First Day

Pagi hari itu cuaca sangat cerah. Secerah hatiku dalam memulai hari. Sudah 10 hari lebih aku menunggu saat-saat ini. Saat-saat dimana aku memulai masa sma ku. Masa yang kata orang masa paling indah dan tidak akan terlupakan.

Hari senin pagi itu kami dikumpulkan oleh pihak sekolah. Bagi kami anak-anak kelas satu akan diadakan upacara pembukaan dan penyerahan secara simbolis dari orang tua ke pihak sekolah.

Terdapat 2 anak yang dipilih untuk ceremony itu. Satu laki-laki dan satu perempuan. Sedang aku berdiri penuh antusias di barisan belakang. Tanpa mengenal satu orang pun. Maklum dilingkungan baru ini aku belum punya teman.

Upacara itu dimulai seperti upacara pada umumnya. Tidak berbeda, hanya peserta upacaranya anak-anak baru. Sedang siswa lain berada di dalam kelas untuk pengarahan dari wali kelas masing-masing. Setelah diadakan penyambutan oleh kepala sekolah dan acara simbolisasi penyerahan, upacara itu pun selesai.

Sesaat setelah bapak dan ibu guru serta beberapa tamu dari perwakilan orang tua beranjak pergi, seorang guru berbadan gendut mengumumkan pembagian kelas. Bermodal kertas yang berisi daftar murid baru, kami mulai dipanggil satu persatu untuk dibariskan menurut kelas-kelas masing-masing. Kelas yang akan kami tempati selama setahun kedepan.

Sampai pada urutan kelas ke 3, namaku dipanggil.

“Jendra Setyawan. Kelas 1 -3” kata si guru bertubuh gendut, yang kemudian kukenal bernama Riyadi, atau akrab dipanggil Babeh.

Ya, Jendra Setyawan itulah namaku. Umurku sekitar 16 tahun. Meski bertubuh tidak terlalu tinggi, tapi badanku terbilang kurus. Well, cukup terlihat seperti tiang kalo dilihat dari kejauhan.

Aku berasal dari sebuah SMP negeri yang cukup ternama di daerahku. Sebetulnya aku tidak terlalu ingin sekolah di SMA Jagad Lima. Hanya karena aku tidak diterima disekolah tujuanku, maka aku harus menerima kenyataan. Bila dibandingkan pilihan untuk masuk ke SMK atau Pondok pesantren aku lebih baik bersekolah disini.

Dengan hobi bermain sepakbola sejak SMP, aku berkeinginan untuk bermain bola disini. Karena kudengar tim sepak bola SMA Jagad Lima cukup diperhitungkan di antara sekolah-sekolah lain.

Beberapa saat kemudian betapa terkejutnya aku. Tepat setelah namaku dipanggil kudengar sebuah nama dipanggil.

“Jonathan. Kelas 1-3.”

Jonathan, salah satu anak yang terpilih menjadi wakil anak baru pada upacara penyerahan siswa ke pihak sekolah tadi. anak ini bertubuh kecil, tidak terlalu tinggi. Mungkin sekitar 170 cm. 2-4 cm lebih pendek dariku. Berkulit putih dan bermata sipit.

“Hmm pantas terpilih, Mungkin anak orang kaya dia.” batinku.

Anak yang bernama jonathan itu pun berdiri di belakangku. Tampaknya dia sama sepertiku. Tidak terlalu mengenal banyak orang. Terlihat dari mimik mukanya yang terlihat pendiam. Atau sok cool menurutku. Setelah setiap anak selesai dipanggil kami pun digiring masuk ke dalam kelas kami masing-masing, dengan 3 orang kakak kelas.

Damas, anak kelas 3 bertubuh tinggi. Model rambut belah tengah, dan tipikal siswa famous di sekolah. Yang kedua, Vieta. Seorang perempuan kelas 2 yang meski cantik namun terlihat sangat jutek. Sepertinya aku tidak boleh macam-macam dengannya. Salah-salah aku bisa kena hukuman. Dan kakak kelas  pendamping terakhir adalah seorang yang dipanggil, gedheg oleh teman-temannya. Baru aku tahu kemudian bahwa namanya adalah Aditya. Jauh sekali pikirku.

Sesampainya di kelas, Damas, si famous student segera membuka sesi perkenalan. Ternyata benar dugaanku. Anak yang bernama Damas ini merupakan salah satu anggota Tim Basket SMA Jagad Lima. Sebuah olahraga yang dulu sempat kugemari sebelum beralih ke sepakbola setelah melihat kegagalan penalti Roberto baggio pada pentas Piala Dunia.

Dan perkiraanku bahwa dia sangat famous terbukti. Terlihat beberapa teman-teman perempuan di kelasku sudah terpikat padanya. Dengan pandangan tersipu-sipu banyak diantara mereka yang saling bergunjing atau sekedar berharap akan dijadikan ceweknya.

Setelah Damas memperkenalkan dirinya dan teman-teman pendampingnya, kini giliran si cantik nan jutek Vieta mengambil peran.

“Wah cantiknya bos. Betul ndak?” kata teman sebangkuku yang akhirnya kulupakan namanya sesaat setelah kami berkenalan. Ibnu.

“Adik-adik kan, kakak-kakak sudah pada kenalan, sekarang giliran kalian ya?” kata Vieta sambil tersenyum simpul.

Hilang sudah predikat jutek dari otakku ketika melihat senyumnya. Senyuman yang ramah dan menawan.

“Oke dimulai dari presensi pertama ya?” sambung si Damas.

“Oh ya jangan lupa sebutkan asal sekolah dan hobi. Okay?” Vieta menambahi.

Tepat ketika urutan perkenalan sampai, aku segera memperkenalkan diriku lantang.

“Jendra Setyawan, asal SMP Kahar Muzakir. Hobi main bola.” kataku.

“Bola pa, Ndra? Basket atau Bola kaki?” tanya Damas.

“Bola kaki mas Damas.” jawabku.

Sepertinya tubuhku yang tinggi, membuatnya berpikiran bahwa aku seorang pemain basket di SMPku. Sayangnya, bagian SMP harus diubah menjadi SD maka tebakannya pasti tepat.

Tepat pada urutan ke 21, tiba giliran si anak keturunan, yang akhirnya kusadari bahwa dia berasal dari jawa barat. Maka dari itu dia terlihat seperti warga keturunan Tiong hoa.

“Jonathan. Dari SMP Negeri Pejaksan. Hobi jalan-jalan.” katanya.

Seketika terlihat wajah alis si Damas berkerut. Sepertinya ada sesuatu hal yang mengganggunya. Seolah-olah dia tidak percaya akan kata-kata si Jonathan.

“Kamu si Joe anak Primary kan?” tanya Damas.

“Mmmm, iya mas.” jawab si Jonathan ragu.

Ternyata anak ini memang bukan siswa biasa. Terlihat dari suara-suara gunjingan yang kudengar disekitarku. Baru kemudian aku tahu bahwa dia ternyata seorang siswa berprestasi. Dia pernah terpilih menjadi pemain terbaik di ajang turnamen basket yang diselenggarakan oleh SMA Jagad Lima beberapa bulan yang lalu. Sedang Primary adalah salah satu nama klub basket ternama di daerah kami.

Dan beberapa saat kemudian, muncul rombongan siswa-siswa bertubuh besar dan tinggi masuk ke kelas kami. Awalnya aku cukup terkejut melihat tampang-tampang mereka yang garang. Ternyata mereka adalah teman-teman Damas, para senior kelas 3. Yang pastinya juga anggota di Tim Basket yang sama.

“Gimana Mas, yang mana anaknya?” tanya seseorang yang meski bertubuh paling kecil namun terlihat aura kepemimpinannya. Dialah Pollicarphus Setyanto. Salah satu top player di Tim Basket SMA Jagad Lima.

“Oh, kamu Poll, ini baru aja ku tanyain.” jawab Damas.

Pengamatanku ternyata tidak salah. Si Jonathan ini ternyata tidak kalah famous dari Damas. Terbukti belum genap 2 jam kami masuk ke SMA ini, dia sudah didatangi oleh para senior kelas 3. Keren juga batinku.

“Nanti malam datang ke sekolah ya, Joe?” kata salah satu siswa kelas 3 lain yang bertubuh besar dan bermuka baby face bernama Richardo, atau Edo.

Malam. Di sekolah. Sesaat aku merasa kasihan kepada si Jonathan ini, diawal masa sma nya dia sudah menjadi ‘target’ para senior.

Setelah kedatangan para senior itu, praktis tidak banyak hal yang spesial lagi  yang terjadi. Dan akhirnya kutuntaskan hari pertama masa SMAku dengan aman dan tenang. Tanpa terjadi apa-apa, setidaknya bagiku.

Pada perjalanan pulang, apa yang kutakutkan ternyata terjadi. Tepat ketika aku berjalan melangkah ke arah gerbang sekolah, kulihat beberapa siswa berpenampilan menyeramkan mendatangi si Jonathan. Sempat terlintas untuk membantu, namun kuurungkan niat itu.

Ketika aku SMP aku terbilang anak yang tidak terlalu baik. Beberapa masalah sempat menimpaku. Itulah salah satu alasan orang tuaku akan memilih untuk  menyekolahkanku ke 2 tempat. Pondok pesantren atau SMK.

Karena teringat janjiku pada ibuku untuk tidak berbuat aneh-aneh lagi, maka kuacuhkan saja mereka. Paling tidak, jangan mencari masalah di hari pertama. Tanpa kusadari, bahwa pada akhirnya aku akan banyak menghabiskan masa SMAku bersama mereka.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: