JogjaStories #3 – Anak Penjual Angkringan –

Matahari siang yang panas bersinar terik. Meski belum jam 12 siang tapi panasnya mampu menembus kaos tipis bertuliskan Che Guevara lengkap beserta fotonya. Terang saja sang pemakai kaos menjadi kelabakan karena kegerahan. Tampak diatas kepalanya yang mulai meranggas seperti wilayah hutan di kalimantan, bintik – bintik air yang dihasilkan oleh kelenjar keringatnya mulai menetes membasahi wajah si gundul. 

Hari itu si gundul sedang berteduh disebuah angkringan yang terletak didepan sebuah rumah sakit ternama di daerah jogjakarta. Di depan rumah sakit yang melayani para pengguna kartu askes, jamkesmas, jamkessos atau yang lebih dikenal si gundul dengan Katmis (kartu tanda miskin) itu si gundul menemukan sebuah warung angkringan yang menjanjikan minuman dingin yang murah meriah dan sueger. Akhirnya dengan langkah yang mantab dan tanpa pikir panjang si gundul segera mendatangi warung tersebut. 

Angkringan tersebut ternyata dijaga oleh seorang ibu -ibu paruh baya. Segera setelah memesan minuman pelega dahaga dan pemuas nafsu kehausan si gundul duduk dengan nyaman bak raja di sebuah dingklik panjang. Tidak berapa lama setelah minuman pesanan datang si gundul dikejutkan oleh kedatangan seorang tukang parkir beserta anak kecil yang menyunggingkan senyuman bahagia. Ternyata kedua orang tersebut adalah suami dan anak dari si penjual angkringan. 

Sambil mencuri dengar si gundul mengamati keluarga sederhana tersebut. Ternyata senyuman si anak adalah pertanda kebanggaan bahwa dia memperoleh rangking 3 disekolahnya. Dan si ibu yang mendengar kabar tersebut tidak bisa menutupi kegembiraannya. Sambil meladeni tamu – tamu lain yang datang keangkringannya tidak luput senyuman ramah yang tulus menghiasi wajahnya. Sang bapak yang masih berseragam parkir pun tidak mau kalah. Dengan semangat 45 beliau membuka bungkusan hadiah yang tadi sempat di bawa oleh anaknya. 

5 Buah buku tulis yang tentunya masih baru, membuat mata si anak berbinar – binar. Terdengar pesan dari ibunya, “slamet yo nak, sesuk sinaune rajin neh men koyo mas ito, iso sekolah sik duwur… “
“nggih bu..”, jawab si anak. 

Benar – benar sebuah pemandangan yang mengharukan dari potret masyarakat kecil yang selama ini diremehkan. Tiba – tiba si gundul tersadar, jika anak penjual angkringan saja bisa rangking 3 apalagi anak para gubernur, pejabat dan konglomerat ? Bisa – bisa negara Amerika Serikat pun kalah sama Indonesia. 

Akhirnya setelah membayar minuman pesanannya si gundul beranjak pergi, sambil terus berkata dalam hatinya. “Berarti asline wong indonesia ki pinter – pinter yo, tapi ko malah… “

Arkanhendra 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: