–Ndang Balio– ( bagian 1)

*terinspirasi dari kisah nyata*

Mungkin terlalu berlebihan ketika aku merasa jantungku berdegup keras dan cepat. Tapi kata “pulang” itu yang terus terngiang – ngiang dikepala meski aku sudah berusaha membayangkan wajah cantik beberapa artis. Entah kenapa hari itu terdapat perasaan aneh yang mengganjal, seperti ada seekor kodok dalam tenggorokan dan lengkap bersama anak gajah di pelupuk mataku, astaga lebay sekali.

Tapi itulah kenyataannya setiap manusia dianugrahi tingkat kesensitipan yang berbeda – beda. Mungkin ketika aku dibuat, Tuhan sedikit melebihkan dari porsi yang seharusnya. Sore itu ketika pulang dari bermain – main bersama siswa dan siswi salah satu bimbel, entah kenapa aku enggan untuk kemana – mana. Aku merasa aku harus pulang kerumah. Sebuah perasaan yang cukup aneh mengingat aku bukan anak rumahan yang setiap kali pergi harus segera langsung pulang kerumah. Tapi sore itu aku segera pulang.

haduh pie to iki anakku sik bagus dewe ko yo ra mulih – mulih ??“. Berulang – ulang kalimat itu kuucap dalam hati berharap agar anakku segera pulang. Sore itu kebingungan sudah mempengaruhi pikiranku. Tuntutan untuk segera menyiapkan makanan bagi keluargaku membuat hatiku tertekan dan berharap pada sebuah pertolongan. Aku tidak bisa memasak, bahkan seteko air pun masih teronggok diatas kompor tanpa sekalipun aku berani memanaskannya.

Berulang – ulang ku tengok jendela depan rumah berharap suara motor anakku yang kudengar, namun untuk kesekian kalinya hanya motor tetangga yang bisa kudengar. Sejenak ingin kubereskan sendiri masalah ini, toh sebenarnya juga hanya masalah kecil. Namun beberapa berita di televisi membuatku urung melakukannya. Hanya suamiku yang entah terlalu berani atau hanya terlalu sederhana dalam berfikir dan bertindak. Dialah yang mengotak – atik alat itu, tabung gas itu.

Terdengarnya panggilan dari istriku yang tercinta dari arah dapur membuat sinetron yang sedang kutonton hampir setiap hari kutinggalkan. Biar kata sinetron itu lagi seru- serunya, namun panggilan ini tidak bisa kuabaikan. Istriku yang terkasih sedang membutuhkan bantuanku.

Dengan tergopoh – gopoh aku beranjak kedapur, sambil melihat kewajahnya yang menyiratkan kekhawatiran aku lantas bertanya, “ono opo bu ne ?” Sesaat setelah aku mendengar penjelasaannya aku segera tahu bahwa istriku mengalami kesulitan menyalakan kompor gas kami. Dan mengingat berita yang sering beredar di TV istriku merasa takut ada masalah dalam tabung gas kami. Karena bau gas yang menyengat ditambah kompor yang tidak bisa menyala bisa jadi dua syarat untuk sebuah tabung gas meledak.

Dengan segera ku cek bagian tabung gas itu lengkap dengan selang dan regulatornya. Memang aku bukan teknisi tapi paling tidak aku pernah mengikuti sosialisasi pemasangan tabung gas oleh pihak yang berwajib, meski ditelevisi. Namun itu tidak membuat istriku tenang, sambil terus berkata bahwa aku harus berhati – hati, sayup – sayup kudengar istriku bergumam menunggu anakku yang belum juga pulang.

Yak, memang untuk membeli tabung gas baru mau tidak mau aku harus menunggu anakku. Keadaanku yang belum 3 bulan setelah operasi hernia membuatku tidak bisa mengangkat benda – benda berat. Jadi kalau toh harus terpaksa membeli tabung baru, anakku lah orang yang paling ditunggu kedatangannya. “ngger sik bagus dewe, ndang balio … ” ujarku dalam hati.

…(bersambung)

Arkanhendra

  1. ayo, ndand balio, nak…
    bapakku nunggu lowh, le….hehehhe
    mas, koq khawatir bgt knp siyh?😉

    heh bapakmu ?? ngapain nunggu aku ?? ntar lah nek udah dapet kerja sik mapan tak ketemu bapakmu .. *loh ?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: