–Ndang Balio– (bagian 2/tamat)

Waktu itu pukul 18.15 WIB, kupacu kuda besiku dengan berlagak seperti seorang jorge lorenzo, meski aku sendiri ndak tau siapa orang itu ?πŸ˜† Namun hanya ada satu hal yang kupikirkan aku harus segera pulang. Tidak peduli panah pada spedometerku yang telah menembus angka 90 Km per jam, tetap saja kupacu. Hanya satu hal yang membuatku waspada, panel penunjuk arah bahan bakar yang menggangguku. Karena dalam kecepatan tinggi seperti ini ketika bahan bakar diperut kuda besiku habis maka lajunya sudah pasti akan sulit kukendalikan.

Entah sudah beberapa kilometer ku lewati tapi tetap saja kuda besiku ini tidak berhenti sebagai bukti akhir dari habisnya bahan bakar. Hal ini membuktikan bahwa kuda besiku ternyata juga merasakan kekhawatiran yang sama yang kurasakan. Entah itu benar atau tidak, itu nyata atau bukan, yang penting saat ini aku harus segera pulang. Maap pak polisi, maap sopir taksi bukan niatku menyalip kalian dari arah yang membahayakan, tapi apa daya pikiranku telah terhisap oleh kekhawatiran.

Memang aku baru berumur kurang dari satu tahun. Dan memang dalam waktu kurang dari satu tahun itu aku mengenalnya. Sosok pria remaja dewasa yang telah membeli jasaku ketika aku lahir disebuah dealer di kota jogja. Dalam waktu yang singkat kebersamaan kami sudah cukup banyak yang kami lewati sehingga membuat kami menjadi sehati. Majikan dan tunggangan.

Sore itu entah kenapa cara majikankku menaikiku sungguh aneh, terlihat begitu tergesa – gesa dan diliputi oleh rasa kekhawatiran. Aku tahu pasti ada yang tidak beres yang terjadi atau paling tidak ada sesuatu hal yang terjadi sehingga membuat majikanku tidak bisa tenang. Dan itu berarti aku harus segera memacu kaki – kakiku untuk mengantar majikanku menuju tempat yang ditujunya. Meski aku tahu isi perutku yang menjadi sumber gerakku sedang dalam keadaan tipis, setipis kacang buncis.

Perasaan was – was ini tidak juga kunjung hilang. Akhirnya kuputuskan untuk segera keluar ke depan gerbang pintu rumah sambil menunggu anakku. Yang aku tahu dia pasti lagi dalam perjalanan, karena ketika ku telpon hapenya tidak diangkat. dan smsku pun hanya dibalas dengan balasan yang singkat , β€œNggihβ€œ. Dan memang benar, hanya membutuhkan waktu tidak sampai 15 menit aku menunggu anakku telah datang. β€œalhamdulillah..” ujarku setengah lega.

Hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam aku akhirnya sampai kerumah. Didepan rumah sudah menunggu ibuku dengan wajah was – was bercampur lega. β€œoalah le ko lagi teko, kae gek ditulungi bapakmu lagi ndandani kompor gas, ibu ko dadi wedi nek njeblug.. ” , ” njih bu,..” jawabku singkat setelah memarkir kuda besi tungganganku dikandangnya.

Sudah hampir setengah jam kuutak atik, baik dari selangnya maupun regulatornya. Tapi tetap saja kurasakan suara dan bau badan sang malaikat maut yang beberapa waktu ini menjadi pencabut nyawa terpopuler, tabung Gas LPG. Istriku yang sudah kelewat khawatir akhirnya memilih untuk keluar menunggu kedatangan anakku. Dan tidak lama kemudian tepat ketika aku akan memutuskan untuk nekad membeli sendiri tabung gas yang baru, kudengar suara motor anakku yang sudah kami tunggu – tunggu.

β€œpie pak ono opo ?” Seketika kucek kearah dapur tempat bapakku yang sedang terlihat bingung karena tabung gas kami. Katanya masih berat dan masih ada isinya tapi menurut pengakuan ibukku tabung gas kami sudah tidak bisa mengeluarkan gas lagi. Dengan kompor yang kadang tidak bisa menyala menjadi saksinya. Seketika langsung kucek saja tabung tersebut, kuamati dari dekat dan kucek berulang- ulang. Tepat ketika kugoyangkan tabung tersebut bapakku berkata β€œati – ati ijih ngeses lo !” dan sesaat itu juga kudengar suara β€œsssssssshhhhh” yang meragukan.

Memang bunyi itu bisa diindikasikan pada suara gas yang keluar akibat dari tabung yang bocor. Namun yang membuatku bingung adalah antara suara yang keluar dan bau gas yang kucium tidak semuanya muncul bersamaan. Bau gas dan bunyi sshh yang pertama ketika regulator dipasang. Sedang suara ssshh tanpa bau gas muncul ketika tabung gas kugoyang – goyang.

Sambil tetap kuperiksa, dan kucek lagi ibukku terlihat semakin bingung dan was – was. Berulang kali dia berkata agar aku berhati – hati. Sampai akhirnya aku tahu inti masalah kami. Aku sadar bahwa tabung gas yang kubeli 2 minggu lalu adalah tabung oplosan. Tabung itu selain berisi pasir halus ternyata karet tabungnya juga sudah tidak layak pakai.

β€œmoso ?” Betapa kagetnya setelah mendengar penjelasan dari anak kami. Bahwa ternyata tabung gas yang β€œbermasalah” itu benar – benar tabung gas yang memiliki hampir semua kualifikasi untuk meledak. Untungnya dapur kami memiliki ventilasi yang lebih dari cukup jadi ledakan yang mungkin terjadi dapat kami hindari. Benar – benar beruntung kami, karena jika dulu kami tidak membuat rumah dengan ventilasi yang cukup pastinya hari ini mungkin kami juga menjadi salah satu korban ledakan.

Akhirnya hilang sudah kekhawatiranku dan keluargaku, setelah kudatangi dan kujelaskan masalah kami pada si penjual tabung gas. Dan setelah mendapat pengecekan dari si penjual, ternyata benar bagian karet itu yang bermasalah. Sedang untuk masalah pasir yang mungkin ada didalam tabung belum bisa dibuktikan. Mungkin harus menunggu sampai isi gas dalam tabung benar – benar habis. Apakah beratnya sama dengan berat kosong yang tertera di luar tabung atau tidak. Namun paling tidak kini perasaanku sudah tenang dan ibukku sudah bisa memasakkan nasi goreng untukku, sedang bapakku sudah asyik kembali dengan sinetronnya.

(Tamat)

Arkanhendra

  1. ah, senangnya akhirnya happy ending ceritanya…πŸ™‚

    saya bukan penyuka kisah sad endingπŸ˜‰

    • mala
    • August 10th, 2010

    hahahh, pertama baca, kupikir “ni orang ngelantur. tokoh akunya yang mana sih?!”
    tapi kalo dibaca sampe habis, boleh laaahπŸ˜›
    *muji terpaksa*

    dan *nggak tau knapa tiba2 keingetan bapak tukang aqua galon sama elpiji langganan ibukkuuu*πŸ˜›

    wah mujinya ko terpaksa ki …. ??😦

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: