Our Glory Road.

Terdengar suara wasit meniup kembali peluitnya. Babak terakhir telah dimulai. Babak yang menentukan bagi kami. Apakah kami akan menutup karir kami sebagai pemain basket sma dengan mempersembahkan sebuah piala utama atau hanya sebagai pesakitan -untuk kesekian kalinya-

“Oke 10 menit lagi! FOKUS ya!?” teriak Jonathan pada Kalingga, Normandy, Ticko, dan aku, Jendra.

“Jendra! siap back up lainnya!” teriak Mr Riant.

Setelah mendapat pengarahan dari Mr Riant, Coach kami. Kami pun kembali ke medan perang. Beriringan dengan suara teriakan dan dukungan dari suporter kami, sesaat kami merasa mendapat tambahan tenaga. 30 Menit sudah tim kami bermain dengan model penjagaan satu lawan satu. Sebuah model dimana setiap orang menjaga ketat satu orang musuh. Dengan kondisi seperti ini tentunya tidak ada sedikitpun celah untuk kami rehat.

Dengan model penjagaan ini kami dipaksa untuk terus bergerak. Terus waspada. Baik dalam menjaga musuh atau melihat setiap kesempatan yang bisa kami ambil. Dan seperti biasa aku mendapat tugas menjaga top player musuh. Pemain bernomor 7 sama sepertiku. Tugas penjagaan seperti itu sudah sering aku lakukan. Dengan berbekal tenaga badak dan kecepatan yang kumiliki, aku sering dipercaya untuk menjaga pergerakan setiap top player musuh.

“Siap! Set 1, set 1!” kata si nomor 7 memberi aba-aba.

“Bro check! Awas 8, 11!” kataku sambil berteriak lantang, tepat didepan wajah si nomor 7. Salah satu trik yang diajarkan oleh beberapa kenalanku untuk mengganggu konsentrasi musuh.

Memang, untuk sementara skor kami masih diatas angin.  Dengan keunggulan 14 point kami hanya bermusuhan dengan waktu. Tapi tetap saja ini adalah pertandingan final. Bahkan final pertama dan terakhir kami, seperti yang sering dikatakan jonathan untuk menyemangati kami. Wasit kemudian memberikan bola kepada si nomor 7 untuk melakukan tip in. Dan disaat itulah hampir semua pemain lawan bergerak secara otomatis. Yak, sebuah pola lagi rupanya, pikirku.

Bola pun sudah dilempar masuk dan dipegang oleh pemain lawan yang berposisi penembak, si nomor 9. Meski bertubuh gempal namun pada babak sebelumnya dia membuat 2 lemparan 3 point yang hampir membuat margin skor kami pada digit yang sama. Beruntung, waktu itu kami masih bisa membalas dan menjaga jarak kembali.

“Ndes, awas 7 ndes!” teriak Kalingga, sang penembak kami.

“Oke Ngga, save!” jawabku, sambil terus mengikuti si nomor 7.

5 Menit berlalu. Tercatat hanya ada satu tambahan poin dari tim lawan. Satu tambahan poin yang terjadi karena pergerakan si nomor 7. waktu itu ketika aku berusaha membantu Jonathan menjaga si nomor 8, tanpa kusadari si nomor 7 mengambil celah. Dengan cepat dia mengambil posisi menembak dari arah 3 point. Kontan saja bola langsung diberikan padanya. Karena terlambat bereaksi akhirnya aku harus merelakan satu kuota pelanggaranku untuk mencegahnya menembak.

Pada babak terakhir ini meski aku tetap menjaga si nomor 7, namun harus bekerja ekstra. Catatan pelanggaran si Jonathan sudah menembus level 4. Hal ini berarti 1 pelanggaran lagi maka dia tidak bisa bermain alias foul out. Kartu merah dalam sepakbola. Dan itu berarti kami kehilangan seorang pengatur serangan. Karena hanya aku yang memiliki tenaga berlebih maka beban sebagai pasukan bantuan atau reinforcement harus kupikul.

Rupanya dengan strategi ini ada harga yang harus kami bayar. Yak, mau tidak mau dengan membagi konsentrasi penjagaan, membuat si nomor 7 lebih banyak mendapat ruang. Kesempatan emas yang selama 3 babak sebelumnya tidak dia peroleh.

Memang akibat pelanggaran yang kulakukan, si nomor 7 tidak dapat mencetak 3 angka. Tapi sebagai hukumannya dia mendapat 3 kali tembakan bebas (free throw) yang berbuah 2 point. Dari arah pinggir lapangan hampir semua pendukung tim lawan bersorak. Setiap kali si nomor 7 mencetak angka, seperti sebuah saklar saja pikirku.

Waktu demi waktu berlalu. Dan point demi point dicetak oleh kedua tim. Aku tidak dapat berbohong, mau tidak mau menjaga 2 orang tentu saja menguras tenagaku. Beberapa kali aku terlewati dan beberapa kali itu pula point lawan bertambah. Memasuki menit ke 8 skor kami sudah berada di digit yang sama. Bahkan margin 14 point kami di akhir babak ke tiga kini tinggal 6 point saja.

Sebuah time out diminta oleh coach Riant. Time out terakhir kami. Kesempatan mengambil nafas bagiku.

“Jendra, masih kuat kamu?” tanya Coach riant yang kubalas dengan mengepalkan tangan dan berteriak,

“MASIH!”

“Okay, Kalingga, di dua menit terakhir ini aku minta kamu back up Jendra. Kalau sewaktu-waktu dia terlewat sama si nomor 7, segera cover, sambil Jendra recovery. Jaga agar dia tetap diluar. Jangan sampai dia masuk sampai Jendra siap menjaga. Kamu bisa?!” kata coach Riant.

“Be…res… Coach!” jawab Kalingga sambil terengah-engah.

“Boys, musuh kita hanya tinggal waktu. Dan waktu itu hanya tinggal 2 menit. Tetap waspada. Jangan sekali-sekali kalian lengah. Ingat pertandingan ini merupakan pertandingan kalian yang terakhir. Maka buatlah ini menjadi kado terindah bagi kalian yang akan lulus!” jelas coach Riant.

Entah kenapa kata-kata coach Riant selalu berhasil mempertahankan kesadaran dan menjaga mental kami. Tercatat setiap kali kami berada dibawah tekanan, coach Riant selalu berhasil membawa kami keluar, dengan kata-katanya.

“Priiiittt!!!”

Suara peluit wasit kembali memanggil kami masuk ke dalam lapangan. 2 Menit istirahat cukup mengembalikan staminaku. Meski tidak seluruhnya. Sesaat ketika aku masuk, aku tersadar ada yang berbeda pada tim lawan. Si MVP nomor 7 bermain jauh diluar. Sepertinya hal tersebut juga disadari oleh Normand. Dia pun memberikan kode padaku untuk lebih keluar.

“Jendra, tekan saja dia. Biar Jonathan aku yang cover!” teriaknya.

Seperti biasa, meski coach Riant memberikan arahan, namun hal tersebut tidak serta merta kami terima 100%. Coach Riant sendiri selalu berpesan untuk tidak mentah-mentah dalam mencerna setiap arahannya. Di lapangan kamilah artis, sekaligus sutradaranya.

“KRINGGG!”

Suara bel terdengar begitu nyaring diikuti bunyi peluit yang menandakan selesainya perjuangan kami. Segera saja kami berlarian saling berpelukan. Dan di atas kami para teman-teman suporter, baik satu angkatan, maupun adik-adik kelas dan beberapa alumni yang hadir ikut melonjak dalam kebahagiaan.

Akhirnya mimpi kami tercapai. Harapan kami untuk menjadi juara dan memegang tropy kebanggaan sebagai yang nomor satu sudah terwujud. Ternyata memang benar kata salah satu iklan sepatu yang kupakai. “nothing is imposible

Hari itu, tepatnya 7 tahun yang lalu kami tertawa bersama-sama untuk terakhir kalinya. Karena pertandingan itu adalah pertandingan terakhir  bagiku, Jonathan, Kalingga, dan Normandy. Sedang Ticko yang duduk di kelas 2 masih memiliki kesempatan yang sama tahun depan. Meski begitu, saat itu adalah momen-momen terindah bagi kami. Momen terindah masa remaja kami.

Sebuah tim yang harus menunggu 2 tahun lamanya untuk berdiri di podium juara. Dengan melewati jalan yang terjal dan berliku. Sebuah perjuangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Dan akan menjadi jalan kebanggaan kami. Our Glory Road.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: