An Italian Assassino.

12936753071173075246

assassino (comicrelated.com)

Musim semi di Toskana Italia. Sebuah propinsi –kalau di indonesia– dengan ibukota Siena. Sebuah kota yang terkenal dengan kota kebudayaan kuno di Italia. Banyak berdiri bangunan-bangunan dari zaman pertengahan. Zaman ketika legenda Robin Hood berhasil menjadi perampok yang kondang di inggris raya.

Di sebuah perkebunan bernama Acienda Agricola Fontaleoni, seorang pria terduduk lesu di depan sesosok mayat wanita. Dengan sebuah pistol barreta 92s di tangannya, pria itu memandang sendu mayat perempuan di depannya.

“Apa yang telah kulakukan?” sebuah pertanyaan yang mengalir deras sederas air mata di pipinya.

***

Sore itu di sebuah kafe di pusat kota siena, Andrea Perea yang sibuk membaca La Gazzetta dello sport dikagetkan oleh kedatangan seseorang.

“Ciao, Andrea! its been 2 years huh?” sapa laki-laki dengan jas kulit coklat berlabel ‘The Baroni Uomo Collection’.

“You are late Anastacio.” kata Andrea singkat.

Setelah memesan segelas cappuchino, Anastacio berbasa-basi memulai pembicaraan. Mulai dari menanyakan berapa skor pertandingan AC Milan semalam sampai nama wasit yang memimpin pertandingan. Namun Andrea sebagai seorang yang terkenal dingin, ala John McClane di film Die Hard hanya diam. Sambil sesekali menghisap cerutu montecristo-nya, Andrea membolak-balik halaman berita klub itali favoritnya, Intermilan.

“Siapa kali ini dan berapa bayarannya?” kata Andrea tiba-tiba.

“Ohhh, Andrea, lama tak berjumpa ternyata kau tidak berubah.” kata Anastacio sambil menyodorkan sebuah amplop tebal.

“Wanita itu bernama Andria Carmine. Seorang pelayan yang bekerja di Bar di Alessandro. Klien kita kali ini, meminta nyawa wanita itu dalam 3×24 jam.”

“Carmine?” entah kenapa nama itu tidak terdengar asing di telinganya.

Andrea Perea, meski telah menginjak usia 40-an tapi predikat pembunuh bayaran terkenal masih layak disandangnya. Sayang, dia tidak pernah menyangka bahwa korban kali ini akan mengubah hidupnya, selamanya.

Berdasar info yang diperoleh dari Anastacio, Andrea segera menguntit targetnya di sebuah bar yang terletak di San Gimignano, sebuah kota di sebelah barat Siena. Sebuah kota dengan 7600 penduduk yang terkenal dengan julukan ‘kota manhattan dari abad pertengahan’ yang terletak di puncak bukit setinggi 324 m.

Meski tenggat waktu yang diberikan hanya 3×24 jam, hal itu tidak masalah bagi Andrea. Dengan sabar di awasinya bar yang tidak terlalu ramai itu selama 2 hari. Tepat di hari ke tiga, sebuah pistol Barreta 92s telah siap menjadi dewa kematian. Dewa kematian dari seorang wanita bernama Andria Carmine.

1293675086851184176

bloody beretta (www.zedge.net)

Malam itu pukul 21.00, Andria meminta ijin pada bosnya untuk pulang lebih awal. Dalam perjalanan pulang dia merasa ada sebuah mobil yang mengikutinya dari sejak di bar. Meski sedikit timbul perasaan takut, Andria mencoba tenang. Diarahkan mobil fiat 1500 nya melaju ke arah perkebunan Acienda Agricola Fontaleoni.

Tepat ketika hendak memasuki areal perkebunan, tiba-tiba Andria dikejutkan oleh sebuah mobil yang menyalip lalu berhenti di depannya. Kemudian, muncul seorang pria dengan tangan kanan bersembunyi dibalik jaket kulit pierotucci hitam.

“Keluar!” bentak pria itu sambil menodongkan pistol barettanya.

“Chi sei? Sss-si-si-iapa kamu?” teriak Andria sambil keluar dari mobil ketakutan.

“Dorrrr, Dorrrr…” 2 buah letusan yang merenggut nyawa Andria itu menjadi satu-satunya suara di areal perkebunan.

Sesaat setelah membersihkan cipratan darah yang melekat di jaketnya, Andrea terusik oleh sebuah liontin yang tergantung penuh darah di leher mayat wanita didepannya.

Sebuah liontin yang sangat dikenalnya. Sebuah liontin yang 20 tahun lalu diberikannya kepada seorang wanita. Jantung Andrea berdegup kencang ketika mengambil liontin tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah foto. Foto seorang wanita cantik yang sekilas mirip dengan mayat di depannya. Foto Celia Carmine, ibu dari wanita yang baru saja tertembus pelurunya.

“what’ve i done?” kata Andrea Perea sambil menitikkan air mata.

Arkanhendra

  1. January 1st, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: