Wasiat Mbah Karto.

Dengan langkah yang lemah dia mendorong sepedanya melaju dijalanan yang panas. Tidak lupa peci hitam andalannya didudukan diatas kepalanya. Hari itu Mbah Karto berangkat agak siang. Jika biasanya dia berangkat jam 7 pagi untuk bekerja, hari itu dia datang lebih siang. Meski sudah mendapat ijin dari sang atasan, namun Mbah Karto merasa ada yang aneh dan ganjil.

“Ko tumben-tumbennya aku disuruh berangkat siang ya? Apa karena si Bejo?”

Bejo, pemuda kampung asal jawa tengah, hari itu memulai hari pertama kerjanya, setelah seminggu training. Dengan memanggul sejuta harapan dan impian dia pergi merantau. Meninggalkan anak istrinya di rumah, demi merubah nasib dan peruntungan.

Bermula dari perkenalannya dengan seorang teman lama dia sampai ke jakarta. Kota penuh sejuta sensasi. Dari temannya itu Bejo menerima informasi tentang pekerjaan barunya. Menjadi OB disebuah perusahaan besar di Jakarta. Dari sanalah pertemuannya dengan Mbah Karto dimulai. Seorang penjaga gedung sebelumnya yang tetap dipertahankan karena dedikasi kerjanya selama berpuluh-puluh tahun.

Setelah menyandarkan sepedanya, Mbah  Karto pun memulai rutinitas kesehariannya. Bersih-bersih di dapur dan kamar mandi. Karena umurnya yang sudah uzur, tugas-tugas untuk berkeliling dilakukan oleh Bejo. Sang OB baru.

Sebenarnya dengan kedatangan Bejo, Pak Karto sudah mengetahui bahwa saat-saat terakhirnya bekerja di Gedung tersebut telah usai. Melihat umurnya yang semakin menua dan keriput yang semakin menyelimuti wajah dan tubuhnya, Pak Karto sadar. Bahwa dimana ada awal pasti ada akhir.

Sore itu selepas melakukan pembersihan terakhir di daerah kerja yang sudah 40 tahun digelutinya. Beliau terduduk di kursi, melepas lelah karena usia yang telah senja. Sambil mengingat-ingat kembali perbincangan dengan si Bejo kala istirahat siang tadi.

“Jo, tak ngomong yo?”

“Wonten nopo to mbah?”

“Aku sadar kalau aku sudah tua. Sudah saatnya aku istirahat.”

“Lha gimana to mbah?”

“Ngene Jo, Aku ngerti kenapa beberapa hari ini aku disuruh untuk berangkat lebih siang. Sebenarnya kamu diterima disini untuk menggantikanku to?”

“Eh.. eh.. ndak gitu mbah, emang mbah tau dari mana?”

“Wes bloko o ae… aku ndak apa-apa. Wong aku yo ngrumangsani nek wes tuo. Mung siji pesenku.”

“Nopo mbah?”

“Aku nitip klambi iki balekno ning Pak Dirjo. Penanggung jawab gedung sebelumnya.”

“oh njih mbah, nanti tak sampaikan.”

Setelah pamit untuk kembali kerja, Bejo kembali melanjutkan tugas-tugasnya. Dia tidak sadar bahwa perbincangan siang bersama Mbah Karto tersebut adalah yang terakhir kalinya. Beberapa saat setelah jam makan siang Mbah Karto ditemukan meninggal dalam keadaan terduduk di kursi.

Kematian Mbah Karto mengejutkan bagi beberapa orang. Karena kejujuran, kebaikan dan ketulusannya dalam bekerja dia mendapat simpatik dari banyak penghuni kantor.

***

Beberapa hari setelah wafatnya Mbah Karto, Bejo mendatangi rumah Pak Dirjo untuk melaksanakan wasiat Mbah Karto sebelum meninggal. Yaitu, mengembalikan seragam batik KORPRI yang dulu dipinjamkan Pak Dirjo padanya. Karena waktu itu Mbah Karto menolak untuk diberi cuma-cuma, maka Pak Dirjo menyiasati dengan mengatakan bahwa baju itu dipinjamkan sampai dia sudah tidak butuh lagi. Dengan harapan Mbah Karto mau menerima baju tersebut.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: