Jogjakarta Berdebeu

Teringat sebuah stadion tempat salah satu klub tenar di Eropa. Semua sahabat malioboro pasti tahu. Yak, betul! Tempat itu bernama Stadion Santiago Berdebeu. Namun, cerita kali ini bukanlah tentang sejarah stadion tersebut atau bahkan klub tenar dari negeri asal Vasco Da Gama tersebut.

Jogjakarta Berdebeu, yak itulah cerita saya kali ini. Sebuah kota sedang. Tempat dibesarkannya musisi Ebiet  G Ade, penyanyi melankolis yang -sayangnya- lagu tersebut sering diputar ketika terjadi bencana.

Dimulai dari suatu hari di tanggal 26 oktober 2010. Jogjakarta digegerkan dengan sebuah kabar yang tidak menyenangkan. Gunung Merapi yang terletak di utara kota budaya ini entah kenapa tiba-tiba mengamuk.

Tidak ada yang tahu sebab musababnya. Tidak ada yang tahu awal muasalnya. Semua terjadi begitu saja. Meletus, mengeluarkan asap, lengkap dengan wedhus gembelnya.

Memang benar apa kata pepatah. “Manusia merencanakan Tuhan menentukan”. Tidak ada yang bisa lepas dari kehendak-Nya. Jika Dia menginginkan sebuah bencana hadir, maka tanpa basa-basi terciptalah bencana tersebut.

Hari itu jogja dihiasi oleh abu vulkanik dari sang gunung. Hampir diseluruh penjuru kota, tidak ada yang luput dari warna abu-abu si abu. Debu-debu berterbangan mencipta kabut berwarna kelabu.

Dengan jarak pandang hanya beberapa meter, tentunya menyulitkan masyarakat jogja untuk beraktifitas. Beberapa sekolah terpaksa diliburkan. Banyak penghuni lereng merapi sampai di ujung utara kota jogja mengungsi. Kegalauan melanda seluruh kota dan desa di sekitar gunung merapi. Mereka bingung, takut, dan cemas.

Banyak keluarga yang tercerai berai. Anak kehilangan orang tua, orang tua dipisahkan dari anaknya. Suami dipaksa berpisah dengan sang istri, banyak istri pun menjadi janda ditinggal pergi suaminya.

Pemerintah mulai kalut dan panik. Dana menipis, sedang para pengungsi tidak berkurang drastis. Meski banyak bantuan datang silih berganti, tapi para pengungsi tetap saja tersakiti.

Sungguh hari-hari itu merupakan hari yang benar-benar kelabu bagi kota Jogjakarta. Jadi tidak ada salahnya saya menggunakan kata-kata Jogjakarta Berdebeu, menjadi judul postingan kali ini. Mirip dengan salah satu stadion yang saya sebut di awal.

Genap 15 hari setelah erupsi pertama Gunung Merapi muncul. Lengkap sudah penderitaan masyarakat jogjakarta karenanya. Kunjungan pariwisata yang menurun ditambah eksodus para warga pendatangnya yang takut akan kemarahan sang alam.

Meski baru tercatat satu orang melakukan bunuh diri karena depresi, namun bencana kali ini seperti dejavu bencana 4 tahun silam, di bagian selatan jogjakarta.

Tentunya tidak ada seorangpun yang menginginkan terjadinya bencana. Hanya manusia yang kehilangan akal sehatnya saja yang masih bisa bahagia dan tertawa terbahak-bahak ketika bencana melanda.

Akan tetapi life must go on. Hidup harus terus berlanjut. Akan ada banyak cerita sesudah bencana ini. Cerita yang akan selalu mengingatkan kita akan kemarahan sang alam.

Kita tidak boleh terus-terusan berdiam dalam duka dan kesedihan. Kita harus bangkit. Meski semua itu tidaklah semudah yang diucapkan. Tapi tetap saja, kita harus berkata,

i’m moving on” Seperti lagu yang dinyanyikan oleh Andien.

Semoga bencana ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Sebuah pelajaran berharga untuk lebih bersikap arif dan bijaksana dalam memperlakukan alam. Sebuah kursus kilat agar kita mau mengingat Tuhan Yang Maha Esa.

Sekian sahabat malioboro, sebuah hikayat dari mburi malioboro. Kita akan bersua lagi dalam hikayat-hikayat lainnya. Salam damai dan sejahtera, pareng, nuwun.

Arkanhendra

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: