Siapa yg membawa Hatiku ?

Malam itu 4 orang terduduk dengan wajah serius, dan mata terfokus. Sejenak saling melirik dan mencurigai dengan penuh tanda tanya. Masing-masing dari kami saat itu mengharap kekuatan seperti Master Dedi Corbuzier untuk dapat menebak pikiran orang lain. Yah, sebuah kekuatan sederhana yg juga dapat membuat semua wanita bertekuk lutut, mengingat pikiran mereka yg sulit ditebak.

Sudah selama 1 jam kami saling terduduk dalam diam. Tidak satupun dari kami yg mengeluarkan suara. Meski dalam wajah yg optimis dan serius, kian lama kian menampakkan kegundahan. Kegundahan, karena kami tidak dapat membaca pikiran orang lain.

Namun pelan tapi pasti, suasana yg mencekam itu mulai pudar. Ketika setiap kartu demi kartu telah dibuka. Dan dengan cepat kami memperhitungkan segala kemungkinan. Memang dalam hal ini kemampuan otak kami diuji selain ketahanan mental dan psikis. Dengan cepat kami mulai menghitung dan mengira- ira. Langkah apa yg harus kami ambil, dan jalan mana yg harus kami tempuh. Singkatnya, sebesar apa resiko yg harus diambil atas pilihan yg kami pilih.

Sesaat apa yg kami alami mengingatkanku pada para jobseeker. Dimana kami tidak boleh asal-asalan dalam memilih dan memutuskan pekerjaan apa yg akan diambil. Kemampuan dalam menghadapi tekanan, dan analitis yg kuat tentunya akan menghantarkan pada sallary yg memuaskan.

Namun reward yg kami harap tidak setinggi para jobseeker itu, bukan sallary yg tinggi atau kekuasaan. Kami hanya berharap bahwa masing-masing diantara kami tidak harus berjalan sendiri mengelilingi kampung dengan berbekal senter seadanya.

Dalam permainan yg menggerogoti mental dan psikis malam itu, sehingga bagi para penderita jantung sungguh merupakan jalan tercepat menuju akhirat. Karena meski sudah tengah malam, tetap saja kondisi di cakruk tempat kami berkumpul sangat panas. Sudah menginjak 30 menit sejak permainan terakhir, tanpa kusadari aku hanya membutuhkan As Hati untuk menutup malam itu dengan kemenangan,sehingga aku akan terhindar dari tugas ronda. Memang kami sudah sepakat bahwa dari 5 permainan yg digelar, bila ada yg mengalami kekalahan lebih dari 2 kali maka seketika dia harus merapatkan jaket, dan mengalungkan sarung untuk berjalan menyusuri jalan-jalan perkampungan dengan bersenjatakan kayu rotan.

Mengingat aku sudah mengalami kekalahan 2 kali maka dalam permainan terakhir ini aku harus menang. Karena selain aku ada 2 orang lagi yg sudah mengantongi 2 kekalahan. Dan hanya As Hati lah yg mampu menyelamatkanku dari kewajiban berkeliling malam itu. Sampai secara tak sadar aku bertanya pada setiap dari mereka dalam hati. Dengan harapan mereka akan menjawab dengan jujur tanpa harus diembel-embeli dengan sumpah dibawah Al Quran seperti para menteri-menteri pemerintahan. Siapa yg membawa Hati ku?
————————————————————————————————————–

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: