jogjastories#2 “jalan solo, malioboro kedua”

Jalan solo, bertempat di daerah jogjakarta timur –dengan berpatokan pada tugu– Suatu kawasan yang tidak kalah dibandingkan malioboro. Sebuah jalan dengan banyak sekali toko – toko berjajar di kanan dan kiri. Sebuah jalan satu arah yang memang lebih lebar dari malioboro.  Jika di malioboro hanya terbagi atas dua ruas jalan yang tidak begitu lebar dengan 1 ruas tambahan disebelah baratnya yang dperuntukkan sepeda becak dan andong. Sedang ruas yang ada disebelah timur dialih fungsikan menjadi parkiran.

Memang meski sudah terbagi – bagi dengan rapihnya masih saja terdapat oknum – oknum yang menyalahi aturan. Tidak sedikit ruas jalan yang ditengah dilalui oleh andong dan pengguna sepeda dan becak, bagitu pula sebaliknya. Diruas sebelah barat tidak sedikit motor dan bahkan mobil yang melewati jalan tersebut bersama para pejalan kaki.

Jika berbicara mengenai lebar jalan tidak terlalu berbeda antara jalan solo dan jalan malioboro. Hanya pada jalan solo kesemua ruas digunakan untuk seluruh pengendara, mobil, motor dan juga pengendara sepeda becak dan andong. Meski untuk andong jarang yang terlihat melewati jalan solo. Namun jika anda melewati ruas jalan solo yang lebih lapang anda akan menemukan suatu anomali atau keanehan. Ruas jalan yang luas di sisi kanan dan kiri sudah mulai menyempit ! Loh bagaimana bisa ? katanya lebih lebar ko jadi sempit ?

Jawaban pertanyaan tersebut sederhana saja. Ternyata di ruas jalan solo di sisi kanan dan kiri digunakan untuk tempat parkir mobil dan motor. Jika mobil mendominasi sayap kanan maka motor akan mendominasi sayap kiri. Apakah hal tersebut wajar ? Yah mungkin untuk beberapa orang ya, tapi bagi sebagian lainnya tentu saja hal tersebut merepotkan. Bayangkan saja ketika kita melewati jalan tersebut pada jam – jam tertentu ada saja kemacetan gara – gara antrian parkir yang datang dan pergi.

Masalah parkir mungkin masih bisa dimaklumi namun ada satu hal yang sulit saya maklumi. Ketika itu saya dari arah AA YKPN hendak menuju kesebuah toko di kanan jalan. Mau tidak mau saya diharuskan menyeberang jala solo yang sedang ramai – ramainya. Pada waktu itu saya direpotkan dengan ramainya jalan solo yang membuat saya sulit sekali untuk menyeberang. Jarang sekali orang yang mau memberi saya kesempatan untuk menyeberang.

Akhirnya setelah saya agak setengah nekat saya berhasil menyeberang meski dengan kesusahan. Terhitung 5 menit saya berusaha menyeberang. Dengan resiko hampir saja saya terserempet kendaraan. Hanya karena ketika berada setengah jalan menyeberang ada satu kendaraan yang tidak mau mengalah lalu memotong motor saya tepat didepan saya. Yang saya “kagumi” kendaraan yang dikemudikan oleh sepasang muda mudi tersebut, malah mem”bleyer” / mengencangkan suara motornya sambil melotot kepada saya.

Ada hasrat untuk menegur dengan membunykan klakson tepat saat dia melintas. Namun teringat bahwa hal tersebut kurang bijaksana akhirnya saya urungkan.  Apakah jalan yang lebih lebar membuat para pengendara keasyikan sehingga mereka tidak mau menghormati pengendara lain dengan menggeber kendaraannya dengan kencang ? Malioboro yang lebih padat dan cenderung lebih sempit pun saya amati agak lebih sedikit lumayan. Jarang sekali saya temui kendaraan yang melaju dengan kencang seperti di jalan solo. Meski masih ada juga 1 atau 2 kendaraan yang nyleneh tapi masih lebih mendinglah.

Para pengendara di jalan solo itu mungkin merasa sedikit jumawa karena kondisi jalan yang lebar. Sehingga menyebabkan mereka merasa sedikit bebas menarik gas seperti para pembalap F1. Yang menjadi perhatian saya adalah jika yang menyeberang para pejalan kaki, lalu bagaimana nasibnya ? Bukankah mereka akan lebih repot dan was- was untuk menyeberang disana daripada ketika mereka menyeberang di jalan malioboro.

Mari para segenap masyarakat jogja, kendarai kendaraan anda dengan sekaligus menghargai dan menghormati sesamanya, sesama pengguna jalan. Janganlah bersikap egois dan mau menang sendiri. Sudah cukup para pejabat – pejabat “aneh” yang melakukan itu. Kita para masyarakat kalangan non pejabat jangan meniru atau mencontoh mereka. Kita harus memberikan contoh yang lebih baik. Meskipun dari hal yang sederhana, kecil dan remeh seperti berbagi dan memberi kesempatan bagi para pengguna jalan lain. Ciptakan jogja berhati nyaman dan sekaligus aman bagi diri kita dan orang lain. Terima kasih.

Jogjakarta 9 juni 2010

Arkanhendra

    • mala
    • June 11th, 2010

    hadirr!

    siapa, siapa, yang mbeleyer tadi mas? tak bantu nyantet😀
    memang sebel kalo mereka yang ngelanggar kita tapi malah melotot seolah-olah kita yang salah (kompor mode on)

    tidak hanya teguran buat pengendara saja kayaknya mas, penyebrang juga tidak boleh seenaknya. saya pernah sukses menjatuhkan diri gara2 mereka plin-plan.😀

    mala, maka dari itu saya mengajak semua pengendara agar mau menghargai sesama pengguna jalan raya… paling ngga dari diri sendir dengan mencontohkan dan membiasakan untuk tertib mode ON … wkwkwk sok serius mode ON😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: