Kata dan Rasa

*batas sebuah kata adalah rasa yang tak terbatas*

*Hingga masih bisa kuraih dirimu 
sosok yang mengisi kehampaan kalbuku 
Bilakah diriku berucap maaf 
masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu 
oh cinta* -saras dewi, ‘lembayung bali’-

Rasa geli merambat kaki. Pasir-pasir usil itu benar-benar genit pikirku. Di sekelilingku si angin ternyata tidak mau kalah genit, dengan membelai pelan rambut dan sekujur pori-pori tubuhku. Meski sang surya menyengat kejam, belaian sang angin membuat panasnya terasa sejuk.
Ketika kakiku berjalan mendekat di pesisir pantai, dingin sang air memberikan sensasi yang lain. Menggantikan kemesraan si pasir. Sementara dengan setianya angin tidak berhenti melindungi dari panas sang surya. Betapa alam penuh dengan keseimbangan.
Andai ada gitar dan sebuah suara merdu, pasti keromantisan pantai akan lebih lengkap. Meski begitu, ada mahluk lain yang cukup berhasil menggantikan peran si gitar dan si suara merdu. Dia mahluk lembut tapi bukan lelembut. Dia bukan dari jenisku tapi tetap manusia.
Dia adalah dia. Yang sambil memegang erat tanganku, bersama senyumnya yang selalu mencerahkan hati. Dari melihatnya saja, andai pantai itu lenyap, romantismenya akan tetap berbekas. Sebuah kisah masa lalu yang coba dirajut di masa kini.
“Kok diem aja?” seindah senyumnya suaranya menatapku.
“Cuman berusaha mencari kata atau diksi yang tepat.” jawaban yang konyol pikirku.
“Buat apa?” dengan alis mengkerut tidak mengurangi wajah sendunya. 
“Untuk mengatakan yang kurasakan.”
Sejenak kami terdiam. Dia kemudian melepas tanganku dari genggamannya dengan enggan. Sambil merentangkan tangannya, dia terlihat sangat bahagia menyambut sinar sang surya yang terik dan dinginnya air samudra. Sesaat dia berbalik dan menatapku lembut. Dan dia bertanya, 
“Emang apa yang kamu rasakan?”
Bodohnya, tidak satu kata pun terucap dari mulutku. Ternyata aku memang tidak romantis. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana yang dia tanyakan. Tapi entah kenapa dia tidak keberatan dengan diamku. Dia hanya kembali menyunggingkan senyuman termanisnya.
Benar kata sebagian orang, ada banyak hal yang tidak bisa terlukiskan oleh kata-kata. Ternyata kata pun memiliki batas. Tidak seperti rasa, yang tak berbatas.http://www.youtube.com/v/tUdBWhYu-5E?fs=1&hl=en_US
 Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: