutku, dalam sisa waktu masih 1,5 menit semua hal bisa terjadi. Dan apa yang ku khawatirkan terjadi. Dalam selisih waktu itu, tim lawan berhasil mengejar kami. Selisih 4 point yang ku jaga mati-matian berubah menjadi 6 point untuk keunggulan tim lawan. Dan pedihnya itu terjadi pada 40 detik terakhir.

Marah. Kecewa. Itulah yang kurasakan. Seharusnya kamilah yang menang dan berhasil meraih juara. Tapi kadang kenyataan selalu berlawanan arah dengan mimpi. Bagiku sebenarnya bukan masalah siapa yang memenangkan pertandingan. Tapi yang membuatku kecewa adalah karena kami tidak bisa bermain dengan baik.

Kekecewaanku bertambah ketika kudengar beberapa teman-teman satu timku malah bertengkar mencari kambing hitam. Bahkan mereka sempat beradu fisik karena saling mengejek, siapa yang mendapat point lebih sedikit. Otomatis meluaplah amarahku. Aku merasa dikecewakan oleh teman-temanku. Bagaimana mungkin ketika sebuah tim yang seharusnya bermain bersama untuk menang malah sibuk memikirkan siapa yang unggul dalam perolehan point.

Pada detik itu juga, kutinggalkan mereka. Meski sempat kudengar bahwa aku mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik, namun aku tidak peduli. Aku benar-benar kecewa, dan karena itulah aku berjanji untuk berhenti bermain basket. Olahraga yang sangat kusukai sejak kecil.

“JONATHAN, ngapain aja kamu di kamar? Ini Abah sudah siap” kata Abah membuyarkan lamunanku.

“Bentar Abah, ini sudah selesai.” jawabku.

Jarak rumah ke sekolah baruku sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun karena Abah terpilih menjadi wakil dari orang tua siswa untuk upacara penyerahan siswa baru, pagi itu aku berangkat bersamanya. Menuju SMA Jagad Lima, yang pada akhirnya akan membuatku mencintai bolabasket lagi.

SMA Jagad Lima. Sebuah sekolah yang beberapa waktu lalu mengadakan lomba yang berakhir kekecewaan bagiku. Sebenarnya aku tidak ingin sekolah disini. Namun karena nilaiku pas-pasan aku harus menerima kenyataan untuk bersekolah di tempat yang manjadi awal mimpi burukku.

Kudengar sekolah ini memiliki sebuah tim basket yang bagus. Dan kudengar mereka termasuk dalam 5 besar di wilayah jogja. Tapi rupanya kekecewaan atas tim basketku dulu menutup keinginanku untuk bergabung. Bahkan aku sudah berjanji untuk menyembunyikan diri agar tidak ada yang tahu bahwa aku pernah bermain basket. Aku ingin memulai masa SMA ku jauh dari basket. Yang nantinya baru kusadari bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Sebenarnya aku malas untuk mengikuti upacara pembukaan dan penyerahan siswa baru di SMA Jagad Lima. Tapi karena Abahku terpilih sebagai wakil dari orang tua murid mau tidak mau aku harus datang. Dan besar kemungkinan aku akan menjadi salah satu siswa yang dipilih untuk menjadi wakil siswa dalam upacara penyerahan tersebut. Aku hanya berharap tidak ada yang mengenaliku, meski kecil kemungkinannya.

Selesai upacara, aku mengikuti rombongan yang sudah terbagi-bagi atas kelas masing-masing. Aku masuk mengikuti rombongan yang menuju ke kelas 1-3. Sebuah kelas yang akan kutempati setahun mendatang. Rombongan kami ditemani oleh 3 orang kakak kelas. Salah satu diantaranya, Damas yang telah mengamatiku sejak aku melangkahkan kaki masuk ke gerbang sekolah.

Ternyata usahaku untuk tidak menonjolkan diri gagal total. Tepat saat perkenalan, Damas mengetahui bahwa aku pernah bermain basket. Bahkan sempat terpilih menjadi pemain terbaik atau MVP di lomba yang diadakan beberapa waktu lalu. Meski saat perkenalan tidak sekalipun aku menyebut tentang hobiku bermain basket, namun rupanya Damas tidak tertipu.  Posisinya sebgai anggota OSIS dan panitia dalam lomba kemarin membuatku tidak bisa berbohong. Dan terbongkar sudah rahasiaku. Rahasia yang sebenarnya aku sembunyikan rapat-rapat.

Tepat setelah Damas bertanya apakah aku anggota klub Primary, datanglah segerombolan senior mendatangi kelasku. Mereka adalah senior kelas 3 yang merupakan anggota Tim basket di SMA Jagad Lima. Salah satu dari mereka akhirnya menyuruhku untuk datang ke sekolah nanti malam. Dan aku tidak bisa menolak. Mencari masalah di hari pertama sekolah tidak ada di agendaku. Aku hanya bisa berdoa agar mereka tidak mengajakku untuk bergabung di Tim.

Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Mungkin itu pepatah yang cocok untukku. Sekuat apapun aku berusaha pada akhirnya Tuhan juga yang menentukan hasil akhirnya. Siang hari itu ketika aku hendak pulang bersama Abah, beberapa siswa senior lain mendatangiku. Sempat aku ketakutan, tapi aku berusaha tetap tenang. Mereka adalah teman-teman Damas yang pagi tadi sempat berkunjung ke kelasku.

Ternyata latihan untuk Tim basket tidak dilakukan sore hari. Melainkan malam hari bergabung bersama latihan Klub Persatuan. Dan malam nanti aku diminta datang untuk mengikuti seleksi. Berat hari rasanya untuk mengatakan tidak. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Atau peribahasa lain yang menyiratkan penderitaanku,  sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.

Tampaknya Tuhan tidak mengijinkanku berhenti basket. Sebesar apapun usahaku untuk menyembunyikannya. Dan kini aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku tetap tidak bisa lepas dari Basket. Olahraga yang sebenarnya sangat enggan kulepaskan.

Sepulang dari sekolah aku hanya bisa terdiam di kamar. Ku nyalakan lagi lagu yang dinyanyikan oleh dido. White Flag. Bendera putih. Pertanda menyerah.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: