“Hinakah aku ?”

Sebuah kisah dari daerah sukuh, karang anyar dengan TKP berada disebuah warung sederhana, dipinggir sebuah jalan, depan warung bakso. 

Kisah ini diceritakan oleh salah seorang teman yg sedang berada didaerah sukuh, karanganyar. Daerah tempat bersemayam sebuah candi yg orang sebut candi porno atau candi saru. Karena terdapat beberapa relik yg memperlihatkan “bagian2 sensitip manusia”. 


Ketika sedang dalam perjalanan pulang, karena rasa lapar dan haus 2 orang pasang manusia –karena yg satu laki2 dan yg satu perempuan– yg memiliki hobi yg sama , yaitu fotografi , sedang berteduh dan beristirahat disebuah warung makan. Saat sedang menanti pesanan, si perempuan yg sedang duduk dalam sebuah warung kecil, lengkap dengan etalase kecil yg mungil dikagetkan oleh kedatangan sepasang pria dan wanita paruh baya. 


Entah kenapa si perempuan –bernama Yu Pitri– merasa harus memperhatikan gerak-gerik pasangan itu. Apakah mereka pasangan teroris, atau mungkin artis yg sedang menyamar untuk menghindari para wartawan Yu Pitri ndak tau. 


Pasangan paruh baya itu berumur sekitar 50-60 tahunan. Yg pria berpenampilan rapi ala kakek2 beruban yg keren,  sedangkan yg wanita meski tidak tampak adanya uban namun menyiratkan ketimpangan penampilan yg kontras. Memang tidak terlalu terlihat berantakan, namun kesan yg ditangkap oleh Yu Pitri adalah jika si wanita itu istrinya maka hanya rasa kasihan yg mendasari hubungan mereka.


Beberapa keanehan terus dipantau –seperti john pantau– dan diamati oleh Yu Pitri. Seperti betapa sopan dan agak berkesan “tunduk dan patuh”nya si wanita terhadap si pria. Mulai dari saat memesan makanan, si wanita yg hanya diam dan menurut saja tanpa sedikitpun suara atau sepatah katapun, sampai saat memesan minuman. Hal tersebut membuat rasa penasaran Yu Pitri , apakah benar mereka itu suami istri ?? Jika benar , ko seperti ada yg salah ?? 


Diantara banyak keanehan dan tindakan yg ganjil yg mereka peragakan, ada satu moment dimana rasa penasaran berubah menjadi keterkejutan. Moment itu adalah disaat si pria telah memesan minum yg “hanya” satu gelas kecil teh hangat untuk mereka berdua . Apabila gelas tersebut diminum bersama oleh mereka berdua, maka bisa jadi moment aneh itu akan berubah menjadi “momen romantisme dalam kesederhanan. Namun yg terjadi sungguh diluar dugaan . Si Pria menge“ler”kan –dalam bahasa jawa berarti membagi– minuman teh hangat di alas gelas yg berbentuk seperti lepekan, dan memberikannya pada si wanita untuk diminum .Sedang si pria “hanya” minum dengan sisa air yg ada dalam gelas, yg tentunya hanya berkurang sedikit. 


Kejadian yg menurut Yu Pitri janggal itupun berakhir ketika pasangan paruh baya itu hendak pulang. Ketika beranjak kemotor hanya dengan tengokan kecil seperti acuh tak acuh, dan tanpa memberi kesan menunggu dari si pria, si wanitapun segera beranjak kemotor.  Benar2 ndak terlihat seperti pasangan suami istri , atau bahkan kakak beradik, mengingat si wanita yg tidak banyak bicara dan hanya menurut saja seperti “pembantu”. Bahkan cara bicaranya kepada si laki2 pun menggunakan bahasa krama alus,selayaknya berbicara dengan seorang Sultan. 

Apakah begini cara memperlakuan bagian tubuh kita meski itu hanya tulang rusuk ??
lalu beginikah perlakuan seorang laki-laki kepada wanita, 
hanya karena –mungkin– perbedaan status sosial ??

 “merupakan pertanyaan yg membutuhkan “hati” untuk menjawabnya”
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: