si Gundul di perempatan jalan.

Bimbang, turn left go a head atau just go with the flow ?
(diambil dari  mimbarsaputro.wordpress.com)

Sosok tubuh dengan kepala gundul, berdiri di persimpangan. Menatap ke arah hati. Menanyakan hendak kemana akan pergi. Kanan atau kiri. Sekarang atau nanti. 


Persimpangan jalan itu terlihat biasa saja. Ada dua rambu-rambu di kedua sisi kanan dan kiri jalan. Lengkap dengan tulisan turn left go ahead. Sebuah tulisan yang mengajarkan pada kita untuk meraih jalan kejahatan, kelicikan dan keburukan sebagai jalan pintas untuk kesuksesan yang semu. 

Pengin kaya,singkatnya maling, rampok, jambret, julan narkoba, korupsi, jual badan sendiri, jual badan orang. Hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah. 

Turn left go a head. Tampak sebuah motor berbelok kearah kiri. Sepertinya dia mengambil jalan pintas untuk ke arah kiri. Beberapa saat kemudian si pengendara motor  berbalik menyeberang, dan mengambil arah kiri untuk kemudian pergi melaju kencang kendaraannya meninggalkan kami. Pengendara lain yang harus berhenti karena untuk lurus ada lampu merah menghadang. 

Ada orang bilang dia pandai, pintar, cerdas, jenius. Dan memang daripada menunggu lampu merah yang lama, lebih baik mengambil arah kiri untuk berbalik dan mengambil kembali turn left go a head, di sebuah perempatan jalan.

Mungkin jika ada para penegak hukum, belum tentu keberanian para pengendara itu tampak. Tapi sepertinya hari itu para penegak hukum sedang berlibur. Mereka sedang beristirahat. Entah capek hati atau tubuh, mendengar banyak cacian dan makian yang mereka terima. Sebuah dilema bagi mereka, di satu sisi mereka bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, di sisi lain mereka terjebak oleh hierarki kekuasaan yang dipolitisasi. 

Bimbang, apakah lurus jalan terus dengan mengambil resiko dari penilangan sampai menjadi pesakitan di rumah sakit. Ataukah mengambil jalan ‘cerdas’ dengan memanfaatkan turn left go a head? Lagian tidak ada penegak hukum yang berjaga, kalau toh pun ada, apa pangkat mereka jika dibandingkan atasan mereka? Yang kadang merupakan vampir-vampir penghisap darah. 

Bimbangkah kalian? Mungkin setan bimbang pula, karena manusia sudah mampu mengalahkan mereka dibidang keahliannya. Menghasut, menipu, menghalalkan segala cara. pikir si gundul meracau. 

“Sedang kebimbanganku sederhana. Aku tahu bahwa lampu merah itu larangan untuk jalan, namun mengapa tubuhku tidak mau berhenti? Sudah terbiasakah aku dengan segala ke’cerdas’an semu itu? Sudah kebalkah aku dengan perasaan was-was dan kehati-hatian? Sehingga tinggal seorang robot yang terotomatisasi tanpa punya kehendak?

Kehendak untuk berubah, kehendak untuk berkehendak. Agar aku menjadi lebih baik. Jika tidak begitu apa bedanya dengan mayat hidup? Yang hanya hidup dengan semerbak bau mayat yang busuk. 

Bimbang, bukan karena pemerintahan yang penuh sandiwara. Bukan karena tidak ada lagi keadilan. Bukan karena dunia yang semakin bobrok. 

Bimbang, tentang apakah aku masih berujud manusia? Mahluk berakal yang diberkahi jiwa dan pikiran. Oleh Tuhan YME. ” Ujar si gundul sambil kembali merenung.

Arkanhendra

  1. ‘KE KIRI JALAN TERUS’
    Artikel nya menarik, brotha GUN. Entah kenapa yah kalo jalan ke kiri, apa pun itu pasti mudah lancar tak berhambatan tol terus gak ada polisi nya…
    Tapi apa iya, manusia betul- betul udah gak ber akal untuk terus ke kiri?
    apa iya, manusia betul- betul udah gak punya TUHAN unuk terus ke kiri?

    hehehehe…pertanyaan, yang pasti hanya kita yang bisa jawab kan, brotha.

  2. yoi bro … matur nuwun udah mampir😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: