Il Prossimo Obiettivo*

12940251341964912612

Sudut kota Colle di Val d'elsa

the next target*

“Così dispiaciuto, Andrea, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu, setelah apa yang kau lakukan padaku.” batin Anastacio sambil melangkah pergi keluar apartemen di daerah Colle di Val d’Elsa, Siena.

Semua berawal dari sebuah informasi yang didapatnya 2 bulan lalu. Informasi tentang seorang perempuan yang sedang mencari keberadaan ayahnya.  Pada awalnya Anastacio tidak terlalu mempedulikan info tersebut. Sampai diketahuinya bahwa ternyata nama wanita itu adalah Andria Carmine.

Memang, dia belum pernah sekalipun mengenal wanita itu. Tapi nama wanita itulah yang menarik perhatiannya. Carmine. Sama persis dengan nama wanita yang dulu sangat dibencinya, Celia Carmine. Wanita yang membuatnya kehilangan seorang Andrea Perea.

Di dorong oleh sakit hatinya pada Andrea dan perempuan bernama Celia itulah, Anastacio menyusun sebuah rencana. Rencana keji untuk menjebak Andrea agar membunuh putri kandungnya.  Sama seperti dulu ketika dia  menghabisi Celia dan menjebak Andrea sebagai kambing hitamnya. Dan sekarang Anastacio hanya selangkah lagi untuk menghabisi target berikutnya. Diraih telpon disakunya lalu berkata,

“I’ll meet you at the entrance of Piazza di San Marco. In front of the Campanile.” kata Anastacio sambil menutup telpon lalu mengarahkan fiat 500-nya melaju kencang menuju Venesia.

***

129402765667544798

Road To Venice (googlemap)

Perjalanan menuju Piazza San Marco membutuhkan kisaran waktu 3 jam dari Colle di Val d’elsa, Tuscany, Siena. Dengan mengambil arah ke utara menuju ke Firenze lalu Bologna dan terus kearah selatan San Giuliano untuk menyeberang ke Venice melalui Ponte della Libertà.

Setelah sampai di daerah Tronchetto, Anastacio meneruskan perjalanannya menggunakan vaporetti (taxi perahu) kearah Piazza di San Marco. Bersama dengan para wisatawan lain yang hendak merasakan romantisme dan kemegahan salah satu kawasan terpopuler di Eropa.

Membutuhkan waktu kira-kira hampir 40 menit untuk sampai ke Piazza di San Marco. Sesampainya di sana, Anastacio segera melangkah menuju ke arah Basilica di San Marco. Asap dari cerutu montecristo-nya berbaur bersama kabut ketika dia sampai di depan Campanile di San Marco.

“Pablo.” sapanya ketika melihat sosok di depannya.

Sosok pria dengan tinggi sekitar 180 cm. Memakai jas kulit buaya bermerk Ferragamo lengkap dengan sarung tangan hitam.

“Anastacio.” sahut laki-laki berjas.

Did you find him?” kata Anastacio.

Grainau, Zugspitze, Germany. Aku sudah kirim si ‘Nordic’.”

Bene, Pablo. Bravo.” jawab Anastacio sambil tersenyum puas.

Arkanhendra.

*) thx to google translator (meski meragukan)


  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: