antara Artis, Wartawan, dan Indonesiaku

Beberapa waktu kemaren ngeliat berita-berita di tivi, sungguh terkagum-kagum. Bagaimana Seorang artis mengamuk di salah satu situs pertemanan di indonesia . Yang kemudian berdampak pada situs2 lainnya dengan beramai2 membuat grup penentang dan grup pendukung.
Permasalahan timbul setelah si artis merasa privasinya dilanggar ,dan si wartawan merasa dirinya dilecehkan dan tidak dianggap.
Sebenarnya sudah bukan hal baru ketika para artis merasa dirugikan oleh pihak wartawan karena kadang2 aksinya yang terlalu berlebihan dan cenderung ke mencari keburukan atau membuat buruk kejadian. Padahal yang seperti itu bukan wartawan , melainkan para papparazzi , atau pencari berita liar yang sangat mengganggu .
Ternyata papparazzi yang saya tahu hanya ada diluar negeri sudah sampai diindonesia.
—————————————————————————————————————————–
Setelah kasus tersebut ramai dibicarakan, ada beberapa coment yang saya baca dibeberapa blog sangat (maaf) tidak sopan . Meski mereka mengusung kebebasan berekspresi, kebebasan menyalurkan pendapat, namun ko saya merasa ada yang salah, ada yang kurang tepat ,ada yang mengganjal. Kemudian setelah melakukan ritual pemanggilan ilham saya melalui perenungan dan meditasi, akhirnya saya menemukan pernyataan tentang itu semua .
—————————————————————————————————————————–
Artis , mereka selalu dielu-elukan, selalu dibicarakan, selalu dianggap manusia dengan beribu talenta. Sedang disisi lain , wartawan, seorang pekerja kelas menengah (bahkan mungkin bawah) yang tidak pernah dipergunjingkan, dipandang sebelah mata, jarang dibicarakan, dan kadang hanya dianggap sebagai benalu di dalam kehidupan si artis . 2 hal yang sangat kontras .

Dalam pandangan seorang awam seperti saya , yang tidak mengetahui banyak tentang dua profesi itu. -mengingat saya tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi keduanya atau salah satunya-:mrgreen:
Antara artis dan wartawan sebenarnya hanyalah seperti 2 sisi mata uang, seperti yin dan yang , yang tidak akan pernah bersatu dan akan selalu bertabrakan dan saling menyeimbangkan . -meski tidak mungkin hanya ada salah satu-
Memang ada beberapa artis yang mengatakan banyak ko artis2 besar yang survive tanpa wartawan, ==> bagi saya itu sangat ironis , karena bayangkan jika tidak ada tivi , media informasi yang mau mempertayangkan hasil karya mereka, tidak ada wartawan yang mau membahas tentang mereka , otomatis tidak akan ada yang tahu siapa dia dan apa karyanya, kalau sudah begitu bagaimana mungkin dia dapat membagi karyanya terhadap orang lain?? Dengan berkelana keseluruh penjuru ??-apa bedanya dengan jaman purba?-
Lalu wartawan , jika tidak ada artis atau selebriti , apa yang harus mereka liput? apa yang harus mereka informasikan? apa yang harus mereka lakukan untuk mencari makan?? memberitakan cara bermasak? memberitakan cara bercocok tanam?? memberitakan sebuah informasi yang mungkin “tidak akan” dikonsumsi oleh para konsumen mereka?? Dan apakah salah mereka, ketika para konsumen mereka yang (maaf, sekali lagi) memberi mereka makan -secara tidak langsung- ,menginginkan suatu berita yang hiperbolis bahkan berkesan ngaco?? salahkah para wartawan? dan benarkah para artis? atau sebaliknya??
——————————————————————————————————————————-
Efek Lebay(hiperbolis) dan Over Freedom sepertinya sedang melanda Indonesia , dimana- mana orang berteriak, demokrasi !! HAM !! , berceramah tentang kebebasan , privasi yang dilanggar, dan menanggapi hampir semua hal dengan sikap hiperbolis. Dan anehnya banyak orang yang melakukan hal tersebut adalah orang2 yang berpendidikan. Mari kita runut kembali , permasalahan antara mantan pasien dan rumah sakit . Permasalahan saling tuduh dan saling fitnah yang melanda pejabat2 negara. bukankah kesemuanya itu hanya akibat dari hilangnya rasa saling menghargai, menghormati, teposliro, tenggang rasa, dan kejujuran. Yang kita tahu nilai2 itu adalah bagian dari pelajaran PPkn yang dulu kita pelajari waktu di bangku sekolah???

Dalam setiap permasalahan akan selalu ada kambing hitam, namun bagaimana jika kambing hitam itu adalah hasil rekaan kita sendiri, hasil produksi kita sendiri -bahkan mungkin diri kita sendiri- ,singkatnya, bukankah itu menjadikan kita pembuat kambing hitam atau induk dari kambing hitam ?? Maka apa bedanya kita dengan kambing hitam ??
Sangat ironis dan tragis sekali ketika kita beranggapan bahwa kita sudah bebas, namun ternyata hanya bias,… kita merasa merdeka namun tetap sengsara…

segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bahkan hal yang mulia sekalipun,akan menjadi tidak baik,..

  1. “Ada yg bilang, bangsa yg bodoh adalah bangsa yg gampang diprovokasi. Saya harap semua diam dan berfikir” (ngutip statusnya ariel, sih.. )

    *komenku masuk yang nggak sopan nggak ya??

    ketoknya sih ngga, tapi tetep , ngiklan !! haha2

    • mala
    • December 26th, 2009

    bwahahaha..
    bersukurlah karna saya lagi nyoba nglink postingan temen..😀
    dan kayaknya pilihan pingback itu nggak plu sy centang.

    hapusn.. isin😀

    ga mau…ga mau…. hwehehehehee…..

  1. December 26th, 2009
    Trackback from : katarsis » badil cerei!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: